Friday, 17 August, 2018 - 15:51

Masyarakat dan DPRD Tolitoli Tolak Pergantian Nama Lapangan Hi Hayun

PROTES PEMKAB - Warga Desa Salumpaga Kecamatan Tolitoli Utara melakukan  protes atas rencana Pemkab mengganti nama Lapangan Hi Hayun dengan nama lain, Rabu 6 Desember 2017. (Foto : Ist)

Tolitoli, Metrosulawesi.com - Tokoh masyarakat dan warga Desa Salumpaga Kecamatan Tolitoli Utara Kabupaten Tolitoli mendatangi gedung DPRD Tolitoli Rabu 6 Desember 2017. Ratusan orang itu memprotes rencana pergantian nama Lapangan Hi Hayun dengan nama lain.

Sesuai rencana, pada perayaan HUT Tolitoli ke-57, nama Lapangan Hi Hayun akan berubah menjadi lapangan Gaukan Moh Bantilan sehingga menjadi Taman Kota GMB.

“Kita datang ke DPRD melakukan protes menolak adanya kabar pergantian nama lapangan Hi Hayun dengan nama lain,” kata Fikriayadi sebagai koordinator aksi.

Dalam penjelasannya, Fikriyadi mengatakan bahwa Hi Hayun adalah salah seorang imam sekaligus pejuang serta memiliki monumen di Sulteng. Sebab Hi Hayun adalah pejuang pada zaman penjajahan Belanda.

“Kami tegaskan akan lebih baik keluar dari Tolitoli dan pindah ke Buol, jika Pemerintah Daerah memaksakan akan mengubah nama lapangan Hi. Hayun,” tegas Korlap.

Dalam rapat dengar pendapat (RDP) di gedung DPRD yang dipimpin oleh Ketua DPRD Tolitoli Andi Ahmad Syarif bersama 7 fraksi gabungan yang ada di DPRD mengatakan secara kelembagaan mendukung apa yang menjadi tuntutan tokoh masyarakat bersama warga Desa Salumpaga.

"Dari 8 fraksi yang ada di DPRD ada 7 fraksi yang menolak dan kita tetap akan mengeluarkan rekomendasi yang intinya menolak adanya pemberian nama lain di lapangan tersebut,” tegas Andi Ahmad Syarif.

Dia menjelaskan bahwa pihaknya secara kelembagaan dengan tegas menolak pergantian nama tersebut, sebab DPRD juga merupakan lembaga yang memiliki kewenangan mengawasi pelaksanaan roda pemerintahan yang ada di daerah.

Sementara itu Ketua Fraksi Partai Nasdem Hi Muslimi DPRD juga menyatakan menolak jika lapangan tersebut berganti nama. Pantauan media ini, Rapat Dengar Pendapat (RDP) berlangsung alot. Massa aksi meminta pimpinan rapat menghadirkan Bupati Tolitoli, Saleh Bantilan.

Alhasil yang hadir adalah Asisten III Sekretariat Daerah, Abdillah Gafar. Asisten III menjelaskan belum bisa memberikan penjelasan pasti namun pihaknya tetap menampung aspirasi masyarakat yang menolak adanya isu pergantian nama lapangan Hi Hayun untuk disampaikan kepada Bupati Tolitoli.

Pemkab Tak Hargai Sejarah

Terpisah, Rusmin H.Hamzah,SH.MH, tokoh pemuda Desa Salumpaga yang dimintai tanggapannya terkait rencana itu, tegas menyatakan menolak langkah Pemerintah Kabupaten Tolitoli yang akan mengubah nama lapangan H.Hayun di Tolitoli tersebut.

Menurut Rusmin, rencana pergantian nama lapangan tersebut, menunjukkan bahwa Pemerintahan Kabupaten Tolitoli di bawah kepemimpinan Bupati Saleh Bantilan adalah tidak menghargai sejarah atau telah melupakan sejarah.

“Saya berharap agar fraksi-fraksi yang ada di DPRD Kabupaten Tolitoli tetap konsisten dengan rekomendasinya yang menolak perubahan tersebut,” kata Rusmin.

“Pertanyaan sederhana, apa perlu dan pentingnya perubahan nama lapangan tersebut untuk Kabupaten Tolitoli?” tanya Rusmin.

Pemerintah kata Rusmin, tidak boleh seenaknya melakukan perubahan.

“Coba tanya kepada masyarakat, apakah ada usulan dari masyarakat  yang melalui mekanisme meminta perubahan pergantuan lapangan Haji Hayun tersebut? Saya meyakini itu tidak ada,” kata warga asal Desa Salumpaga itu.

Sebagai catatan katanya, boleh dibuka kembali buku "Mengenal Buol Tolitoli", buku yang disusun sejak tanggal 4 Januari 1983 pejabat Bupati Bapak Eddy Soeroso menerbitkan Surat Keputusan Nomor HUK.2/1/20 tentang Pembentukan Panitia Penyusunan Sejarah Kabupaten Daerah Tingkat II Buol Tolitoli.

Pada Bab III halaman 83 alinea ke 6 jelas menuliskan: "Sebagai penghormatan atas pengorbanan para pahlawan bangsa tersebut, setiap orang di Kabupaten Buol Tolitoli tak akan lupa dan bahkan mengenal baik nama Salumpaga. Haji HAYUN sendiri yang merupakan pimpinan rakyat, namanya kini diabadikan untuk nama sebuah lapangan: Lapangan Haji Hayun yang kini terletak persis di depan Kantor Pemerintah Daerah Tingkat II Buol Tolitoli di jalan Jenderal Sudirman Tolitoli".

Secara de facto katanya, penamaan lapangan sudah jelas ada garis sejarah, sehingga tidak perlu mengganti nama lapangan di tengah kota, jika memang harus ditetapkan menggunakan Perda ataupun Surat Keputusan Kepala Daerah, maka gunakan saja nama yang sudah ada, karena ada historis penamaan, sehingga tinggal di legitimasikan saja oleh Pemda. (din/aco)


Editor : Udin Salim