Friday, 20 July, 2018 - 16:49

IJK Diminta Bantu Pengembangan Wisata Mangrove

Kepala OJK Sulteng, Deputy Bisnis Pegadaian Area Palu, Direktur Utama Bank Sulteng dan Kepala Cabang BPR Lokadana saat berada  di objek wisata Hutan Mangrove di Desa Kabonga Besar, Kecamatan Banawa, Donggala. (Foto: Tahmil Burhanuddin/ Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.com - Sore itu sejumlah pimpinan dan staf industri jasa keuangan (IJK) bersama Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) perwakilan Sulawesi Tengah menyusuri jembatan bambu di tengah belukar hutan bakau seluas lima hektare. Mereka menikmati betul sejuknya udara dan indahnya pemandangan di sana.

Lewat program OJK Inspiratif, regulator industri jasa keuangan itu menggandeng Pegadaian, Bank Sulteng serta BPR Lokadana cabang Palu, Sulawesi Tengah, untuk membantu pengembangan objek wisata Hutan Mangrove yang dimotori oleh komunitas Rumah Bahari Gemilang (Rubalang) bersama komunitas Kelompok Tani Hutan (KTH) di Desa Kabonga Besar, Kecamatan Banawa, Donggala.

Belasan pemuda yang tergabung dalam komunitas Rubalang maupun KTH sudah menunggu kedatangan Ketua OJK Sulteng Syukri M Yunus bersama rombongan di sebuah gasebo yang berdiri di atas permukaan air laut, di balik belukarnya hutan bakau. Kedatangan Kepala OJK bersama Deputy Bisnis Pegadaian Area Palu Agus Tokhid, Direktur Utama Bank Sulteng Rahmat A Haris dan Kepala Cabang BPR Lokadana Ali Bahadja untuk memberikan bantuan dan masukan terkait pengembangan objek wisata Hutan Mangrove yang dikelola para pemuda lokal itu.

Takjub, senang dan bangga. Begitulah perasaan yang diungkapkan para petinggi industri jasa keuangan itu ketika pertama kali melihat langsung lokasi Hutan Mangrove yang disulap menjadi salah satu objek wisata di Kabupaten Donggala. Mereka seakan baru pertama kali melihat hutan bakau yang memiliki eksotisme luar biasa.

Memang, di hutan bakau yang satu ini sudah berbeda dari hutan bakau pada umumnya, bukan hanya pepohonan khas tepian pantai saja yang ada di sana. Berkat kreasi para pemuda, pemandangan jadi lebih istimewa. Ada berbagai tulisan kata-kata inspiratif di papan yang sengaja digantung dan menempel di pepohonan, payung warna-warni sengaja digantung di atas jembatan bambu, perahu yang sengaja ditempatkan di atas pohon bakau bertuliskan "Bahtera Cinta", hingga tempat bersantai seperti kursi dan pondok bambu, tempat untuk menikmati laut di depannya.

Bukan itu saja, berbagai spot cocok untuk berswafoto. Misalnya tiruan kupu-kupu berukuran besar berwarn cerah sudah siap dijadikan latar untuk berfoto. Belum lagi semilir angin lautnya yang menambah ketenangan saat berada di sana.

"Ini seperti surga yang hilang. Ini surga yang tersembunyi yang akhirnya ditemukan," ungkap Kepala OJK, Sabtu 9 Juni2018, saat mulai menyusuri kedalam hutan mangrove itu. Hal itu juga diamini oleh para petinggi IJK yang hadir.

Dalam kesempatan itu, para petinggi IJK melakukan diskusi bersama pemuda yang terlibat dalam pengelolaan Hutan Mangrove tersebut. Pihak IJK yang dipimpin langsung oleh Kepala OJK Sulteng pun memberikan secara simbolis bantuan untuk pembangunan Rumah Bintang Hutan Mangrove. Rumah bintang ini rencananya akan dijadikan rumah baca dan tempat untuk mengedukasi anak-anak lokal terkait mangrove.

Selain itu, rencananya akan dibangun pula tempat beribadah di sana. Pembangunannya akan dilakukan atas bantuan Pegadaian, BPR Lokadana dan Bank Sulteng.

Ketua Rubalang, Taufan mengaku sangat  senang mendapatkan perhatian dari pihak IJK dalam upaya pengembangan wisata alam itu.

"Kami sangat bersyukur. Semoga Hutan Mangrove ini kedepan bisa memberikan dampak ekonomi ke masyarakat sekitar," ujarnya.

Lokasi wisata itu sendiri sengaja dinamai Hutan Mangrove, meski didominasi pohon bakau, namun terdapat pula berbagai pohon endemik lainnyayang tumbuh di antara pepohonan bakau.

Usai berdiskusi, para petinggi IJK pun melihat satu per satu spot menarik yang ada di sana. Semuanya tampak enggan meninggalkan lokasi, namun hari mulai petang memaksa mereka harus kembali ke Kota Palu.

"Kami baru tahu kalau ternyata ada tempat sebagus ini di sini. Ini sangat cocok untuk anak muda. Tempat ini perlu dikembangkan," ungkap Deputy Bisnis Pegadaian Area Palu Agus Tokhid.

Hutang mangrove di lokasi itu seluas 10 hektare, namun baru sekitar 5 hektare yang sudah dikelola oleh Kelompok Tani Hutan untuk dijadikan objek wisata.


Editor: Syamsu Rizal