Saturday, 18 August, 2018 - 20:13

Gubernur Dorong Petani Jual Beras ke Bulog

Gubernur Sulteng, H Longki Djanggola. (Foto : Dok Metrosulawesi/ Eddy)

Palu, Metrosulawesi.com - Gubernur Sulteng H Longki Djanggola meminta bupati di daerahnya agar mendorong petani menjual beras minimal 10-15 persen dari hasil panen ke Bulog. Permintaan ini disampaikan Longki saat rapat kerja daerah evaluasi dan pemantapan upsus peningkatan produksi pajala, bawang merah-aneka cabe (babe) dan sapi indukan wajib bunting (siwab) di Ruang Polibu Kantor Gubernur Sulteng, pada Selasa, 7 Februari 2017.

“Bupati harus mendorong petani kita menjual beras hasil produksi panennya ke Bulog untuk mewujudkan ketahanan pangan,” kata Longki.

Menurut dia, kondisi ketahanan pangan Sulawesi Tengah khususnya beras, sejak lima tahun terakhir mengalami surplus antara 165-209 ribu ton. Namun surplus beras  tersebut, sebagian besar diperdagangkan antar daerah dan antar pulau, seperti ke Propinsi Gorontalo, Maluku Utara, Balikpapan dan sebagainya.

“Jadi bupati/wali kota agar berkoordinasi dengan Bulog untuk bersama-sama melakukan upaya-upaya pencapaian target serap gabah, antara lain mengawal kebijakan gubernur tentang pembatasan beras keluar Provinsi Sulawesi Tengah, dan kewajiban petani menjual ke Bulog sebesar 10-15 persen dari produksinya,” ujarnya.

Gubernur menekankan, sektor pangan merupakan kewajiban dan urusan bersama antara pemerintah pusat dan daerah dalam hal ini Pemprov dan Pemkab/Pemkot.

“Saya juga meminta maaf karena daya serap Bulog kita tahun kemaren rendah, tapi bisa dimaklumi itu karena memang harga HPP Bulog kita sangat rendah, mungkin itu yang membuat petani juga enggan menjual berasnya ke Bulog. Nah disinlah peran para bupati agar memberikan pengertian kepetani, karena pemerintah sudah memberikan berbagai bantuan untuk pertanian mereka,” tutur gubernur.

Secara khusus, gubernur meminta peran bupati dari beberapa daerah yang menjadi lumbung penghasil berhasil di Sulteng seperti Kabupaten Donggala, Parigi Moutong, Sigi, Banggai dan Morowali.

“Alhamdulillah, saya menerima laporan stok beras kita masih cukup sampai empat bulan kedepan. Tapi dengan begitu jangan justru membuat petani menjual berasnya keluar, karena jangan nanti ada bencana yang tidak diminta-minta, kita jadi keteteran mencari beras, padahal kita surflus untuk kebutuhan daerah. Karena akan menjadi lucu, daerah kita surflus produksi beras tapi kekurangan stok,” tandas Longki.


Editor : M Yusuf BJ