Thursday, 20 September, 2018 - 02:31

Ikan Paling Mempengaruhi Inflasi Kota Palu

PEDAGANG TOMAT - Selama Mei 2017 inflasi kota palu sebesar 0,81 persen. Sementara tomat sayur menjadi salah satu komoditas yang mengalami deflasi. Komoditas yang satu ini cenderung mengalami penurunan harga bulan lalu, bahkan beberapa waktu terakhir juga sempat turun lagi hingga Rp 2.500 per kilogram sebelum akhirnya kembali naik hingga Rp 4.000 per kilogram. (Foto : Tahmil Burhanudin/ Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.com - Kota Palu mengalami inflasi sebesar 0,81 persen selama Mei 2017. Komoditas ikan paling mempengaruhi inflasi bulan lalu. Selain ikan, tarif listrik dan bawang putih juga merupakan komoditas paling berpengaruh pada inflasi.

Inflasi 0,81 persen pada Mei lalu menurut data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah dipengaruhi oleh naiknya indeks harga pada kelompok bahan makanan (1,67 persen), diikuti oleh kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau (1,24 persen), transpor, komunikasi, dan jasa keuangan (0,47 persen), perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar (0,40 persen), kesehatan (0,12 persen), pendidikan, rekreasi, dan olahraga (0,09 persen), serta sandang (0,08 persen).

Pada bulan yang sama, inflasi year on year Kota Palu sebesar 5,10 persen. Kenaikan indeks year on year tertinggi terjadi pada kelompok pengeluaran perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 8,76 persen, sedangkan yang terendah terjadi pada kelompok pengeluaran sandang sebesar 3,10 persen.

Berdasarkan andil kelompoknya, inflasi dipengaruhi pengeluaran bahan makanan (0,338 persen), makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau (0,275 persen), perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar (0,096 persen), transpor, komunikasi, dan jasa keuangan (0,086 persen), pendidikan, rekreasi, dan olahraga (0,006 persen), kesehatan (0,005 persen), serta sandang (0,004 persen).

Sementara beberapa komoditas utama yang memiliki andil terhadap inflasi antara lain ikan cakalang (0,31 persen), ikan bakar (0,12 persen), ikan ekor kuning (0,10 persen), ikan selar (0,10 persen), tarif listrik (0,09 persen), bawang putih (0,08 persen), ikan layang (0,07 persen), ayam goreng (0,06 persen), tarif  angkutan udara (0,06 persen), dan jeruk nipis (0,06 persen).

Sedangkan beberapa komoditas yang memiliki andil negatif terhadap inflasi antara lain cabai rawit (0,28 persen), tomat buah (0,08 persen), bawang merah (0,06 persen), tomat sayur (0,04 persen), cabai merah (0,03 persen), jagung manis (0,02 persen), tarif pulsa ponsel (0,02 persen), kol putih (0,02 persen), udang basah (0,01 persen), serta gula pasir (0,01 persen).

Berdasarkan data tersebut, bawang putih masuk salah satu komoditas paling mempengaruhi inflasi bulan lalu. Dengan tingginya harga bawang putih akhir-akhir ini, sepertinya bawang putih akan menjadi komoditas paling berpengaruh pada inflasi Juni. Untuk mengantisipasi inflasi yang terlampau tinggi pemerintah pun melakukan beragai upaya untuk mengendalikan harga selama Ramadan hingga Lebaran mendatang.

“Semua stok komoditas itu cukup, jadi masyarakat tidak perlu panik. Pedagang juga tidak perlu menaikkan harga seenaknya untuk mencari keuntungan yang besar,” imbau Wali kota Palu, usai melakukan inspeksi mendadak (sidak) di beberapa pusat perbelanjaan, Kamis 1 Juni 2017.

Tags: