Sunday, 22 July, 2018 - 22:13

KPU Palu Keluhkan Minimnya Anggaran Sosialisasi

Komisioner Divisi Teknis KPU Palu, Zatriawati (Kiri) dan Halimah saat konferensi pers di kantor KPU Palu beberapa waktu lalu. (Foto : Metrosulawesi/Henny Arman)

Palu, Metrosulawesi.com – Ditemui disela acara sosialisasi peningkatan partisipasi masyarakat dan pengembangan Daftar Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) di Hotel Mercure Palu, Jumat (11/9/2015), Komisioner Divisi Sosialisasi, Halimah mengeluhkan minimnya anggaran sosialisasi pemilihan wali kota dan wakil wali kota Palu 2015. Menurutnya, dengan anggaran kurang dari Rp200 Juta, KPU Palu tidak punya ruang mengkreasikan bentuk sosialisasi kepada masyarakat. 

“Untuk melakukan seminar pada pemilih pemula, kami tak punya uang untuk pemateri. Jadi KPU harus kerja sendiri karena tak punya dana itu. Banyak yang berpikir bahwa sosialisasi tidak menjadi jaminan untuk peningkatan partisipasi masyarakat. Padahal informasi yang didapatkan bermula dari banyaknya sosialisasi,” keluhnya.

Halimah mengatakan sosialisasi adalah ujung tombak penyelenggaraan pilkada. Jika sosialisasi maksimal dilakukan, otomatis partisipasi masyarakat dalam pilkada dapat meningkat. 

“Banyak yang berpikir sosialisasi itu tidak begitu penting dalam pelaksanaan pilkada. Padahal kenyataannya sosialisasi ini merupakan ujung tombak dari suksenya kegiatan pilkada,” ungkapnya.

“Kekurangan dana untuk sosialisasi mempengaruhi tingkat partisipasi masyarakat dalam memilih. Karena KPU harus di tuntut bagaimana meningkatkan sosialisasi agar partisipasi masyarakat dalam mengikuti jalannya pilkada meningkat,” katanya.

Sementara itu, pandangan yang sama disampaikan Komisoner KPU RI Sigit Pamungkas yang hadir sebagai narasumber dalam acara tersebut. Menurutnya, pembatasan dana sosialisasi memaksa KPU untuk bisa berkreasi dan memamfaatkan setiap moment pertemuannya dengan masyarakat. 

“Melakukan sosialisasi tidak mesti membuat kegiatan, tetapi bisa berkreasi seperti berkunjung ke sekolah atau memanfaatkan kegiatan yang buat oleh masyarakat. Kegiatan ini sukses tergantung hanya dari diri sendiri,” kata Sigit.

“Memanfaatkan kegiatan apa yang ada, itu mensiasati anggaran yang kurang. Walaupun sebenarnya tingkat partisipasi itu turun, bukan karena satu hal. Tetapi karena sistem pemilihan yang tidak stabil. Kita harus membuat konsep yang cermat. Sehingga bagaimana caranya agar masyarakat itu mau datang untuk memilih. Tergantung dari cara sosialisasi itu yang paling penting,” jelasnya. 

 

Editor : M Yusuf Bj