Sunday, 17 December, 2017 - 16:16

Masyarakat Kupang Disarankan Budidaya Kelor

Kelor. (Foto : Ist)

BAGI MASYARAKAT Lembah Palu, Kelor menjadi sayur nomor satu. Bahkan, seolah Kelor menjadi identitas masyarakat asli lembah Palu, Etnis Kaili.
 
Tapi, demi mengetahui segala yang terkandung dalam tumbuhan, yang sering jadi analogi pergaulan ini, salah satu media di Kupang – Nusa Tenggara Timur, vnewsmedia.com, menjadikan Kelor sebagai pembahasan khusus dalam editorialnya, yang terbit pada 15 Juli 2015.

Inilah isi editorial, milik salah satu senator DPR-RI asal Dapil NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat itu, yang diberi judul “Kelor yang Ajaib”.

Dunia kesehatan tengah tergila-gila dengan kelor. Mulai dari Eropa, Amerika hingga Afrika gencar meneliti dan membudidayakannya. Afrika pun memberangus gizi buruk dengan kelor. India tak ketinggalan dengan memasukkannya sebagai salah satu riset utama di National Institute of Nutrition. Mereka serius meneliti karena keajaibannya; sarat khasiat bagi ketahanan tubuh dan penangkal berbagai penyakit. Diabetes dan kanker masuk kategori pembunuhannya.
 
Bagi orang NTT, kelor tentu tidak asing. Ia bertumbuh subur dan mudah ditemukan di kebun-kebun, pinggiran jalan hingga halaman rumah. Sayang, tidak semua orang paham dan tahu manfaatnya. Editorial ini kiranya sedikit memberi informasi yang bermanfaat bagi pembaca soal khasiat kelor bagi kesehatan tubuh manusia di tengah gemparnya problem gizi buruk dan kelaparan, termasuk penyakit-penyakit yang menimpa masyarakat NTT.
 
Akar, daun, buah, bunga, biji hingga kulit batang kelor, semuanya bermanfaat. Ia mengandung 46 antioksidan seperti vitamin A, C, K, B, B1, B2, B3, B6 dan seterusnya. Ia mengandung berkali-kali lipat hingga puluhan kali lipat nutrisi dari buah-buahan dan sayur-sayuran lainnya. Singkat cerita, kelor memberi kita banyak manfaat. Dari proteksi terhadap penyakit hingga ketahanan tubuh. Karenanya, kelor bisa jadi opsi lain untuk dikembangkan.
 
Tanah Timor bisa jadi tanah terjanji bagi kelor. Untuk itu, seluruh pemkab dan Pemprov bisa mengambil peluang terbaik ini. Di Eropa, Amerika dan Afrika kelor telah diolah secara modern menjadi obat herbal, minuman sehat seperti maringo tea (teh marunggai atau teh kelor) dan lain sebagainya. Ia jadi konsumsi primadona karena khasiatnya bagi kesehatan. Bagi NTT, budidaya kelor paling tidak bisa memenuhi kebutuhan gizi masyarakat dan menjadi alternatif makanan sehat.
 
Kita mendorong agar kelor menjadi salah satu ikon NTT. Dengan kelor Flobamorata tidak lagi menjadi tanah terkutuk karena kelaparan, busung lapar dan gizi buruk. Keliru bila ada yang menganggap kelaparan dan gizi buruk di NTT adalah kutukan alam. NTT itu taman firdaus kendati masih banyak potensinya belum tersentuh pengetahuan para penghuninya. Salah satu isi taman firdaus itu adalah marunggai. Tatkala Eropa, Amerika, Afrika, dan India bersusah payah membudidayakannya, NTT justru jadi surga kelor. Mari menanam dan memanfaatkannya.

Sumber : vnewsmedia.com

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.