Sunday, 25 June, 2017 - 23:52

Guru Honorer SMAN 4 Palu Kembali Mengajar

Kepala SMA Negeri 4 Palu, Syam Zaini. (Foto : Dok Metrosulawesi/ Moh Fadel)

Palu, Metrosulawesi.com - Keputusan pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dalam mengambil kebijakan terkait guru honorer belum keluar, namun SMA Negeri 4 Palu, telah memanggil guru dan tenaga kependidikan honorer untuk masuk bekerja di sekolah kembali.

Kepala SMA Negeri 4 Palu, Syam Zaini, mengaku telah memanggil para guru dan tenaga kependidikan honorer, untuk kembali mengajar dan bekerja di sekolahnya, sejak Kamis 19 januari 2017.

“Hari ini (Kamis 19 Januari 2017-red), Alhamdulillah saya sudah memanggil kembali guru-guru honor dan tenaga kependidikan, saya beri penjelasan kepada mereka, walaupun belum ada edaran resmi, tapi Insya Allah akan segera ada,” jelas Syam Zaini.

Syam Zaini menerangkan, pihaknya bersama PGRI Sulteng, bersama dengan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sulteng, telah melakukan audiens dengan Komisi IV DPRD Sulteng, pada Selasa 17 Januari 2017.

“Setelah audiens, Komisi IV akan laporkan kepada Ketua DPRD, lalu mereka akan mengusulkan ke Pemprov untuk membuat Peraturan Gubernur (Pergub). Tetapi akan didahului surat edaran untuk meyakinkan supaya kepala-kepala sekolah punya pegangan,” lanjut Syam Zaini.

Syam Zaini mengaku sangat berterima kasih kepada Pemprov Sulteng, baik Gubernur Sulteng maupun Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Daerah Sulteng, yang menunjukkan respon dan perhatian yang tinggi, terhadap nasib para tenaga honorer di sekolah.

“Kami bersama guru-guru honorer, sangat berterima kasih dan memberikan apresiasi kepada Pak Gubernur dan Kepala Dinas Pendidikan, juga kepada Komisi IV, yang sangat respon dan memahami hal ini, serta memperjuangkan sekolah-sekolah untuk mendapat kepastian,” tandas Syam Zaini.

Sementara itu saat dikonfirmasi Komisi IV DPRD Sulteng Ibrahim A Hafid mengaku memang betul pihak PGRI dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sulteng serta jajarannya, mendatangi komisi IV untuk melakukan audiens.

“Sebenarnya satu saja yang mereka mintakan ke kami untuk disampaikan ke Ketua DPRD dan ke Gubernur, yaitu harus ada keluar kebijakan pemerintah daerah, berkaitan dengan soal pengelolaan sekolah, yang memfasilitasi pengangaran guru honorer,” katanya.

Kata dia, dalam pertemuan yang berlangsung di komisi IV, menghasilkan pembahasan dengan salah satu cara Pemprov harus mengeluarkan kebijakan, untuk mengatur tentang bagaimana guru-guru honorer mendapatkan insentif.

“Sehingga ada dua cara yang perlu dilakukan, pertama bisa juga mengunakan anggaran daerah, APBD atau misalnya secara otonom sekolah untuk bisa mengelola bantuan atau sumbangan dari pihak-pihak lain yang tidak terikat dan tidak dipaksakan secara suka rela, jadi ada sumbangan secara suka rela, bukan pungutan,” ungkapnya.

Ibrahim mengungkapkan kebutuhan tenaga honorer untuk SMA/SMK di Sulteng, sekitar 6000 orang,jika ini tidak terfasilitasi pasti, mereka akan dirumahkan tenaga honorer, bukan hanya dibutuhkan tenaga honorernya, namun fungsinya mereka mengisi ruang-ruang yang sementara hingga saat ini mereka tanggani.

“Karena guru yang PNS tidak cukup untuk menggajar di SMA/SMK, oleh karena itu tetap dibutuhkan guru honorer tersebut, kalau tidak ada penggarannya atau pembiayaannya sudah pasti sekolah tidak bisa memaksakan orang menggajar tanpa insentif,” katanya.

Kata dia, harus ada kebijakan dari daerah untuk menfasilitasi ini, dengan dua hal pertama apakah keuangan daerah mampu untuk membayarkan dengan dana APBD untuk dana guru-guru honorer, atau kedua diberikan pengelolaan secara suka rela oleh sekolah, untuk bisa menerima sumbangan suka rela dari masyarakat atau pemerhati pendidikan.

“Kebijakan ini, juga perlu dikonsultasikan oleh pihak Kementerian, agar tidak ada ketakutan-ketakutan, karena adanya tim saber pungli, sehingga harus ada langkah cepat oleh pemerintah provinsi, untuk bisa segera mungkin menyelesaikan persoalan ini, karena ini menjadi kegelisahan oleh sekolah dan siswa, karena jika tidak cukup gurunya, satu dua kelas yang tidak belajar, sekitar dua jam saja ini luar biasa kacau dalam sekolah tersebut,” tutupnya.
 

Editor : Udin Salim

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.