Friday, 24 November, 2017 - 17:32

Ekonomi Sulteng Tumbuh 3,91 Persen

ILUSTRASI - Pertumbuhan ekonomi. (Foto : Google image)

Palu, Metrosulawesi.com - Ekonomi Sulawesi Tengah tumbuh 3,91 persen pada triwulan I-2017 jika dibanding triwulan I-2016 lalu (y-on-y). Pertumbuhan didukung oleh hampir semua lapangan usaha kecuali Konstruksi.

Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh pengadaan listrik dan gas sebesar 11,71 persen, diikuti jasa keuangan dan asuransi sebesar 11,49 persen, jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 7,63 persen.

Struktur Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulawesi Tengah menurut lapangan usaha atas dasar harga berlaku pada triwulan I-2017 tidak menunjukkan perubahan yang berarti dari periode sebelumnya, dimana Kategori Industri Pengolahan masuk dalam kategori dominan bersama pertanian, kehutanan dan perikanan, konstruksi, pertambangan dan penggalian dalam PDRB Sulawesi Tengah.

“Bila dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah triwulan I-2017, Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan memiliki sumber pertumbuhan tertinggi sebesar 1,16 persen, diikuti Pertambangan dan Penggalian sebesar 0,81 persen dan Industri pengolahan 0.72 persen. Konstruksi merupakan lapangan usaha yang memberikan andil pertumbuhan negatif pada periode ini dengan andil pertumbuhan terhadap total pertumbuhan PDRB sebesar -0,06 persen,” kata Kepala Bidang Neraca Wilayah Analisis Statistik BPS Sulawesi Tengah Sukadana Sufii, Jumat 5 Mei 2017 saat merilis data di kantornya.

Sementara pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah triwulan I-2017 terhadap triwulan IV-2016 diwarnai oleh turunnya produksi pertambangan nikel yang berimbas pula pada penurunan produksi industri pengolahan bijih logam (Nickel Pig Iron). Namun demikian, pertambangan gas dan industri pengolahannya (LNG) mengalami kenaikan produksi yang cukup tajam yang terindikasi dari nilai ekspor bahan bakar mineral yang mengalami kenaikan sebesar 14,06 persen.

Secara umum lapangan usaha pertambangan dan penggalian mengalami konstraksi sebesar -0,45 persen.

“Walaupun pertambangan dan penggalian mengalami kontraksi, kategori Industri Pengolahan yang ditopang oleh industri gas dan industri makanan dan minuman secara umum mengalami pertumbuhan sebesar 1,22 persen,” kata dia.

Kontraksi pada kategori pertambangan dan penggalian bersama dengan mayoritas kategori perekonomian yang lain menyebabkan perekonomian Sulawesi Tengah pada Triwulan I-2016 turun sebesar -0,09 persen.

Sementara itu, kategori pertanian, kehutanan, dan perikanan yang memiliki kontribusi terbesar dalam PDRB Sulawesi Tengah hanya tumbuh sebesar 0,53 persen, sehingga andilnya dalam pertumbuhan masih relatif kecil dan tidak mampu membuat perekonomian Sulawesi Tengah tumbuh positif pada Triwulan I-2017 dibandingkan dengan Triwulan IV-2016.

Dari sisi Pengeluaran, pertumbuhan ekonomi triwulan I-2017 terhadap triwulan I-2016 terjadi pada seluruh komponen kecuali konsumsi pemerintah dan PMTB. Pertumbuhan tertinggi dicapai komponen impor luar negeri barang dan jasa sebesar 81,34 persen, diikuti komponen ekspor luar negeri barang dan jasa sebesar 68,33 persen, dan komponen perubahan inventori sebesar 19,20 persen.

Tingginya pertumbuhan impor luar negeri barang dan jasa disebabkan oleh impor mesin-mesin yang mengalami pertumbuhan sebesar 126,91 persen, sedangkan ekspor luar negeri barang dan Jasa lebih disebabkan tingginya pertumbuhan ekspor LNG dan nikel yang masing-masing tumbuh sebesar 78,89 persen dan 158,18 persen.

Struktur PDRB Sulawesi Tengah menurut pengeluaran atas dasar harga berlaku triwulan I- 2017 tidak menunjukkan perubahan yang berarti. Aktivitas permintaan akhir masih didominasi oleh komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga yang mencakup lebih separuh dari PDRB Sulawesi Tengah.

Komponen lainnya yang memiliki peranan besar terhadap PDRB secara berturut-turut adalah pembentukan modal tetap bruto, ekspor luar negeri barang dan Jasa, pengeluaran konsumsi pemerintah, dan impor barang dan jasa. Sedangkan pengeluaran perubahan inventori dan konsumsi lembaga non profit rumah tangga (LNPRT) perannya relatif kecil.

“Bila dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah triwulan I-2017 (y-on-y), maka komponen ekspor luar negeri barang dan jasa merupakan komponen dengan sumber pertumbuhan tertinggi, yakni sebesar 8,58 persen, diikuti konsumsi rumah tangga sebesar 2,95 persen, sedangkan komponen impor luar negeri barang dan jasa sebesar 1,96 persen.”

Ekonomi Sulawesi Tengah triwulan I-2017 terhadap triwulan IV-2016 (q-to-q) juga mengalami kontraksi sebesar 0,09 persen, lebih tinggi dari nilai kontraksi nasional. Hal ini terutama disebabkan oleh kontraksi yang terjadi di komponen PMTB. Komponen PMTB mengalami kontraksi terbesar yaitu -16,44 persen diikuti konsumsi pemerintah, ekspor luar negeri barang dan jasa dan perubahan inventori yang mengalami kontraksi sebesar -10,10 persen, -0,61 persen dan -0,89 persen,” jelasnya.

Tingginya kontraksi komponen PMTB disebabkan oleh penanaman modal asing (PMA) yang mengalami kontraksi sebesar 21,33 persen.

Bila dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah triwulan I-2017 (q-to-q), maka komponen pembentukan modal tetap bruto merupakan komponen dengan sumber kontraksi tertinggi, yakni sebesar -7,27 persen, diikuti komponen konsumsi pemerintah sebesar -1,23 persen, sedangkan impor luar negeri barang dan jasa merupakan komponen dengan sumber pertumbuhan tertinggi yaitu sebesar 0,26 persen.

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.