Saturday, 18 August, 2018 - 03:13

Harga Beras di Palu Mulai Naik

HARGA NAIK - Stok beras di Pasar Masomba berkurang telah memicu kenaikan harga, Minggu 14 Agustus 2016. (Foto : Moh Rizal/ Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.com - Harga beras di pasar tradisional di Kota Palu mulai mengalami kenaikan menjadi Rp 9.500 hingga Rp 11.000 perkilogram. Sejumlah pedagang mengakui, permintaan yang tinggi, sementara stok kurang.

‘’Memang ada kenaikan harga beras sekitar 500 rupiah perkilonya, mungkin karena gagal panen di beberapa daerah di Sulawesi Tengah,” kata Haikal, pedagang beras di Pasar Masomba Kecamatan Palu Selatan, Minggu 14 Agustus 2016.

Menurutnya, karena hasil panen yang kurang di sejumlah daerah di Sulteng menyebabkan pasokan beras kurang.

“Jadi untuk stok beras yang masuk berkurang sehingga harga beras mengalami kenaikan,’’ ujarnya.

Haikal mengatakan, harga beras yang sebelumnya hanya Rp 9.000 perkilogram kini naik menjadi Rp 9.500 perkilogram.

“Kenaikan harga beras ini ini terjadi pada beras yang baru masuk, sementara untuk stok beras lama masih pada harga semulanya,” ujar Haikal.

Pedagang beras lainnya Dira mengungkapkan hal yang serupa bahwa telah menaikan harga beras sebesar 500 rupiah. Dia kini menjual beras dengan harga Rp11.000 perkilogram.

Sebelumnya diberitakan, para petani di Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi mengalami gagal panen padi setelah pada musim tanam (MT) sebelumnya juga menghadapi masalah yang sama.

"Pokoknya panen kali ini lebih buruk dari sebelumnya," kata Ede, seorang petani di Desa Lemban Tongoa, pekan lalu.

Ia mengatakan rata-rata petani di desa itu mengalami kerugian karena sebagian besar produksi menurun drastis. Banyak bulir padi yang tidak berisi dan butiran berasnya berwarna kemerahan, katanya.

Menurut dia, dalam dua kali panen terakhir ini, petani padi sawah di Desa Lemban Tongoa banyak yang gagal panen. "Tidak diketahui apa penyebabnya," kata Ede.

Hal senada juga disampaikan Imanuel, seorang petani lainnya. Dia mengaku gagal panen sudah berlangsung dalam dua kali musim tanam. Pada musim tanam sebelumnya, banyak petani yang gagal panen akibat serangan hama dan kekurangan air. Namun penyebab gagal panen kali ini belum diketahui secara pasti, katanya.

"Yang jelas tanaman padi saat mulai berbuah, batang dan daun menjadi merah. Dan jika batang dan daun padi sudah berwarna merah, dipastikan tidak berbuah lagi," katanya.

Sementara itu, Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola dalam berbagai kesempatan mengungkapkan, provinsi ini tergolong wilayah surplus beras. Namun, beras di Sulteng dijual ke daerah lain yang harga berasnya lebih mahal.

Longki Djanggola juga menyampaikan keluh kesahnya itu dalam sarasehan nasional ekonomi yang digelar awal Agustus ini, di Gedung Bank Indonesia (BI) Jakarta yang dihadiri sejumlah gubernur.


Editor : Syamsu Rizal