Saturday, 19 August, 2017 - 19:00

Indra Azwan Berjalan Kaki Keliling Indonesia Tiba di Palu

TIBA DI PALU - Indra Azwan (57) pria asal Malang, Jawa Timur (Jatim), seorang ayah yang mencari keadilan atas kematian anaknya, saat berkunjung ke Sekertariat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) kota palu, jalan Rajawali no 28 Palu, Minggu 31 Juli 2016. Dia berencana bertemu dengan Gubernur Sulteng, Senin 1 Agustus 2016. (Foto : Eddy/ Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.com - Indra Azwan (57) Pria asal Malang, Jawa Timur (Jatim), seorang ayah yang mencari keadilan atas kematian anaknya, Rifky Andika yang menjadi korban tabrak lari oknum polisi pada tahun 1993 akhirnya tiba di Kota Palu, Sulawesi Tengah, Minggu 31 Juli 2016, setelah dirinya melakukan perjalanan dari Sulawesi Barat dengan berjalan kaki.

"Saya keliling Indonesia untuk mencari keadilan saja," ujarnya saat berbicara di Sekertariat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Palu, Minggu 31 Juli 2016.

Dia berkeliling ke daerah-daerah di Indonesia sejak tahun 2010 untuk menemui presiden. Lalu aksinya itu berlanjut lagi di tahun 2012, Indra mengunjungi provinsi-provinsi di Indonesia berharap bisa bertemu dengan para petinggi daerah. Bukan untuk meminta dukungan, katanya, tapi untuk bersilaturahmi saja.

Dia juga akan mengkampanyekan sulitnya mendapatkan keadilan di negeri ini. Dia mengaku kedatangannya di Kota Palu kali ini sebagai bagian dari perjuangan kemanusiaan. Sebelumnya dia pernah berjalan kaki dengan rute Indonesia, Malaysia, dan juga Indonesia-Mekkah, Arab Saudi.

"Saya mau ketemu Pak Gubernur atau Wakil Gubernurnya saja. Sebagai barang bukti saya menyediakan kertas dan juga spanduk untuk ditandatangani sebagai kelengkapan perjalanan saja. Sekaligus memaparkan kejadian yang menimpa saya, kalau mau didoakan, yah, syukur," ungkapnya kepada Metrosulawesi.

Dia berharap juga aksinya itu bisa menggugah hati masyarakat dan penegak hukum untuk terus menindaklanjuti masalah yang ada. Sebagai bukti bahwa keadilan di Indonesia masih ada.

"Saya sudah dari Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggar dan Sulawesi Barat, rencananya besok Senin 1 Agustus 2016 saya mau bertemu gubernur Sulawesi Tengah atau wakilnya saja bila tidak ada biar pejabat yang ada saja.Saya  akan mengkampanyekan keadilan di Indonesia," jelasnya.

Indra memasang banner bertuliskan "KUTAGIH JANJIMU PRESIDEN, AKSI JALAN KELILING INDONESIA" di tubuhnya, ada juga Banner yangbertuliskan “TERIMA KASIH MAHKAMAH AGUNG, YANG MENAMBAH PENDERITAAN SAYA 23 TAHUN MENCARI KEADILAN” Dengan itu, dia sudah mengunjungi 26 provinsi di Indonesia dan bertemu dengan berbagai pejabat. Mulai dari presiden hingga gubernur.

Dia mengaku telah bertemu dengan orang-orang nomor satu di negeri ini seperti Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono, dan Kepala Polisi RI Jenderal Badrodin Haiti yang saat itu menjabat sebagai Kapolda Jawa Timur, hingga Panglima Tentara Nasional Indonesia saat ini Gatot Nurmayanto, tapi tak pernah ada tindak lanjut.

“Semuanya hanya basa-basi,” katanya.

Bagi Indra, hukum di Indonesia seperti peribahasa “Tajam ke bawah dan tumpul ke atas”. Sementara itu untuk berjalan kaki keliling Indonesia, Indra mengaku tak punya persiapan khusus. Ia hanya mengandalkan jaringan penggemar sepakbola Arema yang berada di seluruh tanah air.

Korban Tabrak Lari

Saat ditanya apa wartawan apa yang membuat dirinya melakukan protes dengan berjalan kaki ini? Dia mengatakan, anaknya tewas ditabrak seorang polisi bernama Joko Sumantri pada 8 Februari 1993 silam, yang menyebabkan dirinya harus kehilangan anak kesayangannya itu.

“Anak saya Rifki ditabrak oleh sebuah mobil yang melintas di Jalan S. Parman, di dekat rumah kami di Jalan Genukwatu Barat Gang II No. 95, Malang, Jawa Timur, saat sepulang dari belajar kelompok. Alih-alih berhenti, mobil itu langsung melaju menjauhi tempat kejadian perkara (TKP). Seorang yang sedang melintas kemudian mengejar mobil tersebut dan berhasil menemukan pengemudinya. Ia adalah Letnan Satu Joko Sumantri yang bertugas di kepolisian wilayah Malang saat itu,” kisahnya.

Dia melanjutkan kasus tabrak lari itu pun langsung dilaporkan Indra kepada pihak berwajib. Sayangnya pihak berwenang baru melimpahkan kasus tersebut ke Pengadilan Militer beberapa tahun kemudian. Pengadilan Militer pun baru menyidangkannya pada 2008. Pelaku yang merupakan anggota Kepolisian itu diputus bebas, karena kasusnya dianggap kedaluarsa. Indra tak terima dengan putusan itu.

“Saya enggak tahu kenapa divonis bebas, apa peraturannya begitu, kasusnya kadaluarsa,” katanya.


Editor : Syamsu Rizal

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.