Friday, 22 June, 2018 - 07:42

Latopada: Tiap Agama Membawa Kedamaian

SAMBUTAN - Kakanwil Kemenag Sulteng H Abdullah Latopada saat menyampaikan sambutan di depan peserta Rapat Koordinasi Penguatan Fungsi Agama dalam Pembangunan Nasional di Hotel Mercure, Selasa, 5 Desember 2017. (Foto : Ist)

Palu, Metrosulawesi.com - Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Sulteng, H. Abdullah Latopada mengatakan setiap agama diturunkan untuk membawa kedamaian dan kesejukan, bukan menciptakan ketakutan, konflik dan ujaran kebencian.

“Olehnya, ketika kehadiran agama tidak membawa manfaat atau justru menjadi pemicu konflik, maka bisa dipastikan telah terjadi penyalahgunaan fungsi agama,” kata Abdullah saat membuka Rapat Koordinasi Penguatan Fungsi Agama dalam Pembangunan Nasional, yang digelar Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam di Hotel Mercure, Selasa, 5 Desember 2017.

Dia menekankan agar umat beragama di Sulteng lebih cermat mewaspadai pola dan gerakan yang memiliki agenda terselubung. Cirinya antara lain membelokkan tugas dan fungsi agama sebenarnya dengan tujuan mengacaukan kehidupan beragama yang selama ini kondusif.

“Saya mengimbau kepada seluruh elemen umat Islam untuk bersama-sama menunjukkan fungsi agama sebagai pembawa kesejukan di tengah-tengah masyarakat. Bukan justru menampilkan agama sebagai alat teror yang dapat menimbulkan kekacauan,” kata Abdullah.

Abdullah menjelaskan fungsi agama sebagai pembawa kesejukan, bukan mengarahkan pada teror.

“Ini yang kita bawa untuk membangun bangsa ini. Kadang fungsi agama itu dibelokkan oleh orang-orang yang tidak memahami agama atau yang memahami setengah-setengah. Sehingga agama kadang dipandang keras,” jelas Kakanwil.

Olehnya, Ia mengajak kepada seluruh elemen umat Islam yang menjadi peserta Rakor tersebut, yang terdiri dari para perwakilan ormas Islam, organisasi wanita Islam, serta organisasi pemuda dan mahasiswa Islam untuk saling memberi masukan, kritik dan saran yang membangun, terkait fungsi agama dalam dakwah Islam untuk mendukung kemajuan pembangunan nasional.

“Seluruh elemen yang diundang merupakan mitra pemerintah, diharapkan terus memberikan dakwah yang sejuk, sehingga masyarakat tahu betul bahwa inilah Islam yang rahmatan lil alamin, bukan sebaliknya,” ujar Kakanwil.

Dalam salah satu hasil survei, kata dia, disebutkan bahwa Provinsi Sulteng merupakan salah satu daerah paling toleran di Indonesia. Menurutnya, hal itu menunjukkan umat beragama di Sulteng, khususnya umat Islam memiliki kesadaran dan pemahaman yang luar biasa.

“Hal ini disebabkan oleh kesadaran semua umat yang ada di Sulteng, khususnya umat Islam, dan tokoh-tokoh ormas, tokoh-tokoh agama, tokoh-tokoh pemuda, yang menyebabkan kita di Sulteng sangat toleran,” tandasnya.

Di depan ratusan tokoh agama, akademisi, pimpinan ormas dan pegiat dakwah se Sulteng, Kakanwil Kemenag memberikan apresiasi atas hasil penelitian terbaru Setara Institute tentang Indeks Kota Toleran (IKT) yg menempatkan Kota Palu di urutan kedua dari 10 kota besar paling toleran di Indonesia. Prestasi ini merupakan bukti tingginya kesadaran beragama warga kota kaledo.

Menurutnya, umat Islam Indonesia sebaiknya berada di posisi moderat atau wasathiyah. Bukan Islam radikal dan tidak pula Islam liberal.

Jika ingin aman, Abdullah yang juga mantan Kakanwil Kemenag Maluku Utara ini menyarankan untuk mengikuti paham keagamaan mayoritas yang telah lama hidup dan berkembang di daerah ini seperti Alkhairaat, NU, Muhammadiyah dan DDI.

Kegiatan yang dilaksanakan 4-6 Desember 2017 ini melibatkan tokoh agama, akademisi, pimpinan ormas dan pegiat dakwah se Sulteng.


Editor : M Yusuf Bj