Saturday, 18 November, 2017 - 07:03

Komnas HAM Terus Pantau Situasi Poso

Siane Indriyani. Foto: Ist

Poso, Metrosulawesi.com - Komisi Nasional Hak Azasi Manusia (Komnas HAM) terus memantau situasi keamanan di Poso. Belum lama ini, dua orang komisioner Komnas HAM,  Siane Indriyani dan Dianto Bachriadi berkunjung ke Poso.

Berbagai masukan baik dari aparat keamanan maupun masyarakat diterima Komnas HMA sebagai bahan mencari jalan baru untuk pemulihan Poso. Menurut Dianto Bachriadi, gagasan baru untuk menyelesaikan persoalan Poso yang komperehensif. Dimana penyelesaian atau penanganan kelompok radikal beserta para pendukungnya tidak semata-mata hanya lewat tindakan hukum apalagi represif, tetapi harus ada pendekatan baru yang bisa memutus mata rantai kekerasan yang terus berulang-ulang.

"Harus benar-benar serius, penyelesaiannya tidak selalu harus lewat penegakan hukum, sebab hal itu sudah terbukti tidak berhasil memutus mata rantai kekerasan, harus ada pendekatan baru, dimana kelompok yang masih mengangkat senjata diatas gunung itu diajak kembali lewat dialog,"kata Dianto yang khusus menangani masalah terorisme di Indonesia Timur ini.

Gagasan ini sebenarnya pernah disuarakan oleh Hi Adnan Arsal, pimpinan pesantren Amanah Poso, dalam sebuah diskusi awal tahun ini. Pemerintah menurut salah satu tokoh deklarasi Malino ini seharusnya membuka ruang dialog dengan Santoso dan kawan-kawannya, seperti yang dilakukan presiden pertama RI, Soekarno ketika menghadapi kelompok DI/TII.

Dukung Keterlibatan TNI di Poso

Seusai operasi Camar Maleo 3, operasi pengejaran terhadap Santoso dan Basri, dua pimpinan kelompok radikal kini melibatkan personil TNI. Langkah ini bagian dari sinergitas antara TNI dan Polri dalam upaya menyelesaikan rentetan kekerasan yang terjadi dengan memburu para terduga pelaku.

Komisioner Komnas HAM, kata Siane Indriyani, menyambut baik keterlibatan TNI dalam operasi ini. Dia menyebut, masuknya tentara dalam operasi ini tidak perlu dikhawatirkan akan menimbulkan masalah HAM.
"Kami yang akan pertama berteriak bila ada pelanggaran HAM yang dilakukan TNI dalam operasi ini," katanya.  Dikatakan Siane, masuknya TNI kedalam pengejaran Santoso ini merupakan angin segar bagi masyarakat, khususnya yang berada di wilayah Poso Pesisir.

"Ini bukan soal masuknya TNI ke ranah polisi, tapi merupakan langkah ekstraordinary untuk menyelesaikan persoalan Poso secara tuntas," kata Siane. Komnas HAM, kata dia mau mendorong pemerintah pusat, khususnya presiden untuk melihat penyelesaian Poso dengan cara yang lebih khusus.

Poso Aman Tapi Mencekam

Situasi keamanan di Kabupaten Poso hingga kini ‘Aman Tapi Mencekam’ alias ATM. Pada akhir 2014 dan awal 2015, ketika 2 warga desa Sedoa dan 1 warga Maholo, Lore Timur dibunuh dan 2 orang diculik oleh kelompok radikal bersenjata, awal Desember 2015 kembali 3 orang warga desa Tangkura tewas dibunuh oleh orang tidak dikenal, pihak keamanan menduga pelakunya adalah kelompok yang sama yang menculik dan membunuh warga Lore.

Hingga kini  2 orang yang diculik itu belum diketahui rimbanya. Operasi Camar Maleo pertama hingga ketiga yang baru saja berakhir memang bisa menciptakan keamanan namun belum mampu menangkap para pelaku pembunuhan dan teror termasuk belum menemukan 2 warga Maholo yang diculik.

Densus 88 dalam kontak tembak 3 April 2015, menembak mati Sabar Subagyo alias Daeng Koro, di gunung Sakina Jaya, desa Pangi, Kecamatan Parigi Utara, Kabupaten Parigi Moutong. Daeng Koro adalah salah satu tokoh kunci kelompok Majelis Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso yang sudah diburu sejak 5 tahun terakhir.

Setelah itu pada 25 Mei 2015, Polisi kembali melumpuhkan 2 orang yang disebut sebagai anggota inti kelompok ini dalam sebuah kontak tembak di pegunungan Desa Gayatri, Desa Kilo, Kecamatan Poso Pesisir Utara, 1 personil Brimob meninggal dalam kejadian itu . Setelah itu teror bergeser kearah Kabupaten Parigi Moutong. Namun dampak ketakutan masih dialami warga Poso khususnya yang berada di sebagian wilayah Poso Pesisir Selatan dan Poso Pesisir Utara.

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.