Tuesday, 26 September, 2017 - 06:18

Kerusakan Lingkungan di Tolitoli Makin Parah

Salah satu kerusakan lingkungan akibat galian C di Tolitoli. (Foto : Ist)

Tolitoli, Metrosulawesi.com - Pengambilan timbunan tanah gunung, di sekitar Jala Sumalikat, Kelurahan Nalu, Tolitoli, semakin memperparah kerusakan lingkungan di kawasan pemukiman tersebut.

Hasil pantauan wartawan Metrosulawesi, Rabu sore kemarin menemukan sekitar enam titik bekas galian tanah gunung, tanpa melalui prosedur yang benar. Demikian halnya, instansi terkait tampaknya menutup mata terhadap kerusakan itu.

Anehnya, papan tanda larangan dari badan lingkungan hidup setempat diabaikan begitu saja.

Salah seorang pejabat lingkungan di Keluarahan Nalu, menyebut penggalian tanah gunung tersebut menggunakan peralatan berat seperti eksavator dan loder miliki pengusaha di Malosong, Kelurahan Baru.

Tanah timbunan tersebut diperuntukkan keperluan proyek pemerintah maupun pribadi. Meskipun ada tanda larangan dan ancaman bagi pelanggarnya, namun kegiatan pengambilan tanah timbunan ini terus berlangsung tanpa didukung dokumen lingkungan yang benar.

Eksekutif Lembaga Pemantau Aset Daerah Rudi, mengatakan seperti petugas lingkungan yang kurang serius menangani masalah ini sehingga tidak ada yang memperdulikannya.

"Kita baru akan sadar kalau saja bahaya sudah terjadi, seperti banjir dan lainnya," katanya.

Lembaga ini menyebut, masalah lingkungan pemerintah harus tegas dalam menegakkan  aturan tanpa pilih kasih. Jika ini dibiarkan, kami  mensinyalir ada sesuatu yang wajar antar pejabat lingkungan dan pa pengambil tanah timbungan itu.

Jalan Sumalikat yang membujur di kaki gunung tersebut merupakan daerah paling rusak lingkungannya, akibat pengambilan tanah yang dilakukan sejumlah pengusaha maupun perorangan di kota Tolitoli.

Bahkan, beberapa kaki gunung tersebut sudah habis digali untuk diambil tanahnya menimbun kawasan rawa di kota tersebut.

Sejauh ini belum ada keterangan resmi dari pejabatan Badan Lingkungan Hidup Tolitoli, yang telah memasang papan larangan mengambil tanah tanpa prosedur seperti mengantongi keterangan UKL UPL.


Editor : Subandi Arya

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.