Tuesday, 26 September, 2017 - 17:21

Ketika Puluhan Turis Tiba Di Tolitoli (1)

SAMBUT TURIS - Bupati Tolitoli dan turis bermain gulintang pada prosesi penyambutan puluhan turis di Pantai Sabang Desa Sabang Kecamatan Galang, Tolitoli, Sabtu 3 September 2016. (Foto : Syamsu Rizal/ Metrosulawesi)

Gulintang Sang Bupati hingga Rumah Unik

Bupati Tolitoli Saleh Bantilan sedikit pun tak terlihat ragu memainkan musik gulintang. Dia meraih stik dan sejurus kemudian beraksi memainkan alat musik tradisional itu dengan penuh semangat. Sementara itu, seorang turis yang duduk di sampingnya tak mau kalah, menabuh gendang dengan tangan kosong dengan bunyi yang selaras.

BEGITULAH salah satu pemandangan yang tersaji dalam prosesi penyambutan puluhan wisatawan mancanegara di Pantai Sabang Desa Sabang Kecamatan Galang, Tolitoli. Puluhan wisatawan itu datang ke Kota Cengkeh menggunakan belasan yacth atau kapal layar.

Sebagai tamu istimewa, Bupati Saleh Bantilan harus turun tangan menunjukkan kebolehannya memainkan gulintang, menyemarakkan pesta penyambutan. Tak kurang dari tiga menit, bupati nyentrik dengan kacamata hitamnya itu sukses memukau penonton.

Penampilannya kemudian diakhiri dengan riuh tepuk tangan turis dan warga di Pantai Sabang. Sang Bupati pun tertawa lepas, sepertinya puas dengan penampilannya sembari menyalami turis yang sedari tadi mengirinya dengan gendang.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sulawesi Tengah Norma Mardjanu dan Ketua Dewan Adat Tolitoli yang duduk di jejeran kursi depan, di bawah tenda juga memberikan aplaus, pertanda pujian. Pada sudut lain, sebagian warga tak acuh dan hanya sibuk dengan barang jualannya.

Pagi itu, Sabtu 3 September 2016 suasana penyambutan puluhan turis berlangsung akrab dan seru. Turis yang didominasi usia paruh baya berbaur dengan ratusan masyarakat setempat yang berwisata di Pantai Sabang.

Di bawah tenda dan rindang pohon, turis dijamu dengan masakan khas dan aneka kue tradisional. Puluhan guide (pemandu wisata) juga tampak sibuk menjelaskan nama sekaitan kuliner tradisional itu kepada turis.

Selain atraksi musik oleh Bupati Saleh Bantilan, turis juga disuguhkan beberapa tarian bernuansa gembira yang dipersembahkan putri-putri cantik. Diawali dengan tarian malgarai dan moduai.

Selanjutnya, tarian yang menyita perhatian adalah tari permainan. Tari ini tentang beberapa jenis permainan tradisional antara lain kucing tikus, main hadang, suteng, injak kaki, dan anjilong.

Suasana tiba-tiba berubah menjadi riuh ketika salah seorang turis berdiri dari tempat duduknya dan mencoba permainan bolu atau bambu yang dimainkan dengan cara melompat. Dia hampir saja terjatuh saat meloncat di antara bambu yang dimainkan empat penari.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sulawesi Tengah Norma Mardjanu yang menyaksikan prosesi penyambutan turis menyatakan apresiasinya. Dia mengatakan, Tolitoli yang memiliki sejumlah destinasi wisata unggulan dalam beberapa tahun ini ramai dikunjungi kapal layar (yacth) maupun kapal cruise.

Pada Februari lalu, daerah ini juga dikunjungi ratusan turis menggunakan cruise. Dan, Oktober nanti, dijadwalkan kembali dikunjungi cruise yang mengangkut ratusan turis.

“Kita berharap semakin banyak turis yang datang ke Sulawesi Tengah, termasuk Tolitoli. Sepanjang tahun ini, jumlah wisatawan yang datang ke Sulawesi Tengah memang menunjukkan peningkatan yang luar biasa,” kata Norma Mardjanu ditemui di lokasi kegiatan.

Pihaknya sengaja datang ke Tolitoli untuk memberikan support kepada pemerintah daerah dan mitranya yang sukses mendatangkan turis mancanegara. Menurutnya, banyaknya kunjungan wisata di Sulawesi Tengah tidak telepas dari peranan semua pihak serta banyaknya ivent yang digelar pemerintah daerah.

Setelah penyambutan turis di Tolitoli, ada beberapa ivent wisata akan digelar dalam waktu dekat di antaranya Gema Budaya Buol (Buol), Festival Teluk Tomori (Morowali Utara), Pesona Teluk Tomini (Parigi Moutong), dan Festival Danau Poso (Poso).

Dengan banyaknya ivent ini, dia berharap pelaku usaha kreatif juga memanfaatkan peluang yang ada. Disparekraf Sulteng mencatat sampai Juli 2016, sebanyak 600 ribu wisatawan baik nusantara maupun mancanegara yang telah berkunjung ke Sulawesi Tengah. Data ini belum termasuk kunjungan pada ivent Pesona Bahari Kepulauan Togean yang digelar akhir Agustus yang berhasil menyedot ribuan turis.

Menurut Norma Mardjanu, jumlah kunjungan wisata diyakini akan terus bertambah hingga akhir tahun ini sehingga target 2,7 wisatawan tahun ini bisa tercapai.

“Banyak event yang kita gelar di Sulawesi Tengah. Kami di Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Sulawesi Tengah terus mendorong dan memberikan dukungan,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Tolitoli Marwan mengungkapkan, kehadiran cruise dan yacth di Tolitoli sudah menjadi agenda tahunan. Informasi awal dari Kementerian Pariwisata sebanyak 30 yatch yang akan masuk Tolitoli dalam satu pekan. Namun, belakangan jumlahnya berubah dan hanya 18 yang datang.

“Informasi dari kementerian ada 30 yacth tapi ada kendala di Filipina, situasi tidak bagus,” kata Marwan tanpa merincikan masalah di Filipina yang dimaksudkan.

Dia menjelaskan, sebelu tiba di Tolitoli, sebanyak 18 yacth menempuh rute dari Malaysia, Balikpapan, Berawan, Tarakan dan kemudian masuk Tolitoli sebagai titik labuh atau salah satu destinasi di Indonesia.

“Setelah itu mereka akan ke Selat Karimata untuk mengikuti Sail Karimata, mungkin itu ujungnya,” ujarnya.

Adapun turis yang datang mengggunakan yacth ke Tolitoli menginap di kapalnya masing-masing. Mereka tidak menggunakan sarana akomodasi penginapan seperti hotel karena kapal mereka memiliki sarana lengkap. Meski demikian, menurut Marwan kehadiran turis mancanegara memberikan keuntungan bagi masyarakat setempat.

Dia mencontohkan, selama di Tolitoli, turis menggunakan jasa transportasi berkeliling kota. Selain itu, mereka juga berlanja di pusat-pusat perbelanjaan dan makan di warung-warung. Hal ini, kata dia menggerakkan ekonomi masyarakat Tolitoli.

Soal keamanan, sebelum turis tiba, Pemkab Tolitoli sudah menggelar rapat koordinasi dengan TNI Angkatan Laut, TNI Angkatan Darat, Kepolisian dan Polisi Pamong Praja. Sebagai tuan rumah, Pemkab Tolitoli tak ingin kecolongan dan keamanan turis harus terjamin.

Sementara itu, hingga Minggu 4 September 2016, yatch atau kapal layar terus berdatangan dan berlabuh di Pelabuhan Tolitoli. Kapal mereka tampak kontras dengan kapal milik nelayan di sekitarnya.

Selanjutnya, satu persatu turis dijemput menggunakan perahu karet dibawa ke dermaga untuk melanjutkan kunjungan di hari kedua. Setelah di hari pertama disambut dengan penampilan Bupati Saleh Bantilan di Pantai Sabang, kali ini mereka diajak mengunjungi sebuah desa yang unik di Tolitoli. Namanya Desa Malangga, juga masih di Kecamatan Galang.

Keunikan di desa adalah pada rumah-rumah warga. Hampir semua rumah di desa ini, atapnya tidak dipasang permanen, bisa dibuka tutup dalam waktu sekejap. Atap rumah dibuka saat warga menjemur hasil kebun seperti cengkeh, kakao, kopra, dan hasil perkebunan lainnya. Atap sengaja dirancang seperti itu karena Tolitoli adalah daerah dengan intensitas hujan yang cukup tinggi. Sementara warga pekebun tak mau menyerah pada kondisi itu. Bagaimana kisahnya? Ikuti laporannya edisi besok, Rabu 7 September 2016. (bersambung)

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.