Friday, 20 April, 2018 - 14:42

Korban Kasus Cabul di Poso Bertambah

BERI KETERANGAN - Kapolres Poso AKBP Bogiek Sugiyarto saat memberikan keterangan kepada wartawan, Rabu 14 Maret. (Foto: Ryan Darmawan/ Metrosulawesi)

Kasus pencabulan anak di bawah umur di Poso terus dalam penyidikan. Hingga kemarin, sudah ada dua anak lagi yang mengaku jadi korban pencabulan. Sejak ditahan beberapa hari lalu, tersangka Fahruddin alias Udin (48) mengalami depresi.

KOORDINATOR P2TP2A Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak Poso, Lisa Banawa mengatakan, hingga saat ini ada dua korban lagi yang sudah datang melapor yang mengaku juga pernah dicabuli pelaku.

“Dua korban itu merupakan warga Kecamatan Poso Pesisir yang datang melapor ke posko pengaduan Kecamatan Poso Kota,” kata Lisa kepada wartawan, Rabu 14 Maret.

Liasa  mengimbau kepada anak yang menjadi korban pencabulan untuk tidak takut melaporkan hal tersebut.

Lisa mengatakan, dari 11 anak korban cabul, selain merupakan anak panti asuhan, sebagian juga merupakan anak yang tinggal di sekitar lingkungan dengan umur rata-rata 6 hingga 12 tahun.

"Saat ini dari hasil pemeriksaan yang dilakukan aparat kepolisian Polres Poso, sudah terungkap ada 11 orang anak di bawah umur yang menjadi korban pencabulan tidak menutup kemungkinan jumlah korban bisa bertambah. Untuk itu, kami mengimbau agar mereka yang menjadi korban untuk tidak takut melapor ke Posko pengaduan di P2TP2A," ungkap Lisa Banawa.

Lisa Banawa menambahkan, kebanyakan korban merasa trauma dan takut saat memberikan keterangan. Bahkan berdasarkan keterangan saksi, ada anak yang sempat melihat kejadian pencabulan, dipukul dan diancam akan dikeluarkan dari panti asuhan jika melapor.

"Saya yakin masih ada anak yang trauma dan takut melaporkan kasus ini, kami selalu siap menunggu laporan. Laporkan kepada kami P2TP2A Poso atau kalau malu langsung kontak kami nomor telepon 0811 459 456 saya akan berupaya mendampingi korban sampai pada proses selanjutnya termasuh hingga ke pengadilan," ujarnya.

Kapolres Poso AKBP Bogiek Sugiyarto menyebut, dari hasil penyelidikan kesebelas korban yang dicabuli pelaku terdiri atasb dua anak panti dan sembilan anak dari di luar panti, yang tinggal di sekitar panti yang setiap hari datang mengaji kepada pelaku.

“Semua korban yaitu perempuan," ucap Bogiek Sugiyarto.

Kapolres mengatakan, pelaku melakukan aksinya di dalam kamar panti asuhan. Sebelumnya melancarkan aksinya, tersangka lebih dulu meminjamkan handphone kepada korban.

Kapolres menyatakan, kondisi pelaku saat ini tengah dalam keadaan depresi.

"Pelaku depresi sudah seperti orang gila sekarang," tutur Kapolres.

Karina Sidik, dari Dinas Sosial Kabupaten Poso Perlindungan Anak Kementrian Sosial menyampaikan, pihaknya saat ini terus mendampingi korban, baik proses hukum hingga menghilangkan trauma kepada korban dan juga teman korban.

Pihak Dinsos sendiri juga melakukan pendampingan dan terus memantau aktivitas panti asuhan yang menjadi tempat bekerja pelaku. Para korban dan teman korban telah diberikan bantuan buku-buku dan permainan untuk menghilangkan rasa takut dan trauma kepada anak.

Koordinator Rumah Perlindungan Perempuan dan Anak( RPPA)Mosintuwu Evi Tampakatu, meminta dukungan dan peran masyarakat dalam mengungkap kasus kekerasan seksual yang marak terjadi di Poso.

Menurut Evi, banyaknya kasus kekerasan seksual terjadi karena kurangnya dukungan dari masyarakat dan keluarga korban. Bahkan keluarga korban merasa malu dan dianggap aib, sehingga banyak kasus kekerasan seksual tidak banyak dilaporan ke kepolisian. Bahkan untuk penangan kasus kekerasan seksual malah memunculkan masalah trauma.

Saat ini, RPPA Mosintuwu mengembangkan kerjasama dengan pihak Kepolisian, P2TP2A dan Dinas Sosial Poso untuk memastikan bahwa setiap perempuan dan anak-anak di Poso mendapatkan penanganan cepat atas kasus kekerasan yang dihadapinya. Secara khusus RPPA Mosintuwu mendampingi perkembangan psikologi anak korban.

Pelaku saat ini telah mendekam di sel tahanan mapolres Poso, pelaku terkena pasal UUD perlindungan anak dengan ancaman 6-15 tahun penjara. 


Editor: Udin Salim