Sunday, 23 July, 2017 - 18:50

Forki Ancam Pidanakan Ketua KONI Sulteng Bila Tak Meminta Maaf

ILUSTRASI - Ketua Forki Sulawesi Tengah, Ahmad M Ali. (Grafis : Dok Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.com - Ketua Federasi Olahraga Karate-do Indonesia (Forki) Sulawesi Tengah Ahmad Ali menyatakan, keseriusannya akan memidanakan Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sulawesi Tengah Anwar Ponulele jika tidak melaksanakan somasi yang dilayangkan beberapa waktu lalu.

"Kalau somasi tidak dilaksanakan, maka Forki Sulteng akan melaporkan Ketua KONI Sulteng ke penegak hukum," tegas Ketua Forki Sulawesi Tengah Ahmad Ali, Senin 24 Oktober 2016.

Diketahui, Forki Sulteng melayangkan surat somasi tanggal 20 Oktober 2016 dan memberikan batas waktu lima hari sejak surat tersebut diterima. Namun, kata Ahmad Ali sampai siang kemarin somasi tersebut belum juga dilaksanakan.

Forki Sulteng melakukan somasi terhadap Ketua KONI Sulteng atas pernyataannya yang dimuat di salah satu koran harian di Palu. Anwar Ponulele dalam pernyataannya yang dimuat di koran tersebut menduga adanya permainan di balik kekalahan Alan.

Alan Nuary adalah atlet karate Sulawesi Tengah yang gagal meraih medali emas di PON XIX Jawa Barat. Atlet berbakat itu hanya mampu mempersembahkan perak setelah kalah di laga final. Atas kekalahan itu, oleh Ketua KONI Sulteng Anwar Ponulele menganggap akibat bermain mata.

“Kita baru merebut dua perak dan dua perunggu. Tapi seharusnya di cabor karate kita mengharapkan harus dapat emas. Kenapa saya katakan harus emas karena lawan-lawan sebelumnya itu dia sikat lima sampai enam kosong,” demikian pernyataan Anwar Ponulele di media yang dikutip oleh Forki Sulteng dalam surat somasinya.

Pada bagian lain dalam berita dikatakan, “Masa di final biar satu tendangan dan pukulan tidak masuk, ada apa sebenarnya, kok atlet dilarang nendang atau mukul itu apa, ada apa, hanya Tuhan yang tahu itu, mudah-mudahan tidak ada udang di balik batu.” Pernyataan inilah yang kemudian memicu protes keras dari Forki Sulteng.

Dalam somasi yang ditandatangani Sekretaris Umum Forki Sulteng,Yesiah Eri Tamalangi menyesalkan pernyataan tersebut karena meruntuhkan harkat dan martabat masyarakat karate, menistakan dedikasi dan kesungguhan atlet karate serta melenceng jauh dari komitmen KONI sebagai aparatur pemerintah yang membidangi pembinaan keolahragaan daerah.

“Bahwa seluruh kemampuan, semangat, dedikasi, sumber daya mandiri telah kami tunjukkan dalam rangkaian proses mengikuti PON XIX Jawa Barat, dimana kami sungguh harapkan adanya sebentuk reward atas prestasi yang kami capai dan Pemda/ KONI paling tidak sebentuk ucapan terima kasih, namun justru hinaan yang kami terims melalui ucapan verbal Bapak di muka umum yang dilansir di surat kabar/ cetak.” Demikian bunyi somasi tersebut.

Pada bagian akhir surat somasi tertanggal 20 Oktober 2016 itu dikemukakan tiga poin yang harus dilakukan oleh Anwar Ponulele. Pertama, meminta Anwar Ponulele meminta maaf kepada masyarakat karate di muka umum atas ucapan tersebut melalui tiga media cetak lokal Sulteng terkait pokok somasi. Kedua,  meminta Anwar Ponulele menyampaikan surat resmi permintaan maaf dari KONI Sulteng kepada Forki Sulteng sebagai Pengprov yang mengurus cabor karate.

Pada poin ketiga, memberikan waktu lima hari sejak surat somasi diterima dan jika tidak  dilaksanakan maka Forki Sulteng akan meningkatkan langkah somasi menjadi legal action yang memadai untuk pemenuhan hak nama baik atlet, masyarakat karate dan FORKI sebagai organisasi bernaung masyarakat karate.

Menurut Ahmad Ali, hanya permohonan maaf yang saat ini dinantikan oleh atlet, namun belum juga dipenuhi oleh Ketua KONI Sulteng. Tuntutan permohonan maaf itu karena pernyataan tersebut telah melukai perasaan atlet dan pengurus FORKI Sulteng yang telah berjuang meraih prestasi di PON XIX Jawa Barat.

Pihaknya menunggu iktikad baik dari Anwar Ponulele untuk meminta maaf. Jika tidak, tegas Ahmad Ali maka masalah ini akan berbuntut panjang hingga ke ranah hukum.

Dia juga menegaskan, pihaknya serius dalam masalah ini dan sebelum melayangkan somasi sudah berkonsultasi dengan penegak hukum mengenai pelanggaran yang dilakukan oleh Anwar Ponulele.

Selain akan melaporkan ke polisi, Ahmad Ali yang juga Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) NasDem Sulteng telah memerintahkan Fraksi NasDem di DPRD Sulteng agar mengevaluasi penggunaan anggaran KONI Sulteng.

Sementara itu, Ketua KONI Sulteng Anwar Ponulele yang coba ditemui siang kemarin terkait somasi tersebut tidak berada di kantornya. Sekretaris Umum KONI Sulteng Shafei Datupalinge yang ditemui enggan memberikan komentar terkait hal itu.

“Silakan langsung konfirmasi ke Ketua saja, kami tidak bisa memberikan keterangan soal itu. Kalau mau konfirmasi soal itu paling tepat Ketua yang menjawab,” kata Shafei Datupalinge, Senin 24 Oktober 2016.

“Tapi sekarang pak Ketua lagi tidak ada, lagi ikut rapat,” jelasnya singkat.

Menurut keterangan beberapa pegawai KONI Sulteng, Anwar Ponulele sedang mengikuti sebuah rapat di luar kantor. Sementara upaya konfirmasi melalui pesan singkat (SMS) ke nomor ponsel Anwar Ponulele, juga tidak berhasil. Beberapa kali dikirimkan pesan singkat, namun tidak berbalas.

Humas KONI Sulteng, Edison Ardiles yang diminta komentar juga tutup mulut.

“Silakan hubungi pak Ketua dan pak Sekretaris Umum,” tulis Edison Ardiles dalam pesan singkat.

Informasi yang diterima dari pegawai KONI Sulteng, rencananya, pagi ini, Selasa 25 Oktober 2016, KONI Sulteng akan menggelar rapat koordinasi dengan pengurus Forki Sulteng di kantor KONI Sulteng, Jalan Ahmad Dahlan, Palu. (zal/mil)


Editor : Udin Salim

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.