Wednesday, 26 April, 2017 - 23:48

Error message

  • Warning: Invalid argument supplied for foreach() in views_join->build_join() (line 1548 of /home/metrosulteng/public_html/profiles/openpublish/modules/contrib/views/includes/handlers.inc).
  • Warning: Invalid argument supplied for foreach() in views_join->build_join() (line 1548 of /home/metrosulteng/public_html/profiles/openpublish/modules/contrib/views/includes/handlers.inc).
  • Warning: Invalid argument supplied for foreach() in views_join->build_join() (line 1548 of /home/metrosulteng/public_html/profiles/openpublish/modules/contrib/views/includes/handlers.inc).
  • Warning: Invalid argument supplied for foreach() in views_join->build_join() (line 1548 of /home/metrosulteng/public_html/profiles/openpublish/modules/contrib/views/includes/handlers.inc).

Kasus Qool It Jangan Dibarter

ILUSTRASI - Tersiar kabar ada dugaan intervensi dalam penyelidikan kasus kematian Korlina Kubu (baby sitter) di Qool It. (Grafis : Metrosulawesi)

KPKPST Desak Polisi Ungkap Kematiaan Baby Sitter

Palu, Metrosulawesi.com - Sudah hampir setengah tahun kasus kematian Korlina Kubu (baby sitter) di Qool It masih menjadi misteri. Tersiar kabar ada dugaan intervensi dalam penyelidikan kasus itu.

Ketua Kelompok Pejuang Kesetaraan Perempuan Sulawesi Tengah (KPKPST), Soraya Sultan, meminta polisi segera mengungkap kasus itu. 

“Kuncinya ada di pihak kepolisian. Jika dianggap ada sesuatu yang ganjil, seharusnya diselesiakan sedini mungkin, agar korban dan keluarga mendapatkan keadilan, sudah empat bulan berjalan namun kasus ini belum jelas bagaimana penyebab kematian baby sitter tersebut,” katanya menjawab Metrosulawesi, Jumat 7 April 2017.

“Keadilan terhadap almarhum harus dirasakan agar kedepan tidak terulang lagi kasus seperti ini. Posisi pada kasus ini sebenarnya sangat lemah, karena posisinya almarhum hanya pengasuh anak, warga miskin dan tinggal disitu, sehingga potensi apa saja bisa terjadi, tidak kecuali tindakan kekerasan,” sambungnya.

Pihaknya mengingatkan agar kedepan baby sitter harus berasal dari yayasan yang resmi.

“Jika berasal dari yayasan baby sitter resmi, sebenarnya keuntungannya adalah yayasan tersebut bisa melakukan tuntutan. Namun karena korban hanya sebagai baby sitter pengasuh biasa, sehingga dorongan untuk menyelesaikan kasus ini hanya berada di pihak keluarga,” katanya.

Soraya pun mengaku siap mendampingi keluarga korban untuk menyelesaikan kasus itu.

“Kami bersedia mengawal kasus tersebut, karena ini persoalan keadilan, sehingga harus diselesaikan,” sambungnya.

Soraya menjelaskan KPKPST bersama lembaga yang fokus terhadap perlindungan perempuan dan anak sejak awal siap untuk mendampingi, ”Sejak beberap bulan lalu kami sudah siap untuk mendampingi, hanya karena pengaduan belum sampai ke kami, sehingga kami belum turun menangani kasus tersebut,” katanya.

Terkait kasus ini, Soraya mengaku sudah mendapatkan informasi bahwa keluarga sudah tidak keberatan.

“Namun inikan sudah masuk ranah hukum, sehingga mau keberatan atau tidak, korban harus mendapatkan keadilan, siapapun pelakunya, ini harus diselesikan,” jelasnya.

Soraya menambahkan bahwa pekerjaan sebagai baby sitter sangat rentan mendapatkan kekerasan.

“Almarhum hanya baby sitter, sebenarnya bagian sebagai pembantu atau pengasuh anak, sehingga rentannya terkena kekerasan ada,” katanya.

Pihaknya berharap agar pihak korban mau membuka suara.

“Beberapa kasus di Sulteng sudah banyak terjadi bahkan tidak jarang menimbulkan korban jiwa, bukan karena mereka tidak membuka suara, tidak jarang dari mereka karena ketakutan,” katanya.

“Kami sebagai pendamping tidak bisa mendamping jika korban tidak membuka suara, sehingga kami sangat mengharapkan pihak korban, siapapun harus membuka suara jika merasa tidak adanya keadilan,” sambungnya.

Masih terkait dengan kasus kematian baby sitter tersebut, Ketua Komnas HAM Sulteng, Dedy Askari, kepada salah satu media berharap agar pihak kepolisian profesional menanganani kasus itu.

“Maka ayo silakan ungkap penyebab tewasnya baby sitter Qool it,” kata Dedy.

Dedy mengatakan, dalam pertemuannya dengan Kapolres Palu belum lama ini, Kapolres sempat mengungkapkan kematian baby sitter itu ada sedikit keganjilan. Ini terlihat dari ciri fisik luar jenazah korban.

Dedy menduga lambannya penanganan kasus Qool It disebabkan adanya kedekatan pemilik Qool It dengan pejabat di Polda Sulteng. Bisa saja katanya, ada kepentingan pribadi yang memanfaatkan kasus ini dengan menutupi penyidikan kasus itu.

“Janganlah ini kasus ini dijadikan barang barteran seperti barang barteran,” ujar Dedy.


Editor : Udin Salim

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.