Wednesday, 24 May, 2017 - 04:44

Hanya Perusda yang Berizin Jual Sianida, Dari Mana Sianida di Poboya?

ANCAM LINGKUNGAN - Suasana lokasi tambang emas ilegal di Poboya. Di sini bahan kimi berupa sianida bebas beredar. (Foto : Dok)

Palu, Metrosulawesi.com - Aktivitas pertambangan di kawasan Poboya meresahkan masyarakat. Bagaimana tidak? Sumber air yang seharusnya dapat dinikmati oleh masyarakat kini sudah berubah menjadi racun berbahaya akibat dicemari merkuri dari aktivitas pertambangan ilegal di Poboya.

Bahkan Wali kota Palu Hidayat menyebut aktivitas tambang ilegal itu mengancam masyarakat di enam kelurahan di Kota Palu.
Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Sulawesi Tengah mengungkapkan ada tiga perusahaan tambang yang masih beroperasi dengan menggunakan merkuri dan sianida di wilayah tambang Poboya.

Terkait penggunaan sianida, seharusnya zat yang satu ini tidak bisa didapatkan dengan mudah. Pasalnya, untuk menjual sianida harus memiliki izin.

Di Sulawesi Tengah sendiri hanya Perusahaan Daerah (Perusda) yang memiliki izin memiliki sianida. Lalu dari mana asalnya sianida di Poboya? Isu beredar ada oknum yang bermain dan membekengi penjualan sianida tak berizin di Poboya, benarkah?

“Yang memiliki izin untuk menjual sianida hanya Perusda Kota Palu, selain itu tidak ada,” kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulawesi Tengah Abubakar Almahdali, Selasa 9 Mei 2017.

Sementara itu, terkait isu yang yang menyatakan ada oknum kepolisian yang membekingi penjualan sianida di sekitar tambang Poboya, pihak Polda akan menindak lanjuti dan akan melakukan penyelidikan.

Kabid Humas Polda Sulteng, AKBP Hari Suprapto, saat ditemui di ruangnaya Selasa 9 Mei 2017 mengatakan, pihaknya akan menindaklanjuti dan akan melakukan penyelidikan terkait dengan isu tersebut.

“Kami akan menindak lanjuti dan akan melakukan penyelidikan terkait dugaan adanya oknum kepolisian yang bermain di atas (tambang ilegal Poboya). Bila ada oknum yang terlibat, kami akan melakukan penindakan,” tegas juru bicara kapolda itu.

Sebelumnya,  Wali Kota Palu Hidayat menyebut ada enam kelurahan di wilayahnya tengah terancam pencemaran merkuri akibat pertambangan ilegal itu.

“Pencemaran itu mengancam kehidupan masyarakat di enam kelurahan. Mereka semua ketakutan karena mercuri. Termasuk sianida yang dihambur di atas sana (tambang ilegal di Poboya),” ungkap Hidayat baru-baru ini.

“Masyarakat dengan kehidupan pas-pasan terpaksa harus menggunakan air galon isi ulang untuk keperluan memasak karena takut memakai air yang ada di sana. Padahal bukan tidak ada sumber air dari sumur dalam, yang bisa digunakan masyarakat, tapi karena ketakutan tadi mereka tidak berani menggunakannya,” kata dia.

Eksekutif Kampanye dan Advokasi Jatam Sulteng Moh Taufik juga sebelumnya mengungkapkan hasil investigasi pihaknya, dimana ada tiga peusahaan yang masih melakukan aktivitas di Poboya yakni PT Md, PT PL dan PT Ma.

“Kami sangat mendukung upaya Wali Kota Palu untuk melakukan penegakan hukum terhadap pelaku-pelaku ilegal dan juga pengusaha yang menjual belikan sianida  dan merkuri,“ katanya.

“Posisi aktivitas pertambangan di Poboya ada pada dataran tinggi, sehingga mudah terbawa angin ke lingkungan daerah Poboya itu sendiri, belum lagi lingkungan pertambangan  berdekatan langsung dengan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) sehingga akan berakibat pencemaran tehadap lingkungan,” sambungnya.

Pihaknya menjelaskan merkuri dan sianida difungsikan sebagai pemurnian antara batu dan emas, jika digunakan penampungan untuk melakukan pemurnian, maka penampungan diisi dengan kapasitas daya tampung 1.000 truk untuk sekali pengisian penampungan.
Moh Taufik menjelaskan tiga perusahaan tersebut masuk secara ilegal, karena menggunakan lahan masyarakat yang telah memiliki izin untuk dikelola.

Pihaknya juga menambahkan masih mengumpulkan beberapa data untuk melaporkan perusahaan yang beraktivitas di Poboya.

“Jika penegakan hukum tidak ditanggapi pada tingkat kota hingga provinsi, kami akan membawa kasus ini ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) di Dirjen Penegakan Hukum (Gakkum) KLHK. (edy/mil)


Editor : Udin Salim

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.