Monday, 23 July, 2018 - 14:16

Kakanwil: Ponpes Lembaga Pendidikan Tertua

WORKSHOP - Kepala Kanwil Kemenag Sulteng H Rusman Langke (kanan) saat menyampaikan arahan usai membuka kegiatan Workshop penyelenggaraan program Wajardikdas Ponpes Salafiyah se Sulteng di Palu, Senin, 9 Juli 2018. (Foto: Ist)

Palu, Metrosulawesi.com - Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam (Pakis) Kantor wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Sulteng, melaksanakan Workshop  penyelenggaraan program wajib belajar pendidikan dasar (Wajardikdas)  pada Pondok pesantren (Ponpes) Salafiyah se- Sulteng Tahun 2018, di salah satu hotel di Palu, mulai Senin, 9 sampai 11 Juli 2018.

Kegiatan itu diikuti 50 peserta terdiri dari, Kanwil 1 orang, Kota Palu 20 orang, Kabupaten Sigi 4 orang, Kabupaten Parimo 9 orang, Kabupaten Poso 2 orang, Kabupaten Banggai 2 orang, Kabupaten Touna 1 orang, Kabupaten Morowali 2 orang, Kabupaten Buol 6 orang, Kabupaten Banggai laut 1 orang, Kabupaten Tolitoli 2 orang.

Kegiatan itu bertujuan mendorong terwujudnya program wajib belajar pendidikan dasar pada setiap Ponpes salafiyah yang ada di Sulteng dan untuk mengoptimalisasikan kinerja tenaga pendidik dan kependidikan dalam penuntasan wajib belajar pendidikan dasar pada Ponpes salafiyah.

Kepala Kanwil (Kakanwil) Kemenag Sulteng, H Rusman Langke mengatakan Wajardikdas dilingkungan Ponpes  tahun ini mulai diprogramkan oleh Kemenag Sulteng. Menurutnya, program itu sangat strategis karena Undang-Undang Nomor 20 tentang Pendidikan sistem nasional telah mengamanatkan Kemenag sebagai tokoh tenaga pendidik dan kependidikan lingkungan Ponpes.

“Bagaimana kita bisa menggembleng, mendidik generasi kita dimasa mendatang untuk menjadi generasi yang berkarakter dan berakhlaktulkarimah yang baik. Terimakasih kepada Bidang Pakis yang telah memprogramkan ini, karena menurut saya ini sangat strategis,” katanya.

Dikatakan Kakanwil, peserta kegiatan yang merupakan pelaku langsung yang mengasuh Ponpes sangat penting untuk memahami bahwa Ponpes merupakan salah satu institusi pendidikan tertua di Indonesia yang telah eksis berabad-abad. Sehingga menurut Kakanwil Ponpes harus dipelihara sebaik-baiknya sesuai kondisi daerah masing-masing.

“Sebelum kita merdeka, pendidikan yang paling terdepan adalah Ponpes, para kiyai yang melaklukan pembelajaran hanya di surau, musholah dan masjid karena saat itu kita dikejar-kejar bangsa penjajah. Itu sejarah yang membuktikan bahwa lembaga pendidikan tertua di Indonesia itu adalah Ponpes,” jelasnya.

Ditambahkannya, secara nasional Ponpes sudah mencapai kurang lebih 16 ribu, termasuk di Sulteng yang berjumlah 117. Meski belum terlalu banyak seperti di daerah Gorontalo,  Mantan Kakanwil Gorontalo itu mengaku bersyukur pada pengelolah yang sudah memiliki keikhlasan mengabdi untuk mencerdaskan generasi-generasi yang akan datang.

“Terkait dengan Wajardikdas 9 tahun, tidak boleh lagi ada generasi kita tidak mengenyam pendidikan, tidak boleh lagi warga kita yang tidak punya pendidikan,” pintanya. 

Rusman mengharapkan guru-guru harus bisa meningkatkan kualitas. Karena baginya dizaman sekarang semua serba terbuka  tidak ada alasan lagi  tidak punya kesempatan, semua bebas belajar tidak perlu lagi kita mengungjungi perpustakaan untuk mencari referensi karena sekarang mencari pengetahuan semua ada handpone.

“Olehnya harus diperkuat semua, baik ilmu-ilmu agama maupun ilmu umum lainnya. Tadi saya baru buka berita ada OSN yang dilaksanakan di Padang, dalam event itu semua bersaing antara Madrasah dan sekolah umum. Alhamdulillah madrasah mendapat 36 medali baik emas, perak dan perunggu, itu membuktikan bahwa kita sudah bisa bersaing,” tandas Rusman.    

 

Editor: M Yusuf Bj