Saturday, 19 August, 2017 - 00:34

Mantan Kepala UT Palu Terancam Dijemput Paksa

ILUSTRASI - Korupsi. (Foto : Google images)

Palu, Metrosulawesi.com - Mantan Kepala Unit Program Belajar Jarak Jauh Universitas Terbuka (UPBJJ-UT) Palu Periode 2008-2014, Wira Indra Satya terancam dijemput paksa oleh Jaksa. Pasalnya, sudah tiga kali melayangkan panggil oleh penyidik Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Negeri Palu, tapi belum dipenuhi oleh tersangka Wira Indra Satya.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Seksi (Kasi) Pidsus Kejari Palu, Efrivel kepada Metrosulawesi, Selasa, 15 November 2016.

Efrivel menuturkan, berkas perkara dugaan tindak pidana korupsi dana wisuda dan upacara penyerahan ijazah (UPI) di Unit Program Belajar Jarak Jauh Universitas Terbuka (UPBJJ-UT) Palu tahun 2011/2012 sudah rampung.

Olehnya, penyidik agendakan tahap II dan selanjutnya berkas perkara tersebut segera dilimpahkan ke Pengadilan. Namun, hingga saat ini, tersangka Wira Indra Satya belum memenuhi panggilan penyidik. Dia hanya mengirimkan surat sakit jawaban, bahwa dirinya sedang sakit.

"Kami akan layangkan sekali lagi surat panggilan. Apabila tidak mengindahkan, dia akan dijemput paksa di Jakarta," ujarnya.

Efrivel mengatakan, ada dua tersangka dalam perkara ini, yakni mantan Kepala Unit Program Belajar Jarak Jauh Universitas Terbuka (UPBJJ-UT) Palu Periode 2008-2014, Wira Indra Satya dan Bendaharanya, Risna. Berdasarkan Surat Perintah Penyidikan (Sprindik) Nomor: 655/R.2.10/Fd.1/03/2016 tertanggal 18 Maret 2016, Wira Indra Satya sudah berstatus tersangka.

Tersangka Risna sudah melaksanakan tahap II dua, dan bahkan sudah dilimpahkan ke Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Palu. Sedangkan tersangka Wira Indra Satya ini selalu beralasan disaat penyidik melayangkan panggilan.
 
"Kami akan layangkan panggilan terakhir pada pekan ini. Apabila dia tidak datang lagi, dapat dipastikan untuk dijemput paksa," ujarnya.

Efrivel mengatakan, Risna dan Wira Indra Satya  ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi dana wisuda dan upacara penyerahan ijazah (UPI) di UPBJJ-UT Palu tahun 2011-2012. Selain bendahara umum, Risna juga menjabat sebagai bendahara pelaksanaan wisuda dan UPI di UPBJJ-UT Palu tahun 2011-2012, dengan total kerugian negaranya adalah kurang lebih senilai Rp 1 miliar.

Ia menuturkan, modus korupsi yang mereka lakukan adalah pungutan liar dan tidak menyetorkan dana wisuda ke UT Pusat saat melakukan wisuda dan UPI tahun 2011 dan 2012. Kala itu, UT Pusat menentukan bahwa setiap mahasiswa yang di wisuda hanya dibebankan biaya senilai Rp 625 ribu per mahasiswa. Namun, UPBJJ-UT Palu meminta kepada mahasiswa senilai Rp 1,5 juta. Artinya, terjadi dugaan pungutan liar. Kemudian, ketentuan membayar uang wisuda senilai Rp 625 ribu itu tidak semuanya disetorkan ke UT Pusat. Sehingga, pada point ini terjadi dugaan korupsi.

Jumlah mahasiswa yang wisuda dan UPI tahun 2011 adalah sebanyak 652 orang. Sedangkan jumlah mahasiswa yang wisuda dan UPI tahun 2012 adalah sebanyak  366 orang. Artinya, jumlah seluruh mahasiswa yang wisuda dan UPI tahun 2011 dan 2012 di UPBJJ-UT Palu adalah sebanyak 1018 orang.


Editor : Syamsu Rizal

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.