Saturday, 18 August, 2018 - 03:13

Harga Beras dan Mitan di Buol Merangkak Naik

Muhamad Lahamade. (Foto : Metrosulawesi/Agus Rioeh)

Buol, Metrosulawesi.com - Kepala Bagian Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Sekretariat Daerah Buol Muhamad Lahamade mengakui jika harga beras eceran untuk tiap kilogramnya menunjukkan kenaikan dari Rp 9.000/kg menjadi Rp. 11.000/kg. Begitu pula harga jual eceran minyak tanah mencapai Rp. 13.000/liter.

Pantauan Metrosulawesi di pasar tradisional Buol maupun di warung-warung pengecer belum lama ini, bahwa asal beras yang ada di pasar Buol berasal dari Pare-pare, Sulsel dan kualitasnya sangat baik untuk dikonsumsi masyarakat.

Kabag Ekbang juga menyampaikan, bahwa data-data pelaksanaan operasi pasar khusus beras di Buol tahun 2016 telah sesuai dengan surat Menteri Perdagangan RI nomor : 994/M-DAG/SD/11/2015 tanggal 13 November 2015 tentang pelaksanaan operasi pasar cadangan beras pemerintah (CBP).

Hal itu ditindaklanjuti dengan surat Gubernur provinsi Sulawesi Tengah nomor : 511/4679/RO-ADM EKON tanggal 28 Desember 2015 tentang harga eceran tertinggi (HET) pelaksanaan operasi pasar cadangan beras pemerintah di Kabupaten Buol, ditetapkan dengan harga Rp. 8.000/kg.

"Operasi pasar ini telah dilakukan di setiap kecamatan, di pasar-pasar tradisional maupun di gudang bulog di Desa Bokat, Kecamatan Bokat," kata Muhamad Lahamade.

Realisasi pelaksanaan operasi pasar di Kabupaten Buol dan telah terjual sebanyak 96 ton. Dan juga penyaluran untuk raskin tahun 2016, pemerintah telah mengusulkan pendistribusian untuk bulan Januari dan Februari 2016 yang nantinya akan segera disosialisasikan di kantor Bupati Buol, sekaligus launching raskin perdana untuk tahun 2016.

Sedangkan untuk harga minyak tanah nonsubsidi Rp. 1.946.000/drum untuk wilayah Lakuan Buol, sampai Bunobogu dengan harga jual eceran Rp. 13.000/liter.

Sedangkan untuk wilayah Kecamatan Gadung sampai Paleleh Rp. 1.986.000/drum. Disamping itu pula, harga sembako tidak terpengaruh atas kenaikan harga beras maupun minyak tanah. Dan semuanya dapat dikatakan stabil dan pasar tradisional di Kabupaten Buol masih tetap ramai.


Editor : Subandi Arya