Saturday, 25 November, 2017 - 11:54

Kepolisian Latih 138 Suro Adat

Walikota Palu, Hidayat M.Si foto bersama kepala OPD lingkup Pemkot Palu saat perayaan HUT Kota Palu beberapa waktu lalu. (Foto : M Yusuf Bj/ Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.com - Walikota Palu, Hidayat M.Si melepas 138 Suro Adat se-Kota Palu untuk dilatih oleh pihak kepolisian di halaman Kantor Balaikota Palu, Minggu, 12 November 2017.

Walikota Hidayat dalam sambutannya mengatakan Pemkot saat ini dalam membangun sumberdaya manusia melibatkan tokoh-tokoh formal termasuk suro yang selama ini peran mereka dikesampingkan.

"Suro dalam bahasa Indonesia nya adalah Polisi Adat yang menjaga hukum adat yang ada di kelurahan. Sebagai tokoh informal diharapakan dapat mampu menjaga wilayahnya dengan baik,” jelasnya.

Menurutnya tugas para suro yakni menjaga nilai toleransi dan saling menghargai.

“Karena nilai ini telah hilang, dan kesannya masyarakat sekarang sudah hidup sendir-sendiri.  Masyarakat Kaili tempo dulu sangat menjaga hubungan baik antara sesama manusia tanpa mengenal suku, ras dan sebagainya, hal inilah yang harus kita tumbuhkan, sehingga suro bertugas untuk menjaganya,” jelasnya.

Kata dia, hal itu adalah upaya untuk memberikan peran dan penguatan kepada tokoh-tokoh informal sehingga lembaga kearifa lokal akan bangkit kembali.

“Lembaga adat -lembaga adat ini tidak terstruktur dari atas, karena kalau seluruh lembaga terstruktur dari atas hingga ke bawah, maka hal itu yang mengakibatkan kemandekan lembaga itu sendiri. Jika lembaga itu lahir dan tumbuh dengan konsep kebersamaan dalam menjaga nilai toleransi yang ada ditengah masyarakat, maka itu akan solid,” jelasnya.

Hidayat mengatakan tugas lembaga adalah menjaga nilai-nilai positif yang ada ditengah masyarakat.

“Dan siapa yang melanggar nilai itu, maka akan dijemput oleh Suro.  Sehingga kalau terjadi persoalan di lingkungan yang dinilai telah membuat gejolak sosial di masyarakat, maka tugas suro untuk menjemput oknum tersebut dan membawanya ke Bantaya untuk menyelesaikan masalah (tangara/ bahasa kaili),” jelasnya.

Hidayat mengungkapkan peradilan adat dengan peradilan positif adalah dua hal yang berbeda.

“Peradilan adat adalah upaya mendamaikan, tetapi peradilan postif mencari benar atau salah. Konsep ini berbeda, kalau peradilan pemerintah, maka oknum yang bersalah di hukum penjara namun kadang menyisakan dendam. Sedangkan peradilan adat, sanksi yang dijatuhkan bersifat mendamaikan, termasuk menghilangkan rasa dendam antara kedua pihak yang bertikai,” jelasnya.

Usai acara pelepasan yang dirangkaikan dengan jabat salam, 138 Suro Adat itupun dibawa ke lokasi pelatihan di Kompleks SPN Labuan Panimba, ke-138 Suro Adat tersebut akan menjalani pelatihan selama seminggu.

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.