Tuesday, 26 September, 2017 - 22:31

Hakim: Hadirkan Bupati Tolitoli

BUKAN PENGUNJUNG SIDANG - Sebanyak 97 saksi yang dihadirkan jaksa penuntut umum memenuhi ruang sidang Pengadilan Negeri Palu, Senin 6 Maret 2017. (Foto : Eddy/ Metrosulawesi)

MEREKA YANG MENERIMA DANA GERNAS MENURUT CONNI
  • Bupati Tolitoli, Saleh Bantilan. Dana sebesar Rp1 miliar diserahkan oleh Kadis Perkebunan Tolitoli Mansyur dalam bentuk cek tahun 2013. Dana Rp40 juta dibawa oleh Conni atas perintah Kadis Mansyur diterima istri bupati. Kemudian Rp50 juta diserahkan langsung Kadis Mansur kepada bupati.
  • Wabup Tolitoli, Amran H Yahya. Dana Rp100 juta diserahkan oleh Kadis Mansur.
  • Kapolres Tolitoli, Rudi Mulianto. Dana senilai Rp50 juta.
  • Biaya untuk Direktur Gernas Kakao senilai Rp68 juta.
  • Hadiah lebaran untuk pegawai Dinas Perkebunan Tolitoli Rp100 juta.
  • Untuk keperluan membeli bedak istri Kadis Perkebunan Tolitoli Rp35 juta.
  • Disetor ke Rizal (pegawai di Dinas Perkebunan Sulteng) Rp32,5 juta.

"Khusus untuk cek yang nominal Rp 1 miliar tersebut bentuknya adalah travel cek Bank BNI. Itu ada sekitar 12 lembar cek, nominal minimalnya adalah Rp 15 juta dan maksimalnya Rp 200 juta. Pokoknya kalau ditotalkan senilai Rp 1 miliar," - Conni, Terdakwa Korupsi Gernas Kakao Tolitoli -

Palu, Metrosulawesi.com - Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Palu memeerintahkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) untuk menghadirkan Bupati Tolitoli, Muh Saleh Bantilan untuk dihadirkan dalam persidangan kasus dugaan korupsi dana Gerakan Nasional (Gernas) Kakao Kabupaten Tolitoli tahun 2013.

Perintah itu disampaikan dalam sidang terbuka untuk umum di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Palu, Senin, 6 Maret 2017.

Majelis Hakim Ketua, I Made Sukanada yang didampingi Darmansyah dan Jult masing-masing Hakim Anggota menegaskan, agar JPU menghadirkan Bupati Tolitoli dalam persidangan. Hal tersebut terkait dengan keterangan yang muncul dalam persidangan bahwa Bupati Tolitoli menerima travel cek dengan nominal Rp1 miliar. Olehnya, Bupati Tolitoli harus dihadirkan dalam persidangan untuk mengklarifikasi keterangan yang muncul dalam persidangan agar tidak terjadi fitnah.

"Supaya tidak terjadi fitnah, Bupati Tolitoli harus dihadirkan sebagai saksi dalam persidangan ini," ujarnya.

Sebelumnya, terungkap dalam persidangan, bahwa terdakwa Conni memaparkan secara gamblang aliran dana tersebut, yakni Kepala Dinas Perkebunan Tolitoli, Mansyur yang saat ini menjadi terdakwa dalam perkara ini menyerahkan cek dengan nominalnya senilai Rp 1 miliar kepada Bupati Tolitoli Muh Saleh Bantilan pada tahun 2013. Kemudian Conni sendiri atas perintah Kepala Dinas mengantar uang tunai senilai Rp 40 juta kepada Bupati yang kala itu diterima oleh isteri Bupati, dan Kepala Dinas sendiri mengatar uang senilai Rp 50 juta kepada Bupati. Jadi total uang tunainya adalah senilai Rp 90 juta.

Selain kepada Bupati Tolitoli, dana itu juga diberikan oleh Kepala Dinas kepada Amran H Yahya yang pada saat itu menjabat Wakil Bupati Tolitoli senilai kurang lebih Rp 100 juta. Kemudian distorkan ke Rizal (Pegawai di Dinas Perkebunan Provinsi Sulteng) senilai Rp 32.500.000. 

Selain itu kata Conni, dana itu juga diberikan kepada Rudi Mulianto yang saat itu menjabat sebagai Kapolres Tolitoli senilai Rp 50 juta. Ada juga biaya untuk Direktur Gernas Kakao senilai Rp 68 juta, hadiah lebaran baik dalam bentuk minuman maupun uang tunai kepada pegawai kantor Dinas Perkebunan Tolitoli dan instansi lain senilai Rp 100 juta.  Kemudian ada juga diberikan untuk membeli bedak isterinya Kepala Dinas Perkebunan Tolitoli, Mansyur senilai Rp 35 juta.

"Khusus untuk cek yang nominal Rp 1 miliar tersebut bentuknya adalah travel cek Bank BNI. Itu ada sekitar 12 lembar cek, nominal minimalnya adalah Rp 15 juta dan maksimalnya Rp 200 juta. Pokoknya kalau ditotalkan senilai Rp 1 miliar," kata terdakwa Conni.

Mantan Wabup Membantah

Sementara itu Mantan Wakil Bupati Tolitoli, Amran H Yahya membantah menerima uang senilai Rp 100 juta dari program Gerakan Nasional (Gernas) Kakao Kabupaten Tolitoli tahun 2013.

"Ada uang  senilai Rp 70 juta yang saya pinjam dari Kepala Dinas Mansyur Lantah. Tidak betul kalau saya dapat uang Rp 100 juta dari proyek Gernas Kakao Tolitoli," tutur Amran H Yahya usai sidang perkara dugaan korupsi dana Gernas Kakao Tolitoli di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Palu, Senin, 6 Maret.

Amran menuturkan, bahwa dirinya tidak pernah menerima uang Rp 100 juta dari Kepala Dinas, yang ada itu uang senilai Rp 70 juta. Uang itu statusnya pinjaman, bukan uang Gernas Kakao. Dia mengakui bahwa dirinya dekat dengan semua Kepala Dinas, makanya kalau dirinya butuh dana pinjam dengan mereka. Sekitar tiga bulan kemudian kata Amran, dirinya mau mengembalikan uang tersebut. Namun Kepala Dinas Mansyur Lanta tidak mau terima. Makanya sampai sekarang uang tersebut belum dikembalikan.

"Saya merasa tidak pernah mendapat dana Gernas Kakao tersebut. Makanya saya biasa-biasa saja. Masyarakat sudah menikmati hasil program tersebut, yang kasihan pak Mansyur, ibu Conni, pak Eko," ujarnya.

Diketahui, bahwa JPU, Ridwan Marban dalam dakwaannya menyebutkan, bahwa pada tahun 2013, Pemerintah Daerah Kabupaten Tolitoli dalam hal ini Dinas Perkebunan mendapat program peningkatan produksi dan mutu kakao nasional yang diprogramkan oleh Direktorat Jenderal (Dirjen) Perkebunan Kementerian Pertanian. Dinas Perkebunan Kabupaten Tolitoli mendapat program tersebut berupa bantuan pengadaan bibit atau entres sambung samping kakao sebanyak 4.500.000 sambungan. Program tersebut dikemas dalam bentuk program Gernas Kakao dengan dana yang bersumber dari APBN tahun 2013 dengan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) senilai Rp 11,2 miliar lebih. Nah, dari total anggaran tersebut, senilai Rp Rp6,6 miliar lebih yang diduga dikorupsi oleh para terdakwa.

Sehingga, empat terdakwa tersebut didakwa dengan dakwaan Primair Pasal 2 ayat 1 Jo Pasal 18 Undang-Undang (UU) Nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor Jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP, dan dakwaan subsidair Pasal 3 Jo Pasal 18 Undang-Undang (UU) Nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor Jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.

97 Saksi Diantar Pakai Bus Sekolah

Sedikitnya 97 saksi menumpang disalah satu Bus Sekolah milik Pemerintah Kabupaten Tolitoli saat menghadiri sidang perkara dugaan korupsi dana proyek Gerakan Nasional (Gernas) Kakao Kabupaten Tolitoli pada Senin, 6 Maret.

Kepala Seksi Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Tolitoli, Ridwan mengatakan, pihaknya memakai Bus Sekolah untuk mengantar pergi pulang kelompok tani yang menjadi saksi dalam perkara dugaan korupsi dana proyek Gerakan Nasional (Gernas) Kakao Kabupaten Tolitoli. Selain naik di Bus Sekolah, para saksi menumpang di angkutan umum dan ada juga yang memakai mobil sendiri.

Ridwan menuturkan, dari 120 orang saksi yang diundang untuk menghadiri sidang hari ini (kemarin), tetapi yang hadir hanya 97 orang, dan satu orang saksi sudah meninggal.

"Yang hadir sebagai saksi hari ini adalah terdiri dari kelompok tani, okulator, penyedia bibit, pegawai bank, pegawai perusahaan dan mantan Wakil Bupati Tolitoli," tuturnya.

Sidang mulai pukul 11.30 Wita, diawali dengan menyebut nama-nama saksi. Setelah itu Majelis Hakim I Made Sukanada membuka sidang, dan selanjut mengambil sumpah para saksi. Sidang dibagi dua sesi, pertama meminta keterangan para kelompok tani, dan sesi kedua terdiri dari Mantan Wakil Bupati Tolitoli, Isteri Bupati Tolitoli Muh Saleh Bantilan, Isteri terdakwa Mansyur Lanta, pegawai Bank dan pegawai Perusahaan.

Dalam persidangan para kelompok tani yang menjadi saksi dalam perkara ini menyatakan tidak ada masalah dengan pengadaan bibit sambung samping Gernas Kakao Tolitoli. Program ini sukses, dan sekarang kakao tersebut sudah produksi. Satu persatu Majelis Hakim bertanya, dan para saksi menyatakan progam ini sukses.

Kalau masalah perhitungan, benar pasti ada yang mati, tetapi sudah sulam kembali, dan sekarang semuanya hidup. Lantaran hampir semua saksi menyatakan program Gernas Kakao Tolitoli tersebut berhasil, Majelis Hakim pun menyampaikan kalau program ini berhasil, kenapa bisa muncul perkara ini? Sontak saja jawaban dari para saksi, “Kami tidak tahu, yang kami tahu program ini sukses, karena saat ini kami sudah menikmati hasilnya,” jawab mereka.


Editor : Udin Salim

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.