Saturday, 19 August, 2017 - 19:24

Kapolri: Amankan Markas, Amankan Diri saat Bertugas

Jakarta, Metrosulawesi.com - Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengingatkan jajarannya memperketat pengamanan markas komando (mako). Personel yang bertugas juga diminta meningkatkan kewaspadaan guna mencegah teror.

"Kami sudah menugaskan kepada seluruh anggota di jajaran untuk mengamankan mako dan mengamankan diri masing-masing pada saat bertugas, di rumah, maupun di perjalanan," ujar Tito di Rupatama Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa 4 Juli.

Tito mewanti-wanti agar jajarannya selalu waspada untuk mencegah terulangnya kasus teror terhadap polisi. Belakangan sambung Tito, teror mengarah langsung ke polisi.

"Kantor polisi ini kan adalah ruang publik, di mana masyarakat membuat laporan, ada yang dijadikan saksi segala macam. Nah ini dibuat pengamanannya lebih ketat sehingga orang yang masuk nggak sembarangan. Saya sudah mengumpulkan semua jajaran Polri bertugas dalam penanganan terorisme," imbuh Tito.

Penguatan penjagaan kantor polisi disebut Tito juga penting dilakukan. Penjagaan tak boleh lengah karena kelompok teror menurut Tito biasa beraksi saat kesiagaan mengendur.

"Di samping memperkuat pengamanan masing-masing, yang saya sangat mengandalkan kepada pasukan pengejar, saya meminta kepada jajaran Densus intelijen untuk memetakan, mengetahui posisi mereka, mem-profil sehingga mereka ditempatkan dalam akuarium, mereka nggak tahu kita, kita tahu dia," papar Tito.

Kapolri mengatakan ada tren baru dalam dunia terorisme selain lone wolf. Lone wolf sendiri adalah istilah melakukan penyerangan seorang diri. Selain lone wolf, ada tren baru yang disebut leaderless jihad.

"Sekarang ada juga namanya fenomena leaderless jihad atau jihad tanpa pemimpin. Dia tidak terkait dengan network (jaringan)," kata Tito.

Pelaku leaderless jihad itu diduga membuka website radikal, lalu terinspirasi konten di dalamnya, kemudian bergabung dalam percakapan dengan kelompok radikal tersebut. Setelah itu, pelaku bergerak sendiri, mulai dari belajar merakit, menentukan target, hingga membuat metode penyerangan.

"Ikut internet chatting kelompok telegram yang radikal, terpengaruh, belajar sendiri cara mengatur serangan, survei sendiri, dan kemudian melakukan serangan yang dia pilih sendiri," ucap Tito. (aud)

Tags: 
Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.