Friday, 24 November, 2017 - 22:32

GKS 1.000 AHB Target 13.000 Anak Putus Sekolah

TABUH GIMBAH - Mendikbud RI Prof Muhadjir Effendy didampingi Gubernur Sulteng H Longki Djanggola dan undangan lain menabuh gimba disaksikan Kepala Dinas Pendidikan Sulteng Irwan Lahace sebagai tanda pencanangan GKS 1.000 AHB, Minggu, 26 Maret 2017. (Foto : Michael Simanjuntak/ Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.com - Mendikbud RI Prof Muhadjir Effendy mencanangkan Gerakan Kembali Sekolah (GKS) 1.000 Anak Harapan Bangsa (AHB) Sulawesi Tengah di Lapangan Pogombo Kantor Gubernur Sulteng, Minggu 26 Maret 2017. Gerakan ini menargetkan 13.000 anak putus sekolah (APS) untuk kembali disekolahkan.

Muhadjir pada kesempatan itu mengatakan, meningkatkan Indeks pembangunan manusia (IPM) khususnya di Sulawesi Tengah, menjadi alasan utama mendukung program tersebut. Apalagi menurut Muhadjir, salah satu program utama edukasi pemerintahan Joko Widodo lewat kabinet kerja saat ini, meningkatkan keterampilan siswa/i untuk terjun ke dunia kerja.

“Karena hanya dengan meningkatkan keterampilan atau kemampuan siswa/i-lah harapan kita bisa bersaing dengan bangsa lain. Tentu dengan cara menyiapkan mereka yang sedang berada dibangku sekolah. Paling tidak, mampu bersaing dilevel ASEAN,” ujar Mendikbud saat pencanangan gerakan itu.

Menurut menteri, Indonesia tengah memasuki bonus demografi, diperkirakan hingga pada 2030-2035 sebagian besar penduduk negara ini berada pada usia produktif antara 16-63 tahun. Sementara untuk usia kurang atau lebih dari 16-63 tahun dikategorikan penduduk tidak produktif atau konsumtif. GKS 1.000 AHB dinilai menjadi bagian penting mempersiapkan SDM yang benar-benar produktif menghadapi bonus demografi itu.

“Jadi perbandingannya antara usia produktif dan konsumtif pada puncak bonus demografi empat banding satu atau setidaknya tiga banding satu. Artinya setiap ada empat orang penduduk, maka tiga orang dari antaranya harus bisa atau mampu bekerja. Jadi yang satunya lagi harus ditanggung oleh yang bekerja tadi, itulah yang disebut bunus demografi,” tuturnya.

Dari situ, Muhadjir memandang sangat perlu dan suatu keharusan menyiapkan generasi muda yang menjadi AHB. Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dimintanya untuk bekerja keras meningkatkan kemampuan sekolah menyiapkan lulusan yang siap bersaing, termasuk untuk merekrut APS.

GKS 1.000 AHB katanya, harus dikawal benar-benar bisa mengembalikan APS untuk bisa mengecam pendidikan. Salah satunya lewat Sekolah Menegah Kejuruan (SMK) yang menjadi kiblat GKS 1.000 AHB.

“Saya mendorong gubernur dan kepala-kepala dinas pendidikan agar di Sulawesi Tengah zero drop out atau nol putus sekolah,” tandas Guru besar Universitas Negeri Malang itu.

Inisiator GKS 1.000 AHB Zalzumida menerangkan, dari data BPS untuk APS usia 15-21 tahun di Sulawesi Tengah mencapai 13.000 lebih. Sehingga ditargetkan hingga tahun 2021, gerakan itu akan merekrut APS tersebut sehingga di Sulteng bisa terwujud zero drop out (nol putus sekolah).

“Sekarang yang sudah kita rekrut 1.117 anak putus sekolah, diperkirakan Juni mendatang menjadi 3.000 anak. Setiap tahun tidak akan putus perekrutannya,” terang Zalzumida.

Ditambahkannya, untuk mendukung program ini telah dilakukan kesepakatan bersama dengan 17 Organisasi Perangkat Daerah (OPD) provinsi. Langkah itu sekaligus implementasi Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi SMK dalam rangka peningkatan kualitas dan daya saing sumber daya manusia.Para OPD berkewajiban menggerakkan dan mensosialisasikan ke masyarakat, agar anak-anaknya yang berusia 15-21 tahun bisa melanjutkan pendidikannya.

“Jadi MoU itu bentuk dukungan OPD terhadap anak putus sekolah melalui GKS 1000 AHB,” ucapnya.

Sementara itu, Gubernur Sulteng H Longki Djanggola mengungkapkan GKS 100 AHB berawal dari kepedulian para pemangku kepentingan terutama Hj Zalzumida A Djanggola atas rendahnya Angka Partisipasi Kasar (APK) usia sekolah 15-21 tahun di Sulteng.

Menurutnya dia, rentang usia tersebut semestinya dapat digunakan untuk menyiapkan mereka menjadi tenaga produktif yang terampil dan berdaya saing di jenjang pendidikan menengah. 

"Indeks Pembangunan Manusia Sulteng sebesar 66,76 persen. Artinya masih di bawah rata-rata nasional," sebut Longki.

Menurut Data Pokok Pendidikan (Dapodik) tahun 2016/2017 dari Pusat Data Statistik Pendidikan dan Kebudayaan, untuk Provinsi Sulawesi Tengah, tercatat anak putus sekolah untuk jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) sebanyak 404 siswa, sementara untuk SMK sebanyak 560 siswa.

Sedangkan APK keseluruhan untuk sekolah menengah sederajat di Sulteng sebesar 81,98 persen, dan Angka Partisipasi Murni (APM) 61,24 persen. Dengan catatan dari 13 kabupaten dan kota di Sulteng, Kabupaten Morowali memiliki baik APK dan APM tertinggi di Provinsi Sulawesi Tengah yaitu 110,30 untuk APK dan 83,86 untuk APM.

“Dari kondisi tersebut, tergeraklah hati seorang perempuan yang berhati mulia Ibu Hj Zalzulmida A Djanggola, yang juga Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Sulawesi Tengah yang menggagas sebuah ide agar anak putus sekolah maupun mereka yang tidak melanjutkan pendidikan kejenjang pendidikan menengah dapat kembali masuk bersekolah,” tutur Longki.

Longki berharap, program GKS 1.000 AHB dapat menurunkan APS di Sulteng dengan target peningkatan APK pada pendidikan menengah khususnya pada jenjang SMK. GKS 1.000 AHB dirancang untuk memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan yang memberi keterampilan pada peserta didik.

“Sehingga kelak di akhir periode pemerintahan saya, Insya Allah tidak ada lagi anak harapan bangsa yang tidak bersekolah di Sulawesi Tengah atau zero usia 15 sampai 21 tahun yang tidak bersekolah,” pungkas gubernur.


Editor : Udin Salim

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.