Wednesday, 19 September, 2018 - 11:02

Mantan Direktur Pengembangan Perusda Touna Divonis 4 Tahun Penjara

Palu, Metrosulawesi.com - Mantan Direktur Pengembangan Perusda Touna, Abubakar A Moh Amin divonia dengan pidana penjara selama 4 tahun. Pasalnya, terdakwa Abubakar A Moh Amin terbukti melakukan korupsi dana penyertaan modal Perusahaan Daerah (Perusda) Touna.

Putusan itu dibacakan dalam sidang terbuka untuk umum di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Palu, Rabu, 30 Mei 2018.

Majelis Hakim Ketua, Erianto Siagian yang didampingi dua Hakim anggota, Darmansyah dan Margono mengatakan, setelah memeriksa saksi-saksi dan bukti surat yang terungkap dalam persidangan, bahwa terdakwa Abubakar A Moh Amin terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan korupsi sebagaimana yang didakwakan dalam dakwaan primair Pasal 2 ayat 1 Jo Pasal 18 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat (1) ke -1 KUHP. Bahwasannya, terdakwa terbukti tidak membuat pembukuan dan tidak rapat umum pemegang saham (RUPS) bersama dengan Pemerintah Daerah (Pemda) Touna. Olehnya, terdakwa Abubakar A Moh Amin divonis dengan pidana penjara selama 4 tahun dan denda senilai Rp200 juta subsidair 6 bulan kurungan, serta membayar uang penganti senilai Rp405 juta subaidair 8 bulan.

Putusan Majelis Hakim lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang menuntut terdakwa dengan pidana penjara selama 5 tahun, dan denda senilai Rp200 juta subsidair 6 bulan kurungan, serta membayar uang penganti senilai Rp405 juta subaidair 8 bulan.

Diketahui bahwa perkara ini merupakan pengembangan penyidikan perkara korupsi dana Perusda Touna sebelumnya yang mendakwa Direktur Utama (Dirut) Perusda Touna. Bahwasanya, persidangan sebelumnya ada petunjuk aliran dana Perusda Touna itu kepada terdakwa Abubakar A Moh Amin selaku Direktur Pengembangan, terutama terkait dengan suntikan dana ke anak Perusahaan, yakni PT Ampana Mandiri Property (AMP).

Bahwasanya, ada pencairan dana penyertaan modal senilai Rp 901 Juta lebih ke anak perusahaan, yakni PT AMP. Pascah dana penyertaan modal itu diberikan kepada PT AMP tidak ada keuntungan bagi perusahaan karena biaya operasional lebih besar dari laba yang diperoleh perusahaan. Setiap tahun wajib membuat laporan keuangan. Sehingga dari laporan itulah diketahui ternyata perusahaan tidak memperoleh keuntungan. Akibatnya, terjadinya kerugian negara senilai Rp901 juta.

Bahwasanya, pendirian anak Perusda Touna itu juga tidak melibatkan Badan Pengawas (Bawas) Perusda Touna. Keputusan untuk mendirikan anak perusahaan yang kemudian diberi nama PT AMP tersebut hanya kesepakatan tiga orang, yakni Abubakar selaku Direktur Pengembangan, Nudin Lasahido selaku Dirut dan Umar K Ato selaku Direktur Operasional.

Setelah membacakan putusan, baik terdakwa maupun JPU mengatakan pikir-pikir setelah Majelis minta tanggapan para pihak terkait putusan tersebut.

"Baik, waktu untuk menyatakan sikap selama tujuh hari. Apabila tidak menyatakan sikap dianggap menerima putusan," tegasnya.


Editor: Syamsu Rizal