Saturday, 18 November, 2017 - 01:35

La Iboerahima Wartabone, Seorang Putra Mahkota

ILUSTRASI - Jejak Islam. (Grafis : Dok Metrosulawesi)

LA Iboerahima Wartabone memiliki nama Ibrahim dan tambahan “La” di depan namanya diberikan oleh orang-orang Bugis kepada orang yang ditokohkan atau dituakan. Dia juga sering dijadikan sebagai seorang “Topanritta”( Seorang yang memiliki ilmu pengetahuan atau Ilmuwan dari Bugis.) Bone di Negeri Suwawa pada masanya. La Iboerahima Wartabone adalah Putra Mahkota Raja Wartabone biasa juga dipanggil Teibu atau juga Talibu di Gorontalo memiliki lima orang adik. Beliau adalah anak tertua dari Raja Wartabone yang pernah bertakhta di Kerajaan Suwawa tahun 1830-1849 dan pada masa tahun 1875-1880.

Adik dari La Iboerahima terdiri atas perempuan bernama Hadidah anak kedua, anak ketiga bernama Nino, lalu anak keempat bernama Nuku Wartabone seorang laki-laki yang biasa juga disebut Walao Pulu, dan adik kandung kelima bernama Mio seorang Perempuan. Adik kandung keempat La Iboerahima yang bernama Nuku memiliki anak bernama Zakaria Wartabone yang memiliki salah satu orang anak bernama Haji Nani Wartabone yang lahir di Gorontalo pada tanggal 30 April 1907 dan wafat di Gorontalo pada hari Jum’at 3 Januari 1986. Haji Nani Wartabone inilah yang kemudian diangkat menjadi pahlawan nasional dari Provinsi Gorontalo (Muhammad Islam Yusuf, 2012: 77-90). Sementara La Iboerahima Wartabone memiliki anak di Lembah Palu bernama Lajonco dari hasil perkawinannya dengan Roneama seorang perempuan dari Watusampu dan menetap di Ujuna Palu. Dari Lajonco inilah sehingga keturunan La Iboerahima Wartabone berkembang di Lembah Palu hingga kini. 

Setelah wilayah Gorontalo dikuasai oleh Kolonial Belanda, maka beliau memilih untuk tidak melanjutkan kekuasaan ayahnya, tetapi beliau merantau untuk mengembangkan Agama Islam. Menurut buku “Limo Lo Pohalaa” Sejarah Kerajaan Gorontalo bahwa VOC melakukan aktivitas di wilayah Gorontalo sejak tahun 1667 hingga tahun 1678.  Dari ini dapat kita katakan bahwa VOC dan Hindia Belanda telah lama melakukan aktivitas dagang dan ekspansi teritorial atas Gorontalo. Diantara tahun 1824 hingga tahun 1855 terjadi yang disebut konsolidasi “Limo Lo Pohalaa”(Lima Saudara yang terdiri atas Kerajaan Gorontalo, Limboto, Bone, Attinggola dan Boalemo).

Pada tanggal 14 Juni 1824 oleh Van Der Capellen menetapkan bahwa wilayah Sulawesi Utara termasuk Gorontalo bukan lagi dibawah Ternate sebagaimana masa sebelumnya tetapi dijadikan sebagai daerah kasatuan otonom sendiri berupa keresidenan Manado. Keresidenan Manado mencakup dua wilayah yakni wilayah daerah minahasa dan sekitarnya hingga teluk Palu dan wilayah Gorontalo dan Limo Lo Pohalaa sampai ke Pulau Taliabo. Masing-masing diperintah oleh seorang Asisten Residen yang diperbantukan kepada Residen Manado. Oleh karena kekuasaan Belanda semakin besar di wilayah Gorontalo maka bangsawan seperti La Iboerahima memilih pergi meninggalkan daerahnya untuk mengembangkan agama Islam di Pulau Una-Una.

Kepergian La Iboerahima Wartabone dari Gorontalo untuk mengembangkan agama Islam adalah karena semakin berkuasa Kolonial Belanda di wilayah Gorontalo. Pada masa kekuasaan ayahnya Raja Wartabone yang juga dikenal dengan nama Aruutta Bone atau Raja Arus Bone I telah menolak Kolonial Belanda yang berkeinginan untuk mengolah emas di wilayah Moloti atau Pinogu sekarang ini pada tahun 1800. Kemudian pada masa pemerintahannya ayahnya yang kedua pada tahun 1885 juga telah menolak pelaksanaan kulturstelsel tanaman Kopi di daerah Sinandaha atau juga daerah Pinogu Sekarang ini (JUS. Nadjamuddin, 1975: 9). Oleh karena Kolonial Belanda selain menganeksasi Kerajaan lokal di Gorontalo juga memiliki agama Kristen sehingga dia memilih untuk pergi meninggalkan kekuasaan ayahnya untuk mengembangkan agama Islam.  

Bekal Agama Islam yang diperoleh adalah agama Islam yang datang dari Ternate ke Gorontalo. Pada tahun 1562, Kerajaan Limboto meminta bantuan ke Ternate dalam memerangi Kerajaan Gorontalo. Kerajaan Limboto dipimpin oleh Raja Olongia Tohulialiyo dan mengutus putra dan penggantinya bernama Tilahunga yang menikah dengan saudari Raja ternate bernama Ju Mu’min dan memeluk Islam. Sementara di pihak Gorontalo dipimpin oleh Raja Olongia To Tilayo Amai dan Olongia To Hulijalija Tulijabu. Tulijabu juga menikah dengan kerabat dari Ternate (J. Bastiaans, 1938: 323, 1880: 94). Dengan demikian pada tahun inilah Agama Islam masuk ke Gorontalo dari Ternate. Islamisasi berlangsung di Gorontalo pada tahun 1589 oleh anggota keluarga Matolodulahu ketika berkuasa di Gorontalo dan telah menggantikan ayahnya Amai menjadi raja di Gorontalo. Walaupun Agama Islam pada tahun 1562 dan tahun 1589 telah diperkenalkan secara resmi di Gorontalo namun masih banyak juga yang menganut agama lama atau masih alfur(S.C.J.W. van Musschenbroek, 1880: 94).

Perantauan awal beliau ke Pulau Una-Una tidak jauh dari Gorontalo untuk membina surau hingga berdirinya masjid tertua di Pulau Una-Una pada tahun 1812. Alasan utama beliau ke Pulau Una-Una adalah karena banyak warga Gorontalo terutama rakyat dari Kerajaan Suwawa yang bekerja di Pulau Una-Una menjadi pemanjat kelapa. Di Pulau Una-Una beliau berkenalan dengan orang-orang yang tinggal di Pulau Una-Una yang kebanyakan berasal dari Kaili Sulawesi Tengah dan juga orang Bugis yang berasal dari Sulawesi Selatan. Pulau Una-Una pada masa ini adalah sebuah pulau yang subur dan memiliki potensi kelapa dan kopra yang sangat banyak. Masjid tua yang bernama Masjid Jami Una-Una adalah masjid yang indah yang bahan-bahannya berasal dari Singapura dan dikabarkan tegelnya dari Perancis. 

La Iboerahima Putra Mahkota Raja Wartabone menjadi imam pertama di Pulau Una-Una yakni di sebuah Mushallah yang dirintis pada tahun 1812 sebelum Masjid Jami Una-Una atau Pulau Ringgit dibangun pada tahun 1814. Imam selanjutnya H. Muh. Nur atau Tuan Kodi atau Pua Kali, kemudian oleh Imam La Rasa. Imam Nawawi Laharun adalah imam setelah Pua Kali dan dilanjutkan oleh imam Abdul Wahid Senrima untuk kemudian diteruskan oleh Usman sampai akhirnya dipegang oleh Badrin Bin Taher La Iboerahima di tahun 2015. Masjid tua Una-Una ini dibangun atas inisiatif masyarakat yang disponsori oleh Ibu De Bula seorang kaya di Pulau Una-Una. Masjid ini juga sangat didukung oleh Raja Tua yang bernama Abdurrahman Laudjeng Dg. Materru. Pimpinan Tukang masjid Jami Una-Una bernama Adebullah dan dibangun secara gotong royong oleh masyarakat Una-Una.
 
Kemudian beliau merantau ke tanah leluhurnya di tanah Bugis yakni di Kerajaan Bugis Bone. Dia ke Ampana semasa kekuasaan Raja Remelino (1816-1836) selaku raja perempuan Kerajaan Tojo waktu itu dan menyeberang ke Bunta lalu ke Kota Luwuk dan Banggai semasa pemerintahan Raja Mumbu Tenebak atau Raja La Ota (1815-1831) untuk kemudian naik kapal ke tanah Bugis melalui Kendari hingga ke daerah Bone. Angkutan yang dilalui adalah angkutan perahu-perahu Bugis yang pada waktu itu mereka telah melakukan aktifitas perdagangan ke wilayah-wilayah pantai sepanjang teluk Tomini termasuk Gorontalo(L. van Vuuren, 1917: 107-116).

Kapal-kapal Bugis Makassar pada waktu itu juga telah disewa oleh orang Cina untuk mengangkut barang dagangan yang diperdagangkan pada waktu itu. Beliau menumpangi perahu-perahu yang datang ke Banggai menuju Bone dan Makassar untuk mencari keluarganya sekaligus belajar agama Islam. La Iboerahima di Bone Sulawesi Selatan belajar mengenai agama Islam di Kerajaan Bone semasa Raja La Mappasessu To Appatunru (1812-1823) di Kerajaan Bugis Bone. Setelah merasa cukup belajar agama Islam di Bone kemudian beliau ke Makassar lalu ke Bungku semasa Raja Peapua Dongke Kombe(1841-1947), kemudian melanjutkan perjalanan ke Bunta dan Tojo Una-Una lalu ke Kerajaan Parigi pada masa pemerintahan Raja Magau Baka atau Sawali (1821-1855) untuk kemudian ke Batusuya semasa ayahanda Pue La Sadindi atau Mangge Rante yang bernama Yandara di pantai Barat leher Pulau Sulawesi lalu kemudian berakhir di Bone Tatura Palu Sulawesi Tengah. Bone Tatura waktu itu menjadi bagian dari Kerajaan Tatanga dibawah pemerintahan Baligau Lasatumpugi (1821-1846), dan beliau meminta izin sama Baligau untuk mengembangkan Islam di Bone Tatura. Beliau akhirnya mengembangkan Agama Islam di Bone Tatura Lembah Palu Sulawesi Tengah.

Akhirnya, dia menetap di Lembah Palu tepatnya di Kerajaan Bone Tatura sebagai bagian dari Kerajaan Tatanga atau Kebaligauan Tatanga. Beliau mendapatkan gambaran yang baik mengenai Lembah Palu adalah sewaktu beliau menetap di Pulau Una-Una dan bergaul dengan orang Kaili sehingga menuntun dirinya untuk ke tanah Kaili Palu Sulawesi Tengah. Selain itu, dia adalah berdarah Bugis dan karena daerah Bone Tatura adalah pemukiman selain masyarakat kaili juga kebanyakan bermukim orang-orang Bugis Bone yang menjadi warga kebaligauan Tatanga. Kebaligauan Tatanga kalau ditelusuri secara lebih mendalam ternyata dibangun oleh bangsawan Bugis bersama orang-orang Kaili sehingga menjadi sebuah kerajaan di Lembah Palu Sulawesi Tengah. (bersambung)


*Tulisan yang disajikan secara bersambung ini diadopsi dari buku yang berjudul Sejarah Islam di Lembah Palu karya Haliadi-Sadi, S.S., M.Hum., Ph. D. dan Dr. Syamsuri, M. Ag.

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.