Saturday, 22 September, 2018 - 09:23

Harga Bahan Bangunan Merangkak Naik

Bahan bangunan di Kota Palu merangkak naik terpicu pelemahan rupiah. (Foto: Fikri Alihana/ Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.com – Dampak yang ditimbulkan dari melemahnya rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) saat ini. Sehingga, harga bahan bangunan di pasaran Kota Palu mengalami kenaikan cukup tajam yang dipicu oleh meningkatnya permintaan masyarakat.

Tika, pemilik toko Duta bangunan di Jalan Wr. Supratman mengungkapkan hampir semua bahan bangunan dari besi, cat, semen, tehel dan keramik ikut naik. Semen Tonasa naik dari sebelumnya Rp60.000 per zak menjadi Rp65.000 per zak dan semen bosowa dari Rp58.000 menjadi Rp60.000 per zak.

“Pipa dari Rp20 ribu menjadi Rp25 ribu rupiah, ada juga Rp25 ribu naik menjadi Rp28 ribu rupiah tergantung jenis dan ukuran pipa, mulai dari ukuran setangah inci sampai 4 inci. Kalau untuk 1 tehel naik sekitar Rp2 ribu rupiah dari harganya Rp50 ribu rupiah per 1 tahel” ungkapnya, Rabu (12/9).

Sementara itu, bahan bangunan di toko tersebut didatangkan dari Kota Surabaya dan Kota Makassar. Selain itu, besi juga mengalami kenaikan dari sebelumnya Rp30 ribu per kilogram menjadi Rp32 ribu per 1 batang untuk ukuran besi 6. Sedangkan,untuk ukuran besi 12 per batang sekitar Rp100 ribu menjadi Rp110 ribu rupiah per 1 batang.

“Kami pedagang tentu akan menyesuaikan setiap kali ada kenaikan atau sebaliknya. Karena barang semua naik, contohnya juga seperti cat merek Avian harganya dulu Rp58 ribu sekarang sudah di jual sekitar Rp59 ribu sampai Rp60 ribu rupiah. Terkecuali, stok barang lama harganya tidak berubah tetap pada harga normal tidak ada kenaikan. Kalau stok barang baru otomatis pasti harganya nai,” katanya.

Dia juga mengatakan baut dari ukuran 10 sampai 20 sentimeter yang dulunya harga Rp25 ribu, kini naik menjadi Rp30 ribu rupiah per kilogram. Lain lagi dengan ukuran baut 20 sampai 30 CM maupun 40 sentimeter naik sekitar Rp40 ribu rupiah perkilogram. Naiknya dolar AS sangat berpengaruh besar terhadap penjualan terutama yang berbahan dasar besi impor.

“Sangat pengaruh sekali belum lagi biaya pengiriman dan bahak bakar juga ikut-ikut naik. Daya beli masyarakat juga sekarang lagi menurun atau sepi karena imbas dari kenaikan harga-harga ini. Omset pendapat sekarang sudah menurun yang dulunya mencapai Rp20 sampai Rp 30 juta rupiah sekrang hanya Rp15 juta bahkan sampai Rp10 perhari,” katanya.

Hal yang sama jua diungkapkan, Fahmi, pemilik toko atap indah di jalan Kemiri tak jauh dari SMPN 3 Palu. Ia mengatakan perubahan harga terjadi khususnya jenis seng yang berbahan dasar logam. Sedangkan, untuk harag besi di toko tersebut belum menaikan harga.
 
“Harga Seng naik nol koma sekian persen atau naik Rp500 sampai Rp1.000 rupiah per lembar. Bahkan ada sampai naik Rp2.000 rupiah per lembar tergantung mereknya. Kalau yang lain sampai saat ini seperti biasa saja belum ada perubahan harga,” katanya.

Sementara, menurutnya biaya pengiriman juga ikut naik yang 40 fit dulunya sekitar Rp7 juta sampai Rp8 juta rupiah, kini berkisar Rp9 juta rupiah untuk satu kali pengiriman. Ia juga menjelaskan sekarang daya beli masyarakat menurun. Selain itu, ia berharap peningkatan penjualan naik seperti dulu. Karena sekrang ini penjualan lagi sepi.

“Tergantung barang tidak menentu, kadang item barang yang berat maupun hanya makan volume pasti harganya juga beda. Sedangkan, seng yang bentuknya gelombang itu dulunya sekitar Rp47 sampai Rp48 ribu rupiah per lembar. Sekarang dijualkan Rp48 ribu sampai Rp49 ribu rupiah per lembarnya,” pungkasnya.


Editor: Pataruddin