Wednesday, 26 July, 2017 - 14:43

Hasil Cengkeh Tolitoli Setahun Capai Triliunan Rupiah

Cengkeh. (Foto : Dok Metrosulawesi)

Tolitoli, Metrosulawesi.com - Bertani bagi masyarakat Tolitoli, masih diyakini bisa memperbaiki taraf hidup maupun perekonomian keluarga. Apalagi, bertani cengkeh.

Tidak bisa dipungkiri, kalau tetesan keringat petani cengkeh Tolitoli bisa membuahkan rupiah sampai triliunan rupiah. Tapi bisa dibuktikan, petani cengkeh Tolitoli menikmati hasilnya dengan maksimal?.

Fenomena inilah, yang membuat anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tengah  asal daerah pemilitan Tolitoli-Buol, Moh Faisal Lahaja, terkesima ketika mengetahui, kalau daerah asalnya itu merupakan daerah kaya. Mengapa? Setelah kurang lebih dua bulan bertugas sebagai wakil rakyat menggantikan, Abdullah Batalipu yang kini terpilih menjadi wakil bupati  di Buol, legislator berlatar belakang pengusaha ini langsung melakukan koordinasi dengan instansi maupun pelaku ekonomi terkait dengan komoditi cengkeh.

Untuk sementara, Faisal, berkesimpulan perlu dicarikan solusi yang tepat dan sesuai reguler dan tata niaga yang sehat, agar petani cengkeh tidak sekadar mengeluarkan keringat. Namun endingnya begitu tiba musim panen harga perlahan bergerak turun, sampai pada titik yang secara matematika, petani mengalami kerugian, tidak bisa menikmati harga bagus karena ada permainan harga ditingkatkan pembeli.

Usai bertemu Bupati Tolitoli, H. Moh Saleh Bantilan di suatu tempat di Jakarta, politisi asal Partai Golongan Karya ini, yakin kalau saja ada sedikit perhatian dan kebijakan pemerintah yang bisa ‘menyelematkan’ sebagai besar petani cengkeh.

"Yakinlah kalau tetesan keringat petani cengkeh Tolitoli bisa menghasilkan uang triliunan rupiah itu," katanya saat berbicara dengan wartawan Metrosulawesi, disalah kafe di Tolitoli, belum lama ini.

Menurut data sementara yang di kantongi anggota Komisi II DPRD Sulteng itu, putaran uang dari hasil produksi cengkeh Tolitoli berkisar diatas Rp 1 triliun. Angka ini, baru merupakan asumsi paling rendah, dimana produksi cengkeh juga diasumsikan hanya berproduksi paling sedikit 10 ribu ton dalam setahun.

"Ironis sekali, kalau petani cengkeh Tolitoli ternyata hidupnya pas-pasan, bahkan berada pada tingkat yang memprihatinkan," ujarnya.

Menelusuri kenyataan ini, Faisal berpendapat disini lah saatnya pemerintah tidak membiarkan tata niaga cengkeh ini hanya ditangani oleh pembeli yang tidak atau kurang bersimpati dengan kondisi perekonomian rakyat Tolitoli.

Pemerintah katanya, tidak boleh membiarkan harga cengkeh anjlok begitu petani mulai panen hasil kebunnya. Pemerintah harus melakukan antisipasi yang pas dan tepat kalau pembeli mulai menurunkan harga komoditi itu di bawah harga yang ideal, misalkan harga idealnya Rp 100.000 per kilo gram nya.

"Pembeli  berkelit dihukum ekonomi kalau persediaan meningkat maka harga bisa pasti akan turun," ungkapnya.

Terhadap komoditi cengkeh ini, seharus tidak berlaku hukum seperti itu. Sebab, Faktanya kebutuhan cengkeh dalam negeri itu masih ada impor dari negara lain. Ini artinya, yang namanya over produksi tidak terjadi sehingga tidak ada alasan saat panen harga harus turun juga.

"Saya mensinyalir keadaan ini selalu dipergunakan para pembeli cengkeh di Tolitoli dan pemerintah selalu diam saja karena tidak pernah menelusuri bagaimana sebenarnya keadaan yang terjadi," tambahnya.

Di hadapan Sekretaris Kabupaten Tolitoli, Drs Mukaddis dan Kadis Keuangan Tolitoli, Moh. Asrul Bantilan, anggota komisi II ini memaparkan sedikit problem berikut solusi berani yang harus diambil pemerintah dalam menyelematkan hasil keringat petani cengkeh Tolitoli.

“Saya, pak Sekab, sudah mendapat dukungan komisi saya untuk mencoba membeda permasalahan petani kita ini agar bagaimana bisa keluar dari problem harga setiap musim panen,” tandas Faisal yang diamini Sekab dan Kadis Keuangan Tolitoli.

Tanpa menyebut angka kebutuhan cengkeh dalam negeri, Faisal mengatakan, jelasnya kebutuhan cengkeh dalam negeri belum bisa over produksi walaupun Tolitoli panen raya setiap tahun.

Ini suatu peluang, katanya, sehingga pekan lalu Komisi II DPRD Sulteng melakukan dengar pendapat dengan PD Sulteng dan Bank Sulteng dan salah satu yang dibahas adalah soal harga cengkeh.


Editor : Subandi Arya

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.