Saturday, 25 November, 2017 - 11:51

Gejolak di Tubuh Hanura Sulteng, Roda Partai Tidak Berjalan

Husin Alwi. (Foto : Dok Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.com - Konflik di tubuh DPD Partai Hanura Sulteng yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir ini, atau setelah Ketua DPD Hanura Sulteng Hadianto Rasyid mencopot jabatan Sekretaris DPD Hanura Sulteng Husin Alwi, mendapat perhatian serius para pendiri Hanura.

Salah satu pendiri Hanura Sulteng yang juga mantan Sekretaris DPD Hanura Sulteng, Ivan Manoarfa mengaku prihatin melihat gejolak di tubuh Partai Hanura Sulteng, terutama dikepemimpinan Hadianto dengan memecat secara sepihak jabatan sekretaris.

Menurutnya, sebagai Ketua, Hadianto harusnya menempuh jalur komunikasi bila mendapat info sepihak tentang sekretaris. Jangan melakukan langkah yang justru merugikan partai. Apalagi saat ini partai sedang-sibuk-sibuknya menghadapi pemilu.

"Saya sebagai salah satu kader Hanura terus terang merasa prihatin dengan kondisi yang terjadi saat ini ditubuh Hanura. Harusnya Hanura saat ini  lebih solid ketika berada di bawah kepemimpinan para pemuda," katanya kepada Metrosulawesi, Kamis 24 November 2016.

Akibat pemecatan secara sepihak terhadap jabatan sekretaris itu menyebabkan Hanura tidak solid. Bahayanya, ini dapat berimbas pada suara Hanura saat pemilu 2019 nanti.

"Bagaimana mengurus partai kalau kader di dalam berkonflik, tidak akan bisa efektif untuk memenangkan pemilu 2019, kalau saya lihat kondisi ini tidak segera diselesaikan," ujarnya.

Akibat pemecatan sepihak jabatan sekretaris itu, maka kata Ivan, dapat mempengaruhi jalannya organisasi partai. Sebab, saat ini tandatangan sekretaris yang definitif dibutuhkan untuk urusan ferivikassi dan urusan kepartaian lainnya jelang pemilu 2019.

"Bisa dikatakan organisasi partai Hanura Sulteng tidak berjalan jika sekretaris tidak difungsikan. Sebab, sekretaris di SK-kan bersama Ketua DPD oleh DPP. Sehingga persoalan surat menyurat tidak bisa dilakukan oleh Plt Sekretaris," sambungnya.

Untuk itu, Ia meminta Ketua DPD Hadianto untuk membuka kembali komunikasi dengan sekretaris. Termasuk untuk bicara kepada publik menjelaskan pokok masalah konflik keduanya.

"Jika tidak ada konflik, pak ketua juga bisa terangkan kepada publik, agar tidak jadi bola liar yang bisa merusak organisasi partai," tutupnya.

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.