Friday, 21 September, 2018 - 10:04

Hajaria, Potret Kemiskinan di Kota Palu

BERJUANG - Hajaria (47) istirahat setelah seharian memulung barang bekas, Jumat (1/5). (Foto : Jose Rizal)

MENJADI pengumpul barang bekas atau pemulung bukan hal baru lagi di Kota Palu. Pekerjaan itu sudah banyak dilakoni warga miskin Kota untuk bisa bertahan hidup.
Seperti yang dijalani perempuan paruh baya ini. Namanya Hajaria (47). Warga Jalan Tombolotutu itu mengaku, mengumpulkan barang bekas satu-satunya keterampilanya mendapatkan uang untuk menghidupi keluarganya.

Pagi-pagi sekali, Ibu Hajaria sudah beranjak dari rumahnya untuk mencari barang bekas. Pekerjaan itu, sudah di lakoni ibu tujuh anak ini sejak beberapa tahun yang lalu.
Kadang rasa lelah mendera, namun bila mengingat anak-anaknya di rumah yang butuh sesuap nasi, tiba-tiba semangatnya bangkit kembali.

Alhasil, dia bisa berjalan berkilo-kilo jauhnya hanya untuk mengumpulkan barang bekas. Walaupun penghasilan dari mengumpulkan barang bekas itu terbilang sangat kecil, namun Hajaria selalu bersyukur karena bisa mendapatkan uang untuk menutupi kebutuhan sehari-hari dia dan keluarganya.

"Pagi sekali saya sudah turun dari rumah mencari barang bekas. Penghasilan sehari itu biasanya 10.000 rupiah, kadang juga lebih," ujar perempuan yang sering mengais sampah di samping BNS Bumi Nyiur Jalan Yojokodi itu, Jumat (1/5).

Dia mengaku, sejak suaminya meninggal tahun 2014 silam, otomatis dia menjadi tulang punggung untuk menghidupi keluarga. Meski berat, Hajaria berusaha untuk tetap bersabar.

"Saya tidak mau meminta-minta, menjadi pemulung lebih baik bagi saya, yang penting halal," katanya lirih.

Karena faktor kemiskinan, Hajaria tidak memasukan anak-anaknya ke sekolah. Alasanya, karena biaya sekolah mahal, dan dia tidak mampu membayar. Selain pendidikan kata dia, biaya kesehatan juga sangat mahal.

Dia berharap, semoga anak-anaknya tidak ada yang sakit, karena dia yakin tidak akan mampu membayar biaya perawatan dan ongkos rumah sakit.

"Anak-anak saya tidak ada yang sekolah. Saya tidak mampu membayar biaya pendidikan mereka. Saya juga berharap, agar anak-anak saya tidak ada yang sakit. Sebab hasil dari mengumpulkan barang bekas ini tidak akan bisa membayar ongkos pengobatan," ujarnya dengan terbata-bata.

Hajaria hanya bisa pasrah, dia berharap suatu saat nanti pemerintah Kota Palu mau membantu dirinya untuk meringkan beban hidup yang dipikulnya.

"Semoga pemerintah mau membantu saya," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.


Editor : Syamsu Rizal

Tags: