Monday, 21 August, 2017 - 01:30

Dua Saksi Mengarah ke Tersangka Dugaan Malapraktik di RSU Anutapura

DUGAAN MALAPRAKTIK - Inilah gedung RS Anutapura Palu, tempat Nur Indah Restuwati menjalani operasi cesar dan akhirnya meninggal. (Foto : Dok)

Palu, Metrosulawesi.com – Penyidik Polda Sulteng terus melakukan penyelidikan kasus dugaan malapraktik di RS Anutapura, yang menyebabkan meninggalnya Nur Indah Restuwati. Hingga saat ini polisi sudah memeriksa sebanyak 20 saksi.
 
Kabid Humas Polda Sulteng, AKBP Hari Suprapto mengatakan, ke-20 saksi yang diperiksa itu adalah mereka yang mengetahui persis penanganan pasien atas nama Nur Indah. Mereka adalah perawat dan dokter yang menangani korban.

“Dan yang mengarah ke tersangka termasuk dokter yang menangani korban,” kata AKBP Hari kepada Metrosulawesi, Selasa 9 Mei.

AKBP Hari mengatakan, kasus dugaan malapraktik ini berawal ketika pada pagi hari, tanggal 15 Agustus 2016 lalu, pasien atas nama Nur Indah Restuwati masuk UGD Kebidanan untuk keperluan pemeriksaan kehamilan.

“Selanjutnya sekitar pukul 15.00 Wita pasien dipindah ke ruangan Merak untuk dilakukan perawatan atau observasi,” katanya.

Selanjutnya pada  16 Agustus 2016 sekitar pukul 09.00 Wita korban dimasukkan dalam ruangan operasi untuk menjalani operasi cesar oleh dr HE SpOG dan timnya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan USG RS Anutapura pada tanggal 8 Agustus 2016 oleh dr MA SpRed, saat itu kondisi kandungan pasien, plasenta menutupi jalan keluar janin. Karena itulah harus menjalani operasi cesar.

Setelah menjalani operasi cesar, korban kemudian dipindahkan ke ruang Observasi untuk penanganan lebih lanjut. Dan saat itu korban telah dilakukan operasi pengikatan kandungan karena korban telah melahirkan anak ketiga.

“Akan tetapi sekitar pukul 16.30 Wita, dengan alasan karena tensi korban kurang baik dan alat ruang ICU lebih lengkap, maka korban dipindahkan dari ruang Observasi ke ruang ICU RS Anutapura. Dan diketahui korban saat itu mengalami pendarahan hebat,” ujar AKBP Hari mengutip keterangan saksi.

Menurut pengakuan suami korban, Muhamad Ebtawan SH, sejak operasi hingga  menjalani perawatan di ruang ICU karena darurat hingga tak sadarkan diri, dr HE SpOG tidak melakukan pemeriksaan terhadap istrinya.

“Menurut suami korban istrinya hanya ditangani perawat di ruangan ICU, kowas dan asisten dokter spesialis,” kata AKBP Hari menirukan pernyataan saksi pelapor.

dr HE baru mendatangi ruang ICU dan melakukan pemeriksaan setelah suami korban bertanya kepada perawat. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 21.30. Padahal korban sudah tak sadarkan diri mulai pukul 17.14 Wita. Kala itu, dr HE mengatakan, korban mengalami pendarahan karena plasenta yang melekat pada dinding rahim.

Esok harinya pada Rabu, 17 Agustus 2016, sekitar pukul 06.45 Wita, korban dinyatakan meninggal. Saat itu, dr HE SpOG sama sekali tidak datang dan melihat kondiri terakhir korban. Belakangan, diketahui korban ternyata sudah menjalani kuret, tanpa sepengetahuan dan seizin pelapor sebagai suami korban.

“Saat ini pihak penyidik juga telah melakukan penyitaan barang bukti lainnya berupa bundle foto copy rekam medik korban, surat keputusan RSU Anutapura Palu, surat jaga penggantian jadwal jaga konsulen, rangkap surat PF. Radiologi Ultrasonografi atas nama korban. kemudian memeriksa 20 orang saksi dan dua orang diantaranya mengarah kepada tersangka,” jelas perwira yang dikenal akrab dengan awak media.


Editor : Syamsu Rizal

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.