Tuesday, 21 August, 2018 - 06:22

Gubuk Penarik Becak Memprihatinkan

Kondisi gubuk Syamsudin dan Mino warga Kelurahan Maleni, Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala. (Foto: Basrudin/ Metrosulawesi)

Donggala, Metrosulawesi.com - Syamsudin dan Mino, pasangan suami istri (pasutri) berusia lanjut yang memiliki tiga anak ini harus rela mengisi masa tuanya di gubuk sempit berdinding  pelepah daun sagu (gaba gaba) dan beratap daun sagu. Puluhan tahun dirinya bersama keluarga kecilnya  tinggal di gubuk yang sangat tidak layak ini, namun kondisi pasangan tersebut seolah luput dari perhatian.

Syamsudin dan Mino ini pasutri warga Kelurahan Maleni, Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala. Masa tua keduanya dihabiskan dengan kondisi perekonomian yang memprihatinkan. Sehari harinya Syamsudin yang hanya seorang buruh tani Dan  juga menjadi penarik becak dengan penghasilan tidak seberapa untuk memenuhi kebutuhan keluarga kecilnya. Sementara istrinya( Mino) tidak berpenghasilan. Perempuan asal Gorontalo ini sehari-hari hanya berada di rumah merawat cucunya yang masih kecil.

Mino mengaku, sudah lama gubuk mereka di data oleh pemerintah Kelurahan untuk mendapatkan program bedah rumah. Namun hingga kini, program tersebut tak jua kunjung tiba.Lanjut ia mengatakan  Gubuk ini sudah sering kali di foto.

‘’Bahkan kami pernah dimintai uang 50 ribu rupiah, tapi saya tidak beri. Sampai sekarang gubuk kami tak kunjung di perbaiki. Kami hanya bisa bersabar,” ujar Mino di temui di gubuknya.

Pasutri ini adalah segelintir warga miskin yang belum mendapat perhatian dari pemerintah Kabupaten Donggala. Mino berharap, gubungnya bisa secepatnya mendapat bedah rumah, agar dia, suami dan cucunya bisa mengisi hari tua di rumah yang layak huni.