Sunday, 27 May, 2018 - 01:20

Mantan Kades Serobot Lahan Warga

TAMBANG - Salah satu aktifitas tambang di Morowali Utara. Maraknya aktifitas pertambangan di wilayah itu kerapkali menimbulkan sengketa dan perebutan lahan. (Foto : Ist)

Kolonodale, Metrosulawesi.com - Sedikitnya 93 warga pemilik lahan persawahan di desa Tanasumpu, kecamatan Mamosalato, kabupaten Morowali Utara (Morut) resah. Pasalnya, penggusuran yag dilakukan oknum mantan kades Pandauke, Idrus Abd Fatah dengan menggunakan alat berat escavator belum menjadi perhatian serius pihak pemerintah kecamatan maupun aparat berwajib.
    
Penggusuran di lahan seluas 102 hektar yang diolah warga bertahun-tahun dan bersertifikat dari BPN dilakukan sepihak oleh mantan kades Pandauke dengan alasan bahwa lahan tersebut masuk wilayah tanah desa Pandauke. Padahal, berdasarkan peta yang dimiliki desa Tanasumpu dan Pandauke, lahan persawahan dimaksud masih berada di wilayah desa Tanasumpu.
    
Menurut Wahidin, salah satu tokoh masyarakat Desa Tanasumpu, peristiwa memalukan dan menciderai kekeluargaan yang dilakukan mantan kades Pandauke tersebut harus mendapat tindakan dan sanksi dari aparat kepolisian. Tindakan mantan kades Pandauke itu telah memporak-porandakan sawah warga yang notabene merupakan sumber mata pencaharian mereka dan sebulan lagi panen.
    
Pernah terjadi peristiwa di siang hari pada 10 September 2014 silam, mantan kades Pandauke mengancam ibu-ibu yang sedang membersihkan sawah dengan parang. Tak hanya itu, beberapa pondok warga dibakar mantan kades Pandauke bersama enam orang anggotanya. Anak usia 4 tahun yang berada di pondok, nyaris jadi sasaran keberingasan mantan kades Pandauke. Beruntung, sang ibu cepat menarik dan membawa lari anaknya keluar dari persawahan.
    
Menurut warga Desa Tanasumpu, sebelum kejadian hari itu, warga telah melaporkan ke pihak polsek Mamosalato bahwa ada rencana mantan kades Pandauke CS akan melakukan penyerobotan lahan persawahan warga. Sehingga, warga meminta agar dilakukan pencegahan. Tapi kata warga, tidak ada tanggapan.
    
"Bahkan dua kali kami melapor ke polsek agar ada upaya pencegahan awal, tapi pihak polisi tidak bertindak," kata seorang warga saat pertemuan Rabu malam (31/12) lalu.
    
Anehnya, saat warga bergerak ke lokasi persawahan, didapati oknum polsek bersama camat Mamosalato hanya diam tanpa mencegah dan menghentikan alat berat yang sudah menggusur tanaman padi warga. Warga yang sudah emosi melihat alat di tengah sawah mengejar operator escavator dan orang-orang bayaran mantan kades Pandauke.
    
Tak ayal, alat berat pun jadi sasaran luapan emosi warga. Mantan kades Pandauke saat mengancam dengan parang terhunus, terkesan dibiarkan camat dan oknum polisi. Ada warga berusaha melerai untuk tidak melawan karena jumlah warga jauh lebih banyak. Tiga buah parang milik mantan kades diamankan warga. 1 buah parang diserahkan ke polsek, dan 2 buah diserahkan ke polres Morowali. Alat berat digiring warga ke Mapolsek Mamosalato.

Pemilik escavator kemudian melaporkan 6 warga desa Tanasumpu sebagai pelaku pengrusakan. Mantan kades Pandauke, Idrus, ditangkap atas laporan pengancaman, namun akhirnya dibebaskan. Alat berat yang diamankan warga di Mapolsek tiba-tiba dikeluarkan. Ketika pihak polsek ditanya, kenapa alat dikeluarkan sementara masalah belum selesai, pihak polsek hanya mengatakan diperintah atasan dari polres untuk dipinjam-pakaikan.
    
Olehnya, warga sepakat menuntut keadilan atas penyerobotan lahan persawahan dengan memproses hukum mantan kades Pandauke, Idrus. Dia dituding sebagai dalang keresahan warga dan mencabik-cabik kedamaian dan ketenteraman desa Tanasumpu dan Pandauke. Dalam waktu dekat, warga desa Tanasumpu akan menggelar aksi demo di Mapolres Morowali sekaligus melaporkan kasus penyerobotan lahan yang dilakukan mantan kades Pandauke dan pemilik alat berat escavator.


Editor : Subandi Arya

Tags: