Tuesday, 27 June, 2017 - 22:04

Januari-Maret, 61 Kasus Kekerasan Perempuan/Anak Terjadi

Kepala DP3A Sulteng Hj Sitti Norma Mardjanu didampingi jajarannya dan anggota Komisi II DPRD Sulteng Nasution Camang membuka kegiatan lokakarya di Restoran Kampung Nelayan Palu, Rabu, 17 Mei 2017. (Foto : Humas Pemprov)

Palu, Metrosulawesi.com - Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Provinsi Sulteng hingga Maret 2017 mencatat 61 kasus kekerasan terjadi terhadap perempuan dan anak di daerah itu.

Hal ini diungkapkan Kepala DP3A Sulteng Hj Sitti Norma Mardjanu saat lokakarya bertema “Pencegahan Kekerasan Terhadap Perempuan Melalui Penguatan Keluarga” di Restoran Kampung Nelayan Palu, Rabu, 17 Mei 2017.

“Jumlah kasus terlapor yang ditangani DP3A Sulteng tahun 2016 mencapai 336 kasus. Dari jumlah itu, 136 diantaranya terjadi pada anak. Sementara tahun ini sampai Maret tercatat sudah ada 61 kasus,” ujar Norma.

Norma secara tegas mengatakan bahwa kekerasan yang terjadi pada perempuan disebabkan adanya ketimpangan atau ketidakadilan gender. Ketidakadilan tersebut lanjutnya berupa ketimpangan peran dan hak antara laki-laki dan perempuan serta ditambah lagi cara pandang masyarakat terhadap status perempuan yang lebih rendah daripada laki-laki.

“Hak istimewa yang dimiliki laki-laki seolah-olah menjadikan perempuan sebagai barang milik laki-laki yang diperlakukan semena-mena dan ini merupakan pelanggaran dan menjadi isu nasional,” katanya.

Olehnya, mengubah cara pandang masyarakat menurutnya adalah sebuah tantangan yang besar. Untuk itu, ia mengimbau stakeholder bersinergi dan saling memberi dan menerima masukan agar jumlah kekerasan pada perempuan dan anak dapat ditekan.

“Upaya ini semua dilakukan oleh Pemerintah daerah karena didasari keyakinan bahwa keluarga adalah unsur terpenting dalam pembentukan karakter yang menentukan baik buruknya sifat dan sikap seseorang. Untuk itu, DP3A berwenang dan berkewajiban melakukan tindakan preventif maupun persuasif karena telah adanya kerjasama antara kami dengan kepolisian, kejaksaan, dinas sosial dan lembaga terkait lainnya,” tutur Norma.

Mantan Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sulteng itu mengimbau agar peserta bersedia melapor jika terjadi tindakan kekerasan dalam rumah tangga.

“Ini memang masih dianggap tabu, tapi tolong lapor. Ada kasus yang kami tangani setelah itu mereka (suami-istri,red) berdamai, yah seperti itulah rumah tangga meskipun ada juga yang sampai ke kepolisian,” tandas Norma.

Sementara itu, Ketua Panitia Lokakarya, Sukarti melaporkan, kegiatan tersebut bertujuan memberi edukasi untuk mencegah dan mengurangi angka kekerasan yang kerap dialami perempuan dan anak. Masih tingginya angka kekerasan menurutnya karena masih banyak masyarakat yang mempertahankan budaya patriarki.

“Selain itu alasan lainnya karena faktor ekonomi, perilaku buruk dan kurangnya saling menghargai dalam keluarga, termasuk pandangan masyarakat yang menganggap tabu untuk melaporkan kasus KDRT,” ucapnya.

Lokakarya berjalan interaktif dan diikuti sebanyak 65 peserta, yang tergabung dalam 15 kelompok usaha perempuan baik dari Kota Palu, Kabupaten Sigi dan Kabupaten Donggala. Acara turut dihadiri anggota Komisi II DPRD Sulteng Nasution Camang.


Editor : M Yusuf BJ

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.