Sunday, 25 June, 2017 - 20:20

Festival Teluk Mandar Digelar

TUMBUHKAN BUDAYA - Salah satu tarian yang ditampilkan dalam Festival Teluk Mandar. (Foto : Humas)

Majene, Metrosulawesi.com - Lekukan pesisir laut Mandar tidak hanya menjadi daya tarik yang uniq, namun juga menjadi nafas penghidupan masyarakat pesisir. di Teluk Mandar, kebudayaan pesisir tumbuh dan mengakar, namun pada akhirnya tak kuasa dengan terjangan  globalisasi, dan juga perubahan sosial masyarakat, yang satu persatu menanggalkan warisan pesisir Mandar. Festival Teluk Mandar tahun 2017 resmi dihelat (10/4/2017), telah memasuki tahun kedua. Event tersebut merupakan gerakan sekaligus upaya untuk mengembalikan kebudayaan pesisir, melestarikan dan menjadikanya warisan kepada generasi selanjutnya.

Salah satu kebudayaan pesisir yang telah lama ditinggalkan , diantaranya tradisi “mappande sasi’ “ atau sebuah ritual kebudayaan oleh para nelayan sebelum berlayar ke laut lepas. Dengan harapan agar, keberkahan hasil tangkapan juga keselamatan yang menyertai para nelayan Mandar.

“Kebudayaan pesisir kita memang mulai bergeser dulu para nelayan kita menangkap ikan dengan dengan menggunakan perlengkapan tradisional seperti buaro, tapi sekarang semua menginginkan yang instan, tapi dampaknya merusak biota laut, seperti mengebom ikan dan menggunakan racun potas,” jelas Ramli tim advokasi Walhi Sulbar, yang sesaat sebelum opening Festival Teluk Mandar ke II yang dipusatkan di taman kota, telah melakukan penyelaman disejumlah titik perairan teluk Mandar.

Ia juga menjelaskan kondisi teluk mandar yang di dalamnya penuh keajaiban. Salah satunya keberadaan habitat penyu. Hanya saja habitat hewan tersebut cukup terancam mengingat pembangunan yang tidak disertai pengkajian serius khususnya penempatan observasi penyu yang cocok. Selain itu kondisi terumbu karang 89 % tidak sehat lagi, sampah laut dan lainya juga memperparah kondisi teluk Mandar saat ini ”dengan kondisi laut Mandar saat ini, jangan sampai menghempaskan nurani kita sebagai pemilik teluk mandar, ini akan menjadi poin poin rekomendasi yang kami akan serahkan saat penutupan nanti “ pungkas Ramli.

Bupati Majene Fahmi Massiara yang membuka Festival Teluk Mandar ke II tersebut, memberikan apresiasi yang tinggi kepada para penggagas dan panitia acara. Meski hal tersebut bukan menjadi agenda resmi dari pemerintah daerah, festival tersebut memberikan dampak yang baik khususnya mendukung Majene disektor Pariwisata.

“Visi Majene itu memang menjadi sebuah kota pendidikan, tapi kita juga tidak ketinggalan disektor pariwisata, Majene memiliki banyak potensi yang harus di maksimalkan, di Tako ini kelak akan kami desain dengan baik, sehingga menjadi destinasi wisata yang nyaman di kunjungi, ada juga wisata alam anda bisa kunjungi Puawang atau Baruga, jadi memang cukup potensial,“ jelasnya.

Festival Teluk Mandar di gelar dari tanggal 10 – 13 Mei 2017. Sejumlah kegiatan yang akan mengisi festival tersebut diantaranya, seminar bahari,  donor darah, bersih- bersih pantai, penanaman mengrove dan beragam pertujukan seni tradisi dari berbagai komunitas, yang akan menjadi hiburan di taman kota setiap malam. (hms/mp)

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.