Sunday, 22 October, 2017 - 03:21

La Iboerahima, Keturunan Wartabone di Sulteng

ILUSTRASI - Jejak Islam di Lembah Palu. (Grafis : Dok Metrosulawesi)

KETURUNAN La Iboerahima akhirnya berkembang di Sulawesi Tengah. La Iboerahima Putra Mahkota Raja Wartabone sewaktu tinggal di Sulawesi Tengah  menikah di Ujuna Palu Sulawesi Tengah dengan seorang Perempuan Kaili yang bernama Roneama yang berasal dari daerah Watusampu Ulujadi Palu. Pernikahan La Iboerahima ini dikaruniai lima orang anak, yaitu: anak pertama bernama Lajonco lahir 1867 di Ujuna Palu, dan menikah dengan Perempuan Kaili bernama  Renjoinebinti Latapande Asal Desa Tulo Kecamatan Sigi Biromaru Kabupaten Donggala (sekarang Kabupaten Sigi) Provinsi Sulawesi Tengah.

Hasil pernikahan Lajonco dengan Renjoine menurunkan keturunan masing-masing: Incehani, Incepapu, Jahani, Lamacca (Kakek Muhammad J Wartabone), Sapia, Sadasia, Baiduri, Sohoria dan Sitti Saleha.  Anak Kedua La Iboerahima bernama Jahia yang lahir di Ujuna Palu dan menikah dengan Putra Kaili bernama Kontouwa Bin Tamoavi Rapa Lemba asal Dolo Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah yang menurunkan empat orang anak bernama Rahani Lemba, Lahami Lemba, Lahudo Lemba dan Maliha Lemba. Anak Ketiga La Iboerahima adalah bernama Habasia yang lahir di Ujuna Palu yang keturunannya sebagian menetap di Talise Palu Jalan Tombolotutu. Anak Keempat La Iboerahima adalah bernama Susapalu yang lahir ketika saat terjadi runtuhnya Kerajaan Bone Tatura Palu dan menikah dengan Perempuan Kaili asal Tatura Palu bernama Lera yang menurunkan keturunan Perempuan bernama Nari yang menetap di Tatura Palu Jalan Anoa dan menikah dengan Laki-laki berasal dari Besusu Palu bernama Abd. Halim Tembabula dan dikaruniai tujuh orang cucu bernama: Halim, Amir, Taha, Asnani, Udin, Hasnah dan Masli.

Adapun Susapalu Bin La Iboerahima Wartabone menikah lagi untuk kedua kalinya di Desa Rarampadende Dolo Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah dengan perempuan Kaili bernama Saridali yang dikaruniai enam orang anak yaitu: Lahasi, Cinaupa, Lagado, Lacare, Simi dan Lapere. Anak kelima La Iboerahima Putra mahkota Raja Wartabone adalah  Sawasia lahir di Ujuna Palu dan menikah dengan Abdul Wahid Toana (alm) yang dikaruniai satu orang anak  yang bernama Sahabuddin Toana dan menurunkan delapan orang cucu yaitu: Gandi Toana;  Rustam Toana;  Hamsen Toana; Dei Toana; Busran Toana; Maryam Toana; Diaman Toana dan Nikma Toana. Sawasia Mantri Lengkong, menurunkan Dei Callo: Indo Sima menurunkan anak Asniar, Ati, Asman, Hasna, Fahrun, dan Alfia. Sawasia Majadatun di Bora Sigi menurunkan Junudin dan Nahawia, kemudian Nahawia menurunkan Asni, Usman, Gasmin, Udin, Idris dan Asnimah.

Cucu La Iboerahima Wartabone getol dengan taman pengajian sebagai tradisi yang diturunkan dari kakeknya. Selama dua tahun, Jarudin membina taman pengajian di Kulawi. Taman pengajian ini dibuka pada tanggal 25 Maret 1960 dan bertahan hingga tahun 1962. Pada saat-saat kesibukannya mengajar masyarakat di tempat ini membaca kitab suci Alquran, atas perintah Sayyid ‘Idrus bin Salim Al-Jufri (Guru Tua) Jarudin membuka sekaligus membina madrasah-madrasah Alkhairat di Kulawi bersama sahabatnya, Ustadz Sa’id bin ‘Awadh ‘Abdun. Hanya saja, sejak jatuh sakit di tahun 1962, aktifitas Jarudin tersebut secara otomatis terhenti.

Ketika sakit, Jarudin sempat mengalami mati suri selama 12 jam, dimulai dari sekitar pukul 18.00 hingga 05.00 WITA. Setelah bangun dari mati surinya, kepada Ibunya, Yamalera binti Sumbangudu, Jarudin menceritakan bahwa di dalam mati suri tersebut Ia mengalami lima pengalaman yang sarat dengan makna bernuansa hikmah. Pertama, Ia diperlihatkan Shirat al-Mustaqim yang diketahuinya dari keterangan yang diberikan oleh orang yang menemaninya; kedua, Ia menyaksikan bagaimana para pendosa tidak bisa melewati Shirat al-Mustaqim; ketiga, Ia melihat seorang ibu yang tidak bisa melewati Shirat al-Mustaqim, karena si ibu tersebut, di masa hidupnya, pernah melakukan aborsi; keempat, orang yang menemani bertanya kepadanya, “Apa yang kamu ucapkan untuk bisa melewati Shirat al-Mustaqim?”. Jarudin menjawab, “Asyhadu an la ilaha illa Allah wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah.” Berkat ucapan ini, Jarudin diajak berjalan hingga sanggup melewati Shirat al-Mustaqim; dan kelima, bersama orang yang menemaninya, Jarudin diajak masuk ke dalam sebuah ruangan yang gelap. Ia memegang tembok ruangan yang basah. Ketika Ia menemukan sebuah pintu di dalam ruangan tersebut, orang yang menemaninya melarang Jarudin untuk membukanya. Akan tetapi, dipicu oleh rasa penasaran, Jarudin pun membuka pintu tersebut. Seketika Ia terpental ke belakangan, dan terbangun dari mati surinya.

Setelah melewati masa perawatan dan penyembuhan selama enam bulan, Jarudin kembali menjalankan aktifitasnya semula. Pada tahun 1964 hingga tahun 1968, Jarudin membuka dan membina taman pengajian Alquran di Tompi Bugis yang masih berada di wilayah Kecamatan Kulawi. Dari Tompi Bugis, Jarudin pindah ke Desa Salua, yang masih berada di Kecamatan Kulawi, juga untuk mengajarkan baca Alquran kepada masyarakat setempat. Aktifitasnya di tempat-tempat ini dijalaninya sejak tahun 1968 sampai tahun 1975. Dari tahun 1979 hingga tahun 1987, Jarudin pindah ke Desa Sidondo, Kecamatan Sigi Biromaru. Dan, masih sama seperti sebelumnya, di desa ini Ia membuka dan membina taman pengajian.

Dari berbagai desa di Kabupaten Sigi, Jarudin kemudian pindah untuk mengajar mengaji di desa-desa yang masuk di dalam wilayah Kabupaten Donggala. Desa pertama yang disinggahinya adalah Desa Sioyong, Pantai Barat. Desa Sioyong,Jarudin membuka taman pengajian dari tahun 1989 hingga tahun 1992. Dari kawasan Pantai Barat, Jarudin menyebrang ke kawasan Pantai Timur, yaitu di Desa Kayu Agung. Pada Desa kayu Agung Ia membina taman pengajian sejak tahun 1992 sampai tahun 1994. Di antara pengabdian yang Ia jalankan di Desa Kayu Agung, pada tahun 1992, Jarudin  atau Om Lopu Guru Mengaji berangkat ke Kota Malang, Jawa Timur, untuk mengantarkan anaknya, Muhammad J. Wartabone, guna memperdalam ilmu agama di Pesantren Daruttauhid Malang Jawa Timur yang diasuh oleh Syekh Abdullah Awad Abdun yang juga merupakan murid Guru Tua atau Sayyid Idrus Bin Salim Aljufri.

Membuka serta membina taman pengajian Alquran di berbagai desa merupakan aktifitas yang mewarnai hampir seluruh kehidupan Jarudin. Bahkan ketika kembali ke daerah tempat kelahirannya di Kelurahan Petobo pada tahun 2004, semangat serta niat yang besar untuk membuka sekaligus membina taman pengajian Alquran masih terlihat dengan jelas. Akan tetapi, karena mempertimbangkan faktor usianya yang sudah tua, anak-anaknya menyarankan agar sang ayah mengurungkan niatnya. Sebagai gantinya, Jarudin kemudian mengajak anaknya, Muhammad J. Wartabone, untuk mendirikan Islamic Center dan Indonesia berdzikir di Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu, dan di Desa Bora, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah. (bersambung)


*Tulisan yang disajikan secara bersambung ini diadopsi dari buku yang berjudul Sejarah Islam di Lembah Palu karya Haliadi-Sadi, S.S., M.Hum., Ph. D. dan Dr. Syamsuri, M. Ag.

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.