Sunday, 24 September, 2017 - 09:35

Inflasi Bulanan Kota Palu Relatif Stabil

Kepala BI Sulawesi Tengah, Purjoko (paling kanan) saat memberikan keterangan pers dalam kegiatan Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Sulawesi Tengah TW I 2016, Rabu 8 Juni 2016. (Foto : Tahmil Burhanudin Hasan/ Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.com - Rilis Bank Indonesia (BI) dalam kegiatan Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Sulawesi Tengah TW I 2016 Rabu 8 Juni 2016 memaparkan bahwa selama periode Januari-Maret 2016 inflasi Kota Palu secara berturut-turut sebesar 0,41 persen, 0,61 persen, dan 0,38 persen. Hanya pada Maret mengalami inflasi, sementara pada Januari-Februari mengalami deflasi.

“Memasuki triwulan I 2016 perkembangan inflasi bulanan Kota Palu relatif stabil dengan kecenderungan rendah,” kata Kepala BI Perwakilan Sulawesi Tengah, Purjoko.

Purjoko mengatakan dengan pencapaian tersebut maka tingkat deflasi tahun kalender hingga Maret 2016 sebesar -0,64 persen (ytd). Sementara itu, kata dia, secara tahunan tingkat inflasi Kota Palu meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Inflasi tahunan Kota Palu pada triwulan I 2016 tercatat sebesar 6,03 persen (yoy).

“Lebih tinggi dibandingkan inflasi triwulan sebelumnya yang mencapai 4,17 persen,” ungkapnya.

Namun demikian, kata Purjoko, mencermati kondisi perekonomian terkini, tekanan inflasi hingga Mei 2016 cenderung mereda dengan tingkat inflasi sebesar 3,60 persen (yoy) atau -0,38 persen (ytd).

“Tekanan inflasi pada triwulan laporan dipengaruhi oleh naiknya harga beras pada keseluruhan bulan di triwulan laporan, serta peningkatan ikan segar pada bulan Maret triwulan laporan,” katanya.

Purjoko mengatakan faktor cuaca juga menjadi salah satu penyebab dominan meningkatnya tekanan inflasi. Terutama meningkatnya indeks harga dari sub kelompok ikan segar. Selain itu, disparitas harga antar daerah juga menyebabkan hasil panen petani holtikultura banyak terserap ke luar Sulawesi Tengah.

“Itu menyebabkan pasokan ke Kota Palu berkurang dan membuat indeks harga sub kelompok bumbu-bumbuan di Kota Palu meningkat,” katanya.

Sementara itu, menghadapi Ramadan kali ini, Purjoko memprediksi tingkat inflasi akan kembali melaju naik. Berdasarkan tahun-tahun sebelumnya, khususnya menjelang Lebaran minat konsumsi masyarakat meningkat sehingga menyebabkan indeks harga juga bisa meningkat.

“Karena hal itu dimanfaatkan oleh sejumlah pedagang. Sebagai unsur TPID, kami mengantisipasi lonjakan jelang Lebaran, biasanya dua minggu jelang lebaran kebutuhan masyarakat meningkat,” kata dia.

Purjoko mengungkapkan upaya yang dilakukan pihaknya antara lain mengadakan operasi pasar, menggelar pasar murah dan mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pemborosan dengan membeli barang-barang yang dibutuhkan saja.

Aset Perbankan Sulteng TW I Tumbuh 15,61 Persen

Pada triwulan I 2016 total aset perbankan di Sulawesi Tengah tercatat sebesar R28,50 triliun, tumbuh 15,61 persen (yoy), lebih tinggi jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar 14,60 persen (yoy).

Menurut Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulawesi Tengah, Purjoko, kinerja perbankan di daerah ini pada triwulan laporan mengalami peningkatan positif dari sisi pertumbuhan kredit dan aset.

“Sedangkan dari sisi Dana Pihak Ketiga (DPK) relatif tumbuh lebih lambat dari triwulan sebelumnya,” ungkap Purjoko dalam kegiatan Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Sulawesi Tengah TW I 2016 di salah satu rumah makan di Kota Palu, Rabu 8 Juni 2016.

Kata dia, peningkatan aset perbankan juga diikuti oleh akselerasi  pertumbuhan kredit sebesar 12,15 persen (yoy). Sementara DPK tumbuh melambat sebesar 14,49 persen (yoy). Purjoko mengatakan untuk rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL)- gross, pada akhir Maret 2016 tercatat sebesar 2,06 persen, lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 1,86 persen.

“Kenaikan NPL terutama disebabkan oleh kenaikan NPL kelompok kredit yang disalurkan oleh bank umum dan bank BPR,” katanya.

Lanjutnya, NPL Bank Perkreditan Rakyat (BPR) pada triwulan 1 2016 tercatat  sebesar 0,89 persen atau lebih tinggi dari NPL triwulan sebelumnya sebesar 0,77 persen.

“Untuk NPL bank umum pada triwulan I 2016 sebesar 2,16 persen, lebih tinggi dari triwulan sebelumnya yang sebesar 1,94 persen,” katanya.


Editor : M Yusuf BJ

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.