Tuesday, 22 August, 2017 - 00:07

Gula dan Migor Masih di Atas HET, Peritel di Palu Beralasan Stok Lama

Dirjen PKTN Kementerian Perindustrian dan Perdagangan, Syahrul Mamma bersama Direktur Tertib Niaga Inayat Iman saat memantau sejumlah peritel modern di Kota Palu, Selasa 18 April 2017. (Foto : Tahmil Burhanudin/ Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.com - Sejumlah peritel modern di Kota Palu, Sulawesi Tengah, belum melaksanakan program pemerintah terkait penetapan harga eceran tertinggi (HET) komoditas gula pasir, minyak goreng (migor) kemasan, dan daging beku. Alasannya antara lain karena masih menjual stok lama yang dibeli dengan harga tinggi, serta masih tingginya harga dari pihak distributor.

Padahal, sejak 10 April 2017 lalu pemerintah sudah menetapkan peraturan agar seluruh peritel modern harus menjual komoditas gula pasir seharga Rp 12.500 per kilogram, minyak goreng kemasan Rp 11.000 per liter, dan daging beku Rp 80.000 per kilogram. Program ini berlaku secara nasional, termasuk di Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Bahkan untuk memantau pelaksanaan program itu Direktorat Jenderal (Dirjen) Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga (PKTN) Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Syahrul Mamma bersama Direktur Tertib Niaga Inayat Iman datang langsung memantau ke sejumlah peritel modern di Kota Palu. Bahkan, pihak Kementerian Perindustrian dan Perdagangan itu melakukan rapat koordinasi bersama seluruh peritel dan distributor di Sulawesi Tengah, Selasa 18 April 2017.

Hingga kemarin, di Kota Palu sebagian besar peritel modern masih menjual komoditas tersebut dengan harga rata-rata di atas HET yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Berdasarkan pantauan Metrosulawesi, harga rata-rata gula pasir dan minyak goreng kemasan di sejumlah peritel seperti di Bumi Nyiur Swalayan (BNS), Palu Mitra Utama (PMU), Ramayana, dan Grand Hero masih di atas HET.

Misalnya di BNS, harga gula pasir per kilogramnya masih dia atas HET bahkan ada yang seharga Rp 19.600 tergantung brand gula pasirnya, di PMU gula pasir harganya juga rata-rata masih di atas HET ada yang sekitaran Rp 15.500 per kilogram. Di Grand Hero gula pasir juga masih di atas HET, bahkan ada yang mencapai Rp 19.350 per kilogram, namun untuk gula pasir lokal sudah dijual seharga Rp 12.500 per kilogram sesuai HET yang ditetapkan pemerintah. Sementara di ritel Ramayana sudah menjual gula pasir dengan mengikut HET yang ditetapakn pemerintah.

Untuk harga minyak goreng, di BNS masih dijual seharga Rp 14.000 hingga 16.000 per liter, di PMU minyak goreng dijual seharga 13.300, ada pula yang seharga Rp 15.500 tergantung mereknya. Di Ramayana minyak goreng masih ada yang dijual seharga Rp 17.000, dan di Grand Hero ada yang seharga Rp 13.000 dan ada pula seharga Rp 16.000 per liternya.

Sementara untuk komoditas daging beku, rata-rata peritel itu belum punya stok. Namun pihak peritel siap untuk menyediakan stok daging beku sesuai arahan pemerintah.

Pihak peritel sendiri mengaku masih menjual komoditas yang telah ditetapkan dengan harga di atas HET karena sejumlah kendala. Misalnya pihak BNS, peritel yang berpusat di Jalan S Parman, Palu itu, masih menjula stok lama.

“Pasti itu ya, kita mendukung peraturan pemerintah. Cuma, kendala di lapangan kan ada yang kita temui. Jadi sekarang seperti gula, terus terang BNS masih jual bukan seperti anjuran pemerintah karena saya masih punya stok lama yang tidak mungkin saya jual dengan harga Rp 12.500,” ungkap Store Manager BNS Pusat Herman kepada Metrosulawesi, Selasa 18 April 2017.

Terkait hal ini, Ia mengaku belum punya solusi, jika dijual dengan harga sesuai HET yang ditetapkan pihaknya akan merugi karena telah membeli dengan modal lebih tinggi dari HET yang ditetapkan.

Selain itu, ia juga mengaku pihak distributor yang menjadi mitra BNS belum memberikan harga baru sesuai dengan harga jual HET yang ditetapkan pemerintah.

“Soal itu, beberapa distributor kemarin sampai tadi pagi kami coba tanya mereka juga belum punya harga baru, saya punya kebijakan untuk menghabiskan dulu saya punya stok sambil menunggu, mudah-mudahan dari distributor sudah ada harga baru karena sudah ada rapat koordinasi tadi, sama ada pasokan untuk kita yang harga sesuai HET, otomatis mereka (distributor) harus kasi harga ke kita di bawah harga modal yang sekarang ini,” katanya.

Sejak diluncurkan pada awal pekan lalu dua peritel besar yakni Hypermart dan Transmart sudah mulai memberlakukan harga sesuai HET, berdasarkan pantauan Metrosulawesi saat Dirjen PKTN melakukan pantauan di dua ritel besar itu harga ketiga komoditas sudah sesuai HET.

“Kita tidak bisa samakan dengan peritel nasional, mereka ambil dalam bentuk banyak, mereka jual dalam bentuk banyak, mereka punya posisi tawar dengan distributor, malah dengan pabrik mungkin, nah kita?,” ujar Herman membandingkan pihak ritel lokal dengan ritel nasional yang sudah mengikuti arahan pemerintah itu.

Selain masih banyaknya stok lama dan harga dari pihak distributor yang masih tinggi, ia juga menyebut kendala lain pihaknya harus memutar otak mencari solusi agar bisa menjual ketiga komoditas tersebut sesuai HET, ia juga harus memikirkan coast untuk pekerja yang harus melakukan pengemasan, khususnya gula pasir dan minyak goreng.

“Nah untuk nimbang-nimbang saya butuh karyawan, belum lagi biaya untuk distribusi ke BNS cabang, itu juga butuh biaya,” sebut dia.

“Nah, kendala-kendala semacam ini yang saya mau cari solusinya bagaimana, kedengarannya kita untung, kalau peritel nasional yang jual hingga ton-ton ya untung, nah kita yang lokal?.”

Dia mengakui, saat Dirjen PKTN bersama rombongan melakukan pemantauan harga di BNS, pihaknya mendapatkan teguran karena belum melaksanakan peraturan tersebut.

“Tadi saya diberi teguran sama Perindagkop, ya kita terima. Karena apa, kita juga punya tujuan satu tetap kita akan ikuti, tetap kita akan dukung HET ini untuk menjaga inflasi selama Puasa-Lebaran,” kata Herman.

Ia mengaku dalam waktu dekat pihaknya akan melaksanakan program penetapan satu harga untuk gula pasir, minyak goreng dan daging beku tersebut.

“Tapi saya harus habiskan stok dulu. Saya terus terang sudah rugi pak, karena saya belum dapat harga baru saya masih jual harga lama sementara yang lain sudah jual harga baru. Tapi saya (kalau mau jual harga baru) dobel-dobel ruginya,” ujarnya.

“Kita tidak akan menolak program pemerintah, kami akan dukung.”

Menurutnya, hingga kemarin stok gula pasir di gudang BNS masih sekitar 60-70 sak  atau sekitar sekitar 3 sampai 4 ton. Untuk menghabiskan stok itu pihaknya butuh waktu sekitar seminggu bahkan hingga 10 hari.

“Sekarang kita tunggu suplainya distributor, mudah-mudahan Bulog juga bisa mensuplai,” kata dia sembari berharap ada supalai dari pihak distributor dengan harga baru yang sesuai dengan program pemerintah.

Sementara itu, pihak Grand Hero juga mengaku belum memberlakukan HET untuk ketiga komoditas itu.

Supervisor Grand Hero Radi Jolimpat mengaku hingga kemarin ia belum mendapatkan arahan dari atasannya untuk menjalankan program itu.

“Kita belum tahu, belum ada arahan dari Manager, mungkin satu-dua hari ini akan ada (arahan untuk pemberlakuan HET),” jelasnya singkat.

Sementara itu, Dirjen PKTN Syahrul Mamma memastikan pihaknya akan memberikan sanksi bagi pihak peritel maupun distributor yang tidak menjalankan program tersebut. Pihak peritel bisa dianggap kartel jika tidak menjalankan program ini.

“Distributorkan harus mendaftar, jadi nanti kita lihat apakah distributor yang memainkan apa masyarakat, kalau umpama distributor yang bermain kita cabut izinnya dan tidak boleh berdagang lagi.”


Editor : Udin Salim

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.