Friday, 28 July, 2017 - 06:50

Ini Upaya BI Cegah Inflasi Bawang Merah di Palu

ILUSTRASI - BI berupaya mengajak petani untuk membudidayakan bawang merah untuk memenuhi kebutuhan di daerah ini, sehingga tidak terjadi lagi inflasi pada komoditi ini. (Foto : Ist)

Palu, Metrosulawesi.com - Bawang goreng Palu memang sudah sangat terkenal kualitasnya, bahkan sudah menjadi salah satu ole-ole khas Kota Palu bagi kalangan masyarakat dari luar Provinsi Sulawesi Tengah saat mengunjungi daerah ini. Namun, karena trennya bawang goreng di daerah ini justru menyebabkan para petani mengabaikan pembudidayaan bawang merah sehingga kurangnya pasokan bawang merah dari petani lokal memicu terjadinya inflasi.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Bank Indonesia (BI) perwakilan Sulawesi Tengah, Purjoko. Dia mengatakan, saat ini masyarakat memang terfokus pada produksi dan pembudidayaan bawang goreng, “Yang bawang goreng itu kan yang bisa jadi cemilan dan ole-ole. Tapi bawang merah yang biasanya dipakai untuk masak ini lah yang selama ini kita selalu mengalami kenaikan harga dan menyebabkan inflasi dikarenakan bawang merah kita masih didatangkan dari luar daerah,” katanya.

Sehingga, untuk mencegah terjadinya inflasi terus-menerus pada komoditi bawang merah di Sulawesi Tengah, BI berupaya mengajak petani untuk membudidayakan komoditi tersebut. Hal pertama yang dilakukan BI dengan memberikan bantuan benih bawang merah kepada petani.

“Kita memberikan bantuan benih bawang merah sebanyak dua ton kepada petani di Parigi beberapa waktu lalu, ini agar mereka mulai membudidayakan bawang merah,” katanya.

Tepatnya, bantuan tersebut diserahkan kepada kelompok tani di Desa Bolano Lambunu, Kabupaten Parigi Moutong pada 13 Juli lalu. Upaya ini, kata Purjoko, merupakan upaya awal menstimulus agar petani mau membudidayakan bawang merah untuk mencukupi kebutuhan masyarakat di daerah ini.

Sebelumnya, seperti dikutip bisnis.com, Bank Indonesia perwakilan Palu, mulai 2015 menjalin kerja sama dengan kelompok tani di Desa Bolano Lambunu, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, untuk mengembangkan penangkaran benih bawang merah.

Konsultan Usaha Kecil dan Menengah Bank Indonesia Perwakilan Palu Andi Sabirin Baso mengemukakan, usaha penangkaran benih bawang merah itu akan melibatkan 25 kepala keluarga petani dengan areal budi daya sekitar 11 hektare.

"Bila sistem budi dayanya berjalan baik, maka benih dua ton tersebut bisa menghasilkan sekitar 25 ton benih bawang yang bisa dijual petani kepada petani lainnya untuk pengembangan produksi bawang merah di berbagai daerah," ujarnya waktu itu.

Dari 25 ton benih itu kelompok tani Bolano Lambunu harus mengembalikan sebanyak empat ton kepada BI yang akan dimanfaatkan untuk membuka penangkaran di tempat baru, sehingga makin banyak petani yang terjangkau program ini.

"Kami akan mengawal kerja sama ini selama tiga tahun berturut-turut sehingga petani benar-benar siap untuk mengembangkan penangkaran benih ini secara mandiri," ujarnya.

Dinas Pertanian Sulawesi Tengah mencatat luas areal pertanaman bawang merah di Sulteng mencapai 1.300 hektare tersebar di 11 kabupaten dan Kota Palu dengan total produksi pada 2014 sekitar 10.000 ton.

Salah satu kendala pengembangan bawang merah di Sulteng adalah keterbatasan bibit unggul, sedangkan potensi lahan yang memiliki pengairan yang memadai masih sangat luas.

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.