Friday, 28 July, 2017 - 06:36

Kunjungi Desa Malangga, Turis Bawa Pulang Cengkeh

TURIS ASING - Turis dari Switzerland dan New Zealand berkunjung ke Desa Malangga, Kecamatan Galang, Tolitoli, Selasa 13 September 2016. (Foto : Ist)

Palu, Metrosulawesi.com - Warga Desa Malangga, Kecamatan Galang, Tolitoli kembali kedatangan tamu istimewa, Selasa 13 September 2016. Mereka adalah wisatawan mancanegara yang datang ke Tolitoli dengan yacth atau kapal layar.

Sebelumnya, pada awal bulan ini sekitar 50 turis juga berkunjung ke desa yang terletak sekitar 20 kilometer dari ibu kota Kabupaten Tolitoli ini. Desa Malangga memiliki keunikan, yakni 80 persen rumah di desa ini dirancang dengan sistem buka tutup.

Muhammad Arif, aparat desa setempat mengatakan, enam turis tersebut berasal dari Switzerland dan New Zealand.

“Ada enam orang. Mereka bawa pulang (contoh) pala, cengkeh, kayu manis, kopi, coklat, dan mengkudu,” kata Arif kepada Metrosulawesi melalui ponselnya, Rabu 14 September 2016.

Rombongan turis datang ke desa yang dihuni 447 kepala keluarga ini didampingi pihak Dinas Pariwisata Kabupaten Tolitoli. Setibanya di Malangga, turis disuguhkan kelapa muda oleh warga setempat.

Turis juga melihat langsung salah satu rumah warga H Semmati yang menggunaan atap buka tutup. Selain itu, turis juga melihat pohon cengkeh ditanam di perbukitan belakang rumah warga.

“Dan merasakan buah belimbing kecil,” kata Arif yang bendahara Desa Malangga.

Empat dari enam turis masing-masing Pierre, Valerie, Marie, dan Amelie menyatakan terima kasih kepada warga Malangga yang telah menyambutnya dengan ramah. Mereka mengaku belajar tentang tanaman di desa ini.

“Semua penduduk desa yang sangat ramah dan kami melihat bahwa setiap orang tersenyum,” kata turis tersebut.

Diketahui, Desa Malangga, Kecamatan Galang menjadi salah satu destinasi wisata baru di Tolitoli. Di desa memiliki keunikan yakni sekitar 80 persen rumah warga menggunakan atap yang bisa dibuka tutup atau tidak permanen. Rangka atap yang menyatu dengan bubungan dibuka ke kiri dan kanan saat akan menjemur hasil kebun.

Dan, dalam hitungan dua menit atap itu bisa ditutup kembali setelah selesai menjemur jika hujan. Penerapan teknologi sederhana itu dilakukan warga yang hampir seluruhnya pekebun karena intensitas hujan di Malangga cukup tinggi.

Selain rumah yang unik, di desa yang jalanannya belum diaspal ini juga, warga membuat gula aren secara tradisional. Selainitu, beberapa tempat wisata air tejun yang masih perawan alias belum terjamah karena akses jalannya yang sulit.

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.