Monday, 27 February, 2017 - 10:39

Ketika Puluhan Turis Tiba di Tolitoli (2-Selesai)

UNIK - Atap rumah warga di Desa Malangga Kecamatan Galang, Tolitoli dibuka saat menjemur cengkeh dan hasil perkebunan lainnya. (Foto : Syamsu Rizal/ Metrosulawesi)

Intensitas Hujan Tinggi, Atap Rumah Buka Tutup

Dua pesilat dengan sigap “menghadang” puluhan turis sesaat setelah melewati sebuah jembatan di Desa Malangga, Kecamatan Galang, Kabupaten Tolitoli. Pesilat itu tidak sedang menghalangi atau menantang turis asing masuk ke kampungnya, melainkan sebuah prosesi menyambutan tamu istimewa.

SIANG itu, Minggu 4 September 2016, adalah kali pertama desa yang terletak 20 kilometer dari pusat kota Tolitoli itu dikunjungi begitu banyak turis asing. Sekitar 50 orang.

Selain turis, tampak juga dalam rombongan Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sulawesi Tengah Norma Mardjanu yang sengaja ke Tolitoli mewakili Gubernur Sulawesi Tengah untuk menyaksikan ivent ini.

Kunjungan puluhan wisatawan mancanegara ke Desa Malangga adalah bagian dari city tour. Sehari sebelumnya, Sabtu 3 September 2016 telah digelar proses penyambutan di Pantai Sabang Desa Sabang Kecamatan Galang.

Sepintas perkampungan di Desa Malangga sama saja dengan perkampungan di tempat lain. Rumah-rumah berjejer mengikuti jalan desa yang belum diaspal. Di belakang rumah warga tumbuh kelapa, pisang dan tumbuhan lainnya.

Warga di desa ini membangun rumah panggung dengan tiang-tiang kayu. Dinding rumah juga terbuat dari kayu dan sebagian menggunakan seng.

Perbedaan yang mencolok hanyalah pada atap rumah di desa ini. Saat wisatawan berkunjung ke desa yang dihuni 447 kepala keluarga ini, atap rumah warga dibiarkan terbuka lebar.

Rangka atap yang menyatu dengan bubungan dibuka ke kiri dan kanan. Agar tidak roboh jika tertiup angin kedua sisi itu diikat dengan tali. Sementara, pada bagian pangkalnya dipasang beberapa engsel kecil agar mudah dibuka dan ditutup. Turis yang penasaran kemudian melihat lebih dekat. Untuk naik ke bagian atas rumah itu ada tangga yang menghubungkan dengan badan rumah.

Jika di tempat lain, bagian atas rumah ini sebagai tempat untuk menyimpan hasil kebun atau sawah. Namun, bagi masyarakat di Desa Malangga, lebih dari itu yakni juga untuk menjemur hasil panen. Di situ ada lantai papan yang cukup kuat dan nyaris tanpa celah.

“Atap rumah sengaja dirancang seperti itu. Kalau menjemur cengkeh, coklat dan hasil kebun lainnya dijemur di situ,” kata Armiati, warga Malangga.

Menurutnya, di desa ini intensitas hujan cukup tinggi. Saat menjemur hasil kebun biasanya tiba-tiba hujan. Saat itulah muncul ide merancang atap dengan sistem buka-tutup.

Armiati tidak mengetahui kapan warga mulai membuat atap rumah seperti itu. Namun, rumah yang dibangun ayahnya H Amir adalah yang kali pertama menggunakan teknologi itu.

“Ini rumah yang pertama dibuat seperti ini dan diikuti warga lain,” katanya.

“Tapi, saya juga tidak tahu kapan dibangun. Saya kira sudah puluhan tahun, karena rumah ini sudah begini memang waktu saya masih kecil dan sekarang saya sudah berumur 20 tahun,” katanya.

Menurutnya, meski sedang menjemur dan atap rumah dibuka suhu udara di dalam rumah tidak serta merta panas.

“Tidak juga,” katanya.

Bagaimana jika pada saat menjemur di atap rumah, tiba-tiba hujan?

“Tidak butuh waktu lama untuk menutup kembali atap rumah kalau hujan. Kira-kira sekitar dua menit sudah tertutup kembali,” katanya.

Menurutnya, rangka lantai yang digunakan untuk menjemur juga cukup kuat. Pemilik rumah bisa menjemur 300 sampai 500 liter cengkeh. Begitu juga dengan coklat dan hasil kebun lainnya.

Kepala Desa Malangga, Abd Salam juga mengaku tak mengetahui kapan warganya membangun rumah yang unik seperti itu. Yang pasti, ide ini adalah solusi atas curah hujan yang cukup tinggi di Malangga. Cengkeh, coklat dan hasil kebun lainnya bisa saja rusak jika tak segera dijemur.

Apalagi desa ini adalah salah satu daerah yang subur dan menjadi sentra hasil perkebunan. Jika panen raya, tempat menjemur tidak muat.

“Kalau panen besar (panen raya) tidak muat, pake alat jemuran (terpal),” katanya. 

“99 persen warga pekebun,” kata Salam menggambarkan bermata pencaharian warganya.

Karena itu, kata dia sekitar 80 persen rumah di desa ini menggunakan atap sistem buka tutup. Tukang kayu yang mengerjakan ini juga sudah mahir. Sebab, meski terjadi hujan deras tidak terjadi kebocoran atau air tidak merembes.

“Rata-rata tukang kayu di sini mahir membuat seperti ini,” ujarnya.

Menurutnya, hasil panen seperti coklat, cengkeh, jagung, dan kopra jika dijemur menggunakan media terpal butuh satu minggu dan lebih repot karena butuh tenaga kerja.

“Kalau pakai ini paling tinggi tiga hari sudah kering. Karena walaupun ditutup, tetap panas karena pakai atap seng,” jelasnya.

Terdapat lima dusun di desa ini yakni Dusun Malangga Tengah, Malangga Barat, Malangga Selatan, Malangga Utara, dan Malangga Timur.

“Paling banyak menggunakan rumah buka tutup atap di Dusun Tengah dan Selatan,” katanya.

“Warga di sini penduduk asli sekitar 30 persen, selebihnya pendatang seperti Bugis, Mandar, Buol, Gorontalo, Selayar, dan Sangir,” ungkapnya.

Soal kedatangan turis, Salam mengaku dia dan warganya senang.

“Baru kali ini didatangi turis, masyarakat gembira didatangi,” katanya.

Dia berharap, desanya menjadi salah satu destinasi wisata di Kabupaten Tolitoli. Bukan hanya rumah unik yang menjadi jualan, tapi juga pembuatan gula aren secara tradisional dan tempat wisata air tejun yang belum terjamah. 

“Ada juga lima air terjun di sini, tapi akses jalan sangat sulit. Kami berharap jalan desa diperbaiki,” ungkapnya.

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.

Bintang Delapan