Monday, 27 March, 2017 - 22:51

Kasus DBD di Sulteng Terus Meningkat

Muh Saleh Amin. (Foto : Michael Simanjuntak/ Metrosulawesi)

KASUS DBD DI SULTENG
  • 2014: Kasus DBD di Sulteng 1.307, 9 meninggal (Palu 579 kasus/ 1 meninggal, Buol 194 kasus, Tolitoli 142 kasus, Parigi Moutong 75 kasus).
  • 2015: Kasus DBD di Sulteng 1.579, 11 meninggal (Palu 650 kasus/ 3 meninggal, Buol 231 kasus/ 1 meninggal, Tolitoli 220 kasus/ 2 meninggal, Sigi 103 kasus/ 1 meninggal, Poso 179 kasus/ 2 meninggal, Parimo 16 kasus/ 2 meninggal, Morowali 81 kasus, Tojo Unauna 32 kasus, Morowali Utara 26 kasus, Banggai 21 kasus, Donggala 18 kasus, Bangkep 2 kasus).
  • 2016: Kasus DBD di Sulteng 2.273, 22 meninggal (Kota Palu 635 kasus).

Palu Tertinggi, Buol Urutan Kedua

Palu, Metrosulawesi.com - Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Sulteng Muh Saleh Amin menungkapkan dalam tiga terakhir kasus Demam berdarah dengue (DBD) masih tertinggi di Kota Palu.

“Tiga tahun berturut-turut dari 2014, 2015 dan 2016 kasus DBD di Kota Palu selalu yang tertinggi dibanding kabupaten-kabupaten,” kata Saleh di Palu, Rabu, 8 Maret 2017.

Dia menerangkan, pada 2014 kasus DBD wilayah Sulteng 1.307, sembilan orang di antara penderita itu meninggal dunia. Dari jumlah itu, 579 kasus DBD berada di Kota Palu dengan penderita meninggal dunia satu orang. Sementara di kabupaten, tertinggi di Buol sebanyak 194 kasus, disusul Tolitoli 142 kasus dan Kabupaten Parigi Moutong 75 kasus.

Untuk 2015, jumlah kasus DBD dan meninggal dunia di Sulteng meningkat dengan penderita mencapai 1.579 kasus, meninggal 11 penderita dengan rincian Kota Palu 650 kasus dengan penderita meninggal tiga orang, kabupaten Buol 231 meninggal dunia satu orang dan Tolitoli 220 kasus dengan dua penderita meninggal dunia.

Kemudian disusul Kabupaten Sigi sebanyak 103 kasus dengan penderita meninggal satu orang, Poso 179 kasus penderita meninggal dua orang dan Parigi Moutong 16 kasus dengan penderita yang meninggal dua orang. Untuk kasus DBD di kabupaten lain tanpa penderita meninggal yaitu Morowali 81 kasus, Tojo Unauna 32 kasus, Morowali Utara 26 kasus, Banggai 21 kasus, Donggala 18 kasus dan Banggai Kepulauan 2 kasus. Sementara di kabupaten Banggai Laut tidak ditemukan kasus DBD di tahun 2015.

“Jadi setiap tahunnya bertambah, misalnya pada 2016 kasus DBD semakin meningkat menjadi 2.273 yang meninggal 22 orang. Untuk kasus  penderita terbanyak tetap di Kota Palu sebanyak 635 orang.  Tapi kalau penderita meninggal terbanyak di Kabupaten Tolitoli dan Banggai masing-masing 6 penderita meninggal dunia. Kalau di Kota Palu hanya 2 rang meninggal,” terang Saleh.

Sementara untuk 2017 ini, Kabid menyatakan dirinya belum menerima data penderita DBD karena masih berada dipengelola program. Namun mengacu dari tahun-tahun sebelumnya, hampir pada setiap bulan tahun berjalan penderita DBD selalu ada.

“Tapi sampai sekarang untuk kasus DBD di Sulawesi Tengah belum pernah ada yang ditetapkan kejadian luar biasa,” katanya.

Saleh menuturkan, kecenderungan nyamuk aedes aegypti lebih banyak berhabitat di permukiman kota. Sehingga tidak mengherankan jumlah penderita DBD di Kota Palu terus meningkat.

“Yang paling diantisipasi itu saat musim penghujan seperti sekarang ini, masyarakat harus intens menguras, menutup dan mengubur tempat-tempat yang berpotensi jadi habitat nyamuk aedes aegypti untuk mencegah DBD,” tandas Saleh.


Editor : Udin Salim

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.