Saturday, 19 August, 2017 - 19:08

KPU Sulteng Selesaikan 9 Daerah

KPU Sulteng menggelar rapat pleno rekapitulasi perolehan suara calon gubernur dan wakil gubernur Sulteng di kantor tersebut, Jumat (18/12/2015). (Foto : Metrosulawesi/Eddy)

Hari Ini, Perolehan Suara Pilgub Ditetapkan

Palu, Metrosulawesi.com - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sulawesi Tengah telah menyelesaikan penghitungan hasil pilkada gubernur dan wakil gubernur Sulawesi Tengah di sembilan kabupaten kota, Jumat (18/12/2015).

Sembilan kabupaten tersebut adalah Palu, Donggala, Buol, Morowali, Poso, Sigi, Banggai, Parigi Moutong, dan Bangkep. Empat kabupaten/ kota yang disebutkan lebih awal dimenangkan oleh pasangan Rusdi Mastura-Ihwan Datu Adam (RusdIhwan). Sedangkan sisanya lima kabupaten dimenangkan oleh Longki Djanggola-Sudarto (Longki’S).

Pantauan Metrosulawesi, rapat pleno berlangsung lancar, meski sempat diwarnai aksi walk out oleh saksi pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Rusdi Mastura-Ihwan Datu Adam. Kedua saksi RusdIhwan, Agus dan Suardin Suebo meninggalkan ruang rapat.

Adapun tim pasangan calon Longki’S dihadiri Anwar Ponulele dan Lutfi Lembah yang mengikuti jalannya rapat. Hadir pula, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Sulawesi Tengah. Rekapitulasi dimulai sekitar pukul 14.30 dan berakhir pukul 21.30 Wita.
 
Komisioner KPU Sulteng Samsul Y Gafur kepada Metrosulawesi mengungkapkan, tersisa empat kabupaten yang akan direkapitulasi pada Sabtu (19/12/2015).

“Tadi sudah selesai sembilan kabupaten dan besok (hari ini) jam 09.00 pagi akan dilanjutkan empat kabupaten yaitu Tolitoli, Morowali Utara, Banggai Laut, dan Tojo Unauna,” kata Samsul Y Gafur.

Dia mengatakan, setelah empat kabupaten tersebut selanjutnya akan langsung dilakukan penetapan perolehan suara.

“Insya Allah sudah selesai  dan langsung ditetapkan perolehan suara,” ujar Samsul.

Dia berharap, semua saksi pasangan calon bisa hadir dalam rapat pleno tersebut. Sehingga, kata dia dapat mengajukan sanggahan jika ada data yang dianggap keliru.

Meski saksi pasangan calon tidak hadir, kata dia rekapitulasi akan tetap dilaksanakan.

“Kami sudah udang. Tapi, mudah-mudahan besok (hari ini) saksi pasangan calon hadir,” katanya.

Terkait partisipasi pemilih yang banyak disoroti karena dianggap rendah, Samsul mengatakan, masih dalam proses penghitungan. Akan diketahui persentasenya setelah semua kabupaten kota selesai direkapituilasi.

“Bervariasi partisipasi pemilih di setiap kabupaten. Tapi, ada beberapa kabupaten yang tingkat pastisipasi pemilihnya bagus, salah satunya Poso,” katanya.

Setelah penetapan hasil perolehan suara pasangan calon maka selanjutnya akan ditetapkan pemenang pada 22 Desember 2015. Namun, jika ada gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK), maka penetapan akan disesuikan dengan tahapan sebagaimana diatur dalam Peraturan KPU Nomor 2 tahun 2015.

Pengamat: Pilkada Mengalami Kemunduran

Pengamat politik dari Universitas Tadulako Palu Dr Darwis berpendapat pemilihan kepala daerah yang berlangsung serentak di seluruh Indonesia khususnya Sulawesi Tengah mengalami kemunduran dari perspektif demokrasi.

"Dari sisi partisipasi pemilih sudah kelihatan, hanya sekitar 70 persen tingkat partisipasi pemilih kita. Ini hanya salah satu indikator. Masih banyak indikator lain," kata Darwis di Palu, Jumat (18/12/2015), menanggapi evaluasi sementara pelaksanaan pemilihan kepala daerah serentak di daerah setempat.

Hingga Jumat siang, laman KPU untuk wilayah Sulawesi Tengah menyebutkan tingkat partisipasi pemilih hanya 70,53 persen atau 1.377.275 orang dari 1.952.888 daftar pemilih.

Tingkat partisipasi tertinggi justru ditempati kalangan perempuan dengan persentase 71,16 persen atau 677.781 orang dari 952.523 pemilih. Sementara partisipasi pemilih laki-laki hanya 69,53 persen atau 683.746 orang dari 983.415 pemilih.

Partisipasi pemilih tersebut meleset jauh dari target yang ditetapkan KPU yakni antara 77,8 dan 80 persen.

Target yang ditetapkan tersebut oleh KPU dianggap telah realistis karena merujuk pada partisipasi pemilihan presiden 78 persen dan pemilihan legisltaif 2014 sebanyak 76 persen.

Menurut Darwis partisipasi pemilih merupakan indikator baik atau tidaknya kualitas pemilihan kepala daerah. Dia mengatakan rendahnya kualitas pemilihan kepala daerah kali ini karena beberap faktor.

"Salah satunya karena tidak ada desentralisasi partai politik di daerah. Akhirnya usulan dari bawah berbeda dengan keputusan politik di tingkat pimpinan partai di pusat," katanya.

Kondisi itu kata dia, menyebabkan konflik perbedaan di internal partai khususnya di tingkat pimpinan daerah. "Ini yang membuat orang jenuh. Ini akrobatik politik," katanya.

Kondisi ini kata dia, diperparah dengan tidak transparannya pimpinan politik di tingkat pusat dalam hal penetapan bakal calon kepala daerah bahkan berbau aroma politik uang dengan istilah mahar politik.

"Inilah yang menimbulkan kekacauan sehingga kepercayaan masyarakat semakin menurun," katanya.

Di sejumlah daerah di Sulawesi Tengah kasus tersebut antara lain menimpa DPD Demokrat Sulawesi Tengah yang sebelumnya mengusulkan Hidayat menjadi calon Walikota Palu, justru tingkat DPP ditetapkan Hapsa Yanti Ponulele.

"Bahkan ada satu partai yang merekomendasikan dua calon," katanya.

Selain itu kata Darwis, perpecahan di partai politik khususnya Golkar dan PPP juga menjadi akumulasi kekecewaan masyarakat sehingga berimplikasi pada menurunnya ketidakpercayaan masyarakat terhadap proses demokratisasi pemilihan kepala daerah.

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.