Thursday, 20 September, 2018 - 03:21

K1 Palu Dimintai Rp3,5 Juta Per Orang

ILUSTRASI - Pungli terhadap honorer K1 Palu. (Grafis : Metrosulawesi/Agung Rifai)

Biaya Perjalanan Pengurusan SK ke Pusat

Palu, Metrosulawesi.com - Pungli diduga terjadi dalam pengurusan tenaga honorer K1 di Kota Palu. Dana itu untuk membiayai akomodasi Palu-Jakarta PP, guna pengurusan SK (surat keputusan) di Menpan Pusat. Ironi, karena sampai saat ini SK-nya tak kunjung tiba.

“Saya telah membayar sebesar dua juta. Malah, ada sebagian teman saya telah membayar lunas sebesar Rp3,5 juta. Dan tempat kita melakukan pembayaran saat itu di Musalah Balitbangda Provinsi,” kata sumber Metrosulawesi yang minta namanya tidak disebutkan, Kamis 21 April, pekan lalu.

Dana itu kata sumber itu, dibayarkan kepada Forum K1 Sulteng pada tahun 2014 lalu.

“Merekalah yang mengurusnya ke Jakarta. Dan mereka juga dijanjikan bahwa nama-nama yang tercatat ini sudah net SK-nya akan keluar,” kata sumber itu.

Sayangnya kata sumber itu, sudah hampir dua tahun berlalu, SK yang dijanjikan tidak turun.

Sumber itu mengaku sedikit keberatan dengan pembayaran yang dipatok sebesar Rp3,5 juta per orang. 

“Kita tidak pernah dimintai dana sesuai keikhlasan. Kalau memang kemanisan hati, lalu kenapa kita dimintai dan dipatok tiga juta setengah. Kalau memang 50 ribu atau 100 ribu rupiah, okelah kita masih bisa kumpul. Ini kita dimintai sebanyak Rp3,5 juta untuk pembiayan tranportasi mereka berangkat ke Jakarta,” jelas sumber itu.

Yang mencengangkan bagi honorer yang tidak membayar, namanya tidak akan dikirim ke Jakarta.

“Kita diancam siapa yang tidak kumpul (membayar.red), namanya akan diganti dengan nama orang lain. Dan terbukti dua orang teman saya yang tidak mampu kumpulkan dana tersebut namanya tidak tercatat saat di-faks,” kata sumber itu.

Sumber itu mengatakan, dana tersebut diserahkan kepada Forum Honorer K1 Sulteng sebagai mediator dalam pengurusan berkas untuk SK dan base di Menpan RB.

Ketua Forum K1 Sulteng, Irfan Tajani yang dikonfirmasi soal pungutan Rp3,5 juta per orang itu, membantah hal itu. 

“Jadi untuk soal dana sekitar tiga juta setengah itu sama sekali tidak ada. Saya tidak tahu dan saya cuman terima uang untuk biaya transportasi dari Palu ke Jakarta untuk memediasi teman-teman agar bisa diperjuangkan, khusus Kategori I,” jelas Irfan.

Irfan mengaku tidak pernah menerima uang sebanyak itu dan tidak tahu persoalan itu. 

“Saya tidak pernah menerima uang. Dan saya ini bingung itu uang apa, serta untuk anggaran yang sekitar tiga juta setengah saya tidak tahu itu siapa. Itu bukan saya. Dan saya sama sekali tidak tahu menahu soal itu,” ungkap Irfan.

Irfan mengatakan, Forum K1 merupakan suatu wadah perjuangan teman-teman KI yang telah dizalimi oleh Pemda.

“Jadi tanpa sedikitpun kita tidak pernah menerima uang. Kecuali ongkos kita ke sana dan itu bukan pungli. Karena itu adalah keikhlasan, bahkan yang kita kumpul ada yang 50 ribu sampai 100 ribu rupiah dan itupun tidak semuanya terkumpul. Saya terima uang itu hanya untuk biaya transportasi. Dalam hal ini biaya makan dan biaya nginap disana,” jelas Irfan.

Irfan menambahkan, pihaknya juga siap ketika misalnya ada penuntutan dari pihak yang merasa dirugikan, “Saya siap, mau tuntut apa buktinya mana dan apa yang mau mereka buktikan. Saya adalah Ketua Forum dan di Forum itu bukan hanya saya sendiri,” tambahnya.

Sebelum memberikan penjelasan Irfan sempat membentak dan mengancam wartawan Metrosulawesi yang ingin mengkorfirmasi.

“Mau ba’apa disini mau cari Pungli? Metro, saya kenal pak Ahmad Ali yang disitu, ente datang ba apa kemari, dan soal Klarifikasi itu tidak perlu,” bentak Irfan. 


Editor : Udin Salim