Sunday, 22 July, 2018 - 03:03

Gubernur: Teknologi Supra Intensif Skala Rakyat Terbukti Tingkatkan Produktivitas Udang

PANEN PERDANA - Gubernur H Longki Djanggola mendapat kehormatan melakukan panen perdana teknologi supra intensif skala rakyat budidaya udang vaname di BBIP Kampal Instalasi Mamboro, Kota Palu, Selasa, 15 Mei 2018. (Foto: Humas Pemprov)

Teknologi supra intensif skala rakyat budidaya udang vaname yang diluncurkan pada Februari 2018 lalu kini panen perdana. Gubernur H Longki Djanggola mendapat kehormatan melakukan panen perdana di Balai Benih Ikan Payau (BBIP) Kampal Instalasi Mamboro, Kota Palu, Selasa, 15 Mei 2018.

GUBERNUR dalam kesempatannya mengapresiasi penerapan teknologi supra intensif skala rakyat yang dimotori oleh Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sulteng dibawah kepemimpinan Hasanuddin Atjo.

“Baru saja kita menyaksikan hasil penerapan teknologi budidaya udang supra intensif. Teknologi ini telah terbukti meningkatkan produktivitas udang dari sekitar 15 ton/ha/siklus menjadi 153 ton/ha/siklus. Bahkan saat ini, produktifitasnya mencapai 200 ton/ha/siklus,” ujar gubernur.

Gubernur menuturkan, keunggulan teknologi tersebut memiliki banyak keuntungan yakni tidak memerlukan lokasi yang luas, konstruksi mudah dibuat, biaya investasi dan operasional relativ murah, termasuk sarana produksi dengan total investasi hanya sekitar Rp82,5 juta.

“Biaya operasional selama 4 bulan sekitar Rp38 juta, sehingga pendapatan bersih yang diperoleh berkisar Rp55 juta,” tutur gubernur.

Teknologi supra intensif skala rakyat sendiri telah banyak diminati berbagai daerah, apalagi saat peluncuran teknologi ini disaksikan rombongan anggota DPR RI Komisi IV yang tengah melakukan kunjungan kerja di Sulteng.
 
Kepala DKP Hasanuddin saat peluncuran mengklaim teknologi supra intensif skala rakyat merupakan yang pertamakali di Indonesia. Masyarakat yang berminat memanfaatkan peluang usaha ini bisa meraup keuntungan mencapai Rp22 juta lebih. Nominal keuntungan tersebut dari estimasi panen 600 kg dalam waktu tiga bulan dengan harga rata-rata Rp70.000/kg dikurangi biaya operasional sekitar Rp19 juta. Tentulah perhitungan itu diluar pembangunan sarana budidaya yang mencapai Rp30 juta.

Pembangunan sarana budidaya dengan motode rekayasa kontruksi yang membutuhkan biaya Rp30 juta rinciannya untuk keperluan konstruksi besi, terpal, lantai, instalasi air dan aerasi Rp20 juta. Kemudian pompa alkon dan aerator Rp10 juta.

“Teknologi ini murah, semua bisa memanfaatkan, termasuk teman-teman wartawan agar punya aktifitas lain,” ujarnya.

DKP saat ini membangun dua tambak teknologi supra intensif skala rakyat berbentuk lingkaran menggunakan terpal. Tambak itu menjadi percontohan bagi masyarakat yang ingin serius mengembangkan usaha udang vaname.

“Segmen teknologi mederen ini memang untuk semua masyarakat karena kalau tambak beton butuh investasi besar,” tandas Hasanuddin.

Gubernur Longki saat melakukan panen perdana didampingi sejumlah pejabat diantaranya Sekertaris Daerah Provinsi Sulteng Mohamad Hidayat Lamakarate, Kepala DKP Hasanuddin Atjo dan Kepala Biro Humas Protokol Setdaprov Sulteng Haris Kariming. Panen perdana yang dilakukan merupakan rangkaian HUT ke-45 Himpunan Kerukunan Tani (HKTI) tingkat Provinsi Sulawesi Tengah.   


Editor: Udin Salim