Monday, 18 December, 2017 - 17:08

Incinerator RSUD Anuntaloko Rp1,2 Miliar Mubazir

SAMPAH - Pengelolaan sampah medis dan non medis RSUD Anuntaloko Parigi dipihakketigakan dengan harga perkilogram senilai Rp55 ribu. (Foto : Zul/ Metrosulawesi)

Parigi, Metrosulawesi.com - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Anuntaloko Parigi Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) hingga kini belum mengantongi dokumen izin pembakaran atau pengelolaan sampah medis dan non medis. Akibatnya, mesin penghancur sampah medis (incinerator) milik rumah sakit tersebut teronggok begitu saja. Padahal, benda tersebut telah ada setelah dianggarkan pada 2015 lalu mencapai Rp1,2 miliar.

Direktur RSUD Anuntaloko Parigi, dr. Nurlaela Harate kepada sejumlah awak media di ruang kerjanya, Senin 8 Mei 2017 mengatakan, bahwa sejak dr Revi Tilaar memimpin dan digantikan oleh dirinya, upaya yang dilakukan untuk mengantongi izin pengelolaan sampah medis dan non medis dengan mendatangi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sudah empat kali.

Namun, informasi yang diterima dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bahwa dokumen izin tinggal menunggu tandatangan Menteri, Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc. Guna mengantisipasi terjadinya penumpukan, pengelolaan sampah medis dan non medis tersebut dipihakketigakan dengan harga perkilogram senilai Rp55 ribu.

"Kami tetap berusaha agar dokumen izin pengelolaan sampah medis dan non medis tersebut. Bila perlu, setiap saat kami ingin mendatangi pihak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan agar dokumen izin itu segera dikeluarkan. Itu merupakan tahap akhir karena segala proses pengujian kelayakan untuk pengelolaan sampah medis dan non medis sudah dilakukan. Jangankan RSUD Anuntaloko, RS Undata yang merupakan RS tipe nasional pun belum mengantongi dokumen izin," ujarnya.

Lanjut Nurlaela, pengelolaan sampah tersebut melalui pihak ketiga itu sudah berdasarkan persetujuan Kementerian Kesehatan. Bahkan, untuk pengelolaan jenis sampah medis dan non medis dari seluruh Puskesmas bekerjasama dengan RSUD Anuntaloko.

Tidak heran, setiap kali pihak perusahaan melakukan pengangkutan khusus sampah medis mencapai 11 ton. Tidak hanya itu, pengangkutan khusus sampah medis yang terkumpul sejak 2015-2016 juga pernah baru dilakukan pada 2017.

Menurutnya, jika mesin incinerator tersebut sudah dapat beroperasi, justru sangat memudahkan pihaknya dalam menangani persoalan khusus sampah medis dengan melakukan pembakaran. Pasalnya, selain dapat mengirit keuangan, pihaknya tidak sulit lagi menangani khusus sampah medis yang harus melalui pihak ketiga.

Apalagi, perusahaan yang menangani soal pengelolaan sampah medis tersebut hanya satu saja di Sulawesi Tengah. Bahkan, perusahaan tersebut tidak hanya menangani RSUD Anuntaloko Parigi saja, namun hampir seluruh RS di beberapa daerah.

"Jika sudah terakreditasi incinerator kami, tentu akan lebih baik lagi. Makanya kami tetap berusahan agar secepatnya memiliki dokumen izinya," tutupnya.


Editor : Syamsu Rizal

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.