Monday, 27 February, 2017 - 10:48

FORKI Kecewa Sikap Ketua KONI Sulteng

ILUSTRASI - Ketua KONI Sulteng, Anwar Ponulele. (Grafis : Yudha/ Metrosulawesi)

“Seandainya Ketua KONI datang langsung ke GOR Sabuga ITB, baru tahu bagaimana perjuangan kami menghadapi banyaknya tekanan termasuk dari supporter,” - Erick Tamalagi, Sekretaris Umum FORKI Sulteng -

Palu, Metrosulawesi.com – FORKI Sulteng angkat bicara terkait komentar Ketua KONI Sulteng, Anwar Ponulele yang dipublis salah satu media. Di sana, Anwar menuding ada permainan ketika karateka Sulteng berlaga di PON XIX Jawa Barat, karena saat itu karateka Sulteng tidak berhasil meraih medali emas.

Manager Karate sekaligus Sekretaris Umum FORKI Sulteng, Erick Tamalagi dalam siaran persnya yang diterima Metrosulawesi, Kamis 29 September, mengatakan, pencapaian prestasi karateka Sulawesi Tengah dengan mempersembahkan 1 medali perak dan 2 medali perunggu di arena PON XIX Jawa Barat, ternyata tidak dihargai pihak KONI Sulawesi Tengah, tetapi malah dianggap bermain mata.

Erik megatakan, dalam sebuah pemberitaan di salah satu media 21 September, perjuangan karateka Alan Nuary yang kalah di final kelas -55 kg kumite putera, oleh Ketua KONI Sulteng dianggap akibat bermain mata.

“Kita baru merebut 2 medali perak dan 2 perunggu tapi seharusnya di cabor karate mengharapkan mendapat emas. Kenapa saya katakan harus emas, karena lawan-lawannya sebelumnya dia sikat 5 sampai 6 nol. Masa di final biar satu tendangan dan pukulan tidak masuk. Ada apa sebenarnya koq atlet dilarang nendang dan mukul?  Ada apa sebenarnya, hanya Tuhan yang tahu. Mudah-mudahan tidak ada udang dibalik batu,” kata Erick mengutip pernyataan Anwar yang dimuat dalam media itu.

“Pernyataan ini bagi kami FORKI Sulawesi Tengah adalah pernyataan yang mencerminkan ketidakmengertian Ketua KONI akan perjuangan karateka Sulawesi Tengah di arena PON XIX,” tulis Erick.

Erick menjelaskan, Alan untuk sampai di final harus berjuang keras mengalahkan karateka Jawa Barat dan DKI Jakarta, 3-2, dua kemenangan dramatis karena didapatkan Alan pada 3 detik terakhir. Di final Alan harus mengakui keunggulan karateka Sumatera Utara 6-0.

“Seandainya Ketua KONI datang langsung ke GOR Sabuga ITB, baru tahu bagaimana perjuangan kami menghadapi banyaknya tekanan termasuk dari supporter,” ujar Erick.

“Alan yang kecolongan wazaari (2 point) di detik-detik awal pertandingan berupaya mengejar ketinggalan poitnya dengan segala kemampuan. Pelatih Kristo yang berulang kali menginstruksikan mengeluarkan semua kemampuan Alan juga tidak dapat dilaksanakan dengan sempurna karena karateka Sumatera Utara mampu memotong serangan Alan maupun menjaga ritme pertandingan dengan melakukan serangan kontra setiap diserang,” jelas Erick.

“Dalam posisi seperti ini Alan kembali kecolongan wazaari karena memaksakan diri mengejar ketinggalan,” tambah Erick.

KONI kata Erick, seharusnya berterimakasih kepada FORKI Sulawesi Tengah yang melakukan pelatda mandiri sejak bulan Januari.

“Bahkan untuk melakukan try out ke sejumlah daerah sampai keluar negeri menggunakan dana sendiri. Termasuk dalam suplai vitamin berasal dari kantong sendiri karena vitamin yang disiapkan selama pelatda PON daerah kami anggap tidak akan mampu menjaga kondisi karateka untuk porsi latihan dan pertandingan sebenarnya,” jelas Erick.

“Pernyataan Ketua KONI Sulteng itu juga membuat karateka kami dibunuh karakternya. Siapa yang tidak ingin mempersembahkan yang terbaik buat Sulawesi Tengah. Apalagi prestasi di PON menjadi salah satu catatan PB FORKI dalam menjaring atlit bagi pertandingan-pertandingan membawa nama Indonesia,,” Erick.

Atas pernyataan Ketua KONI Sulteng itu katanya, pihaknya meminta klarifikasi Ketua KONI dan meminta maaf kepada masyarakat karate Sulewesi Tengah.

“Jika tidak, kami akan melakukan tindakan hukum atas pernyataannya,” Erick.

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.

Bintang Delapan