Tuesday, 25 September, 2018 - 05:09

Jorok, Walikota Soroti RPH Tavanjuka

Walikota Palu, Hidayat, MSi saat melakukan sidak di Rumah Potong Hewan (RPH) Kelurahan Tavanjuka, Senin siang, 9 Juli 2018. (Foto: M Yusuf Bj/ Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.com - Wali Kota Palu, Hidayat M.Si mengaku menemukan banyak hal di Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Rumah Potong Hewan (RPH) Kelurahan Tavanjuka yang dianggapnya jorok. Hal itu didapatinya saat melakukan Inspeksi Mendadak (sidak) di RPH tersebut, Senin, 9 Juli 2018.

Wali Kota sengaja melakukan sidak karena sebelumnya telah mendapatkan laporan dari warga bahwa ada  bau busuk dari limbah RPH.

Benar adanya, sesampainya di RPH, wali kota menemukan seluruh lokasi berbau menyengat. Dia bahkan menyatakan bahwa pegawai yang ada di RPH tidak berperilaku bersih dan ramah terhadap lingkungan.

“Ini ada penampungan limbah kenapa tidak difungsikan, begitu juga dengan bak dan penampungan air yang baru dibangun tahun lalu. Dimana-mana ini penuh sampah luar biasa. Tahan betul kalian kerja di tengah bau busuk seperti ini. Saya tidak mau lihat lagi begini, tolong dikerahkan semua PHL untuk kerja bhakti,” tegasnya.

Terkait pembuangan saluran yang sudah rusak, wali kota langsung memanggil Dinas PU untuk membuatkan draenase yang baru.

“Saya mau secepatnya diatur, termasuk air suntik yang ada itu harus dapat difungsikan dengan baik sehingga tidak mubazir. Secepatnya RPH masukan perencanaan tentang instalasi air,” katanya.

Saat melakukan sidak, wali kota juga hanya menemuka 2 pegawai saja, tanpa ada Kepala UPTD yang beralasan sakit. Padahal, menurut informasi, di UPTD tersebut terdapat 26 Pegawai Harian Lepas (PHL).

“Kemana semua pegawai disini. Kalau memang tenaga PHL sebanyak itu sudah tidak masuk kerja, diberhentikan saja,” kesalnya.

Diketahui, saluran pembuangan limbah RPH tidak dalam kondisi normal. Menyebabkan warga sekitar terganggu akan limbah dan bau busuk dari kegiatan pemotongan.

Hidayat yang hanya datang bersama seorang supir dan ajudannya turun langsung memeriksa kondisi saluran pembuangan limbah. Hasilnya, Walikota mendapati beberapa hal teknis yang tidak berjalan semestinya.

Semisal adanya penyumbatan saluran penyaringan darah sapi dalam instalasi pembuangan air limbah (IPAL). Kemudian pipa pembuangan hasil olahan limbah menuju sungai yang tidak memadai dan tidak adanya sistem pembuangan jeroan hewan yang memadai. 

Hidayat juga menyoroti beberapa bangunan infrastruktur yang mubazir. Dibangun lantas tidak digunakan sesuai fungsinya. Contohnya bak penampungan air dan bak pencucian jeroan.

Alhasil, air dari sumur suntik di lokasi RTH tidak dapat tertampung dan terbuang percuma. 

"Pasti ini dibangun pakai anggaran yang tidak sedikit,"tegas Hidayat disela peninajuannya.

Kedatangan wali kota ke RTH sendiri adalah untuk menindaklanjuti keluhan warga sekitar. Dari temuan itu Hidayat mengaku akan memerintahkan Dinas Pekerjaan Umum untuk mengalokasikan anggaran bagi perbaikan sarana RTH. Menurut dia, saluran pembuangan hasil penyaringan darah seharusnya diganti dengan pola drainase berbahan U-dit. Begitu juga sistem pipanisasi pembuangan lainnya harus ditambah dan diperbaharui. Termasuk pengadaan bak penampungan limbah jeroan.

Hidayat juga memerintahkan langsung pengelola RTH untuk berkoordinasi dengan Lurah Duyu dan Kabonena  sekaitan penanganan limbah jeroan sebagai pakan lele.

"Jadi limbah jeroan ini ditampung lalu koordinasikan dengan lurah Duyu serta Kabonena. Agar limbah itu dimanfaatkan sebagai pakan lele,"jelasnya.

Selanjutnya pengelola RTH sebut Hidayat mulai saat ini harus bersikap tegas untuk menolak jasa pemotongan yang tidak membayar retribusi. Sebab salah satu keluhan pengelola yakni adanya oknum pengusaha yang menolak bayar retribusi. 

"Kalau ada yang mengancam laporkan ke saya," tegasnya.

Demikian halnya tenaga harian lepas (PHL). Hidayat meminta agar pihak RTH memecat PHL malas. Yang sejauh ini ia ketahui PHL RTH berjumlah 20 orang.

"Kalau ada yang malas pecat saja. Agar pengelolaan RTH lebih optimal. Jangan cuma banyak tenaga tapi kondisi kebersihan saja tak mampu ditangani," pungkasnya.

Berita Terkait