Monday, 21 August, 2017 - 01:27

Menelusuri Desa Wisata dan UKM Binaan BI di Yogyakarta

WISATA KREATIF - Rombongan wartawan Palu bersama BI saat mengunjungi berbagai tempat wisata dan kelompok binaan BI di Yokyakarta. (Foto : Ist)

Dulu Tertinggal, Kini Berpenghasilan Rp25 Juta/Bulan

Usaha masyarakat di sejumlah desa di Yogyakarta mencengangkan. Betapa tidak, dari usaha itu mereka bisa menghasilkan puluhan juta rupiah dan mampu menarik ribuan pengunjung per bulan. Berikut laporan Wartawan Metrosulawesi yang baru saja mengunjungi Yogyakarta bersama Bank Indonesia.

BANK INDONESIA (BI) Perwakilan Sulawesi Tengah Minggu 26 Februari hingga Selasa 28 Februari 2017 lalu mengajak sejumlah wartawan dari Kota Palu berkunjung ke sejumlah daerah di Yogyakarta, khususnya ke daerah-daerah yang memiliki usaha kecil binaan bank sentral tersebut. Salah satu wartawan yang turut serta adalah wartawan Metrosulawesi. Di sana rombongan mengunjungi berbagai daerah yang tengah berkembang dengan pusat wisatanya, baik wisata alamnya maupun wisata industri kreatif.

Memulai perjalanan dari salah satu hotel di kawasan Jalan Malioboro, rombongan langsung mengunjungi wilayah di Kabupaten Gunung Kidul. Tujuannya  Desa Nglanggeran, Kecamatan Pathuk, Kabupaten Gunungkidul, Yokyakarta. Di sana rombongan diajak mengunjungi Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba.

Sesampai di lokasi, langsung disajikan pemandangan yang sangat luar biasa elok, jajaran bebatuan yang membentengi desa Nglanggeran membuat kami takjub. Selain pegunungannya, masih banyak spot alam tujuan wisata yang sangat menarik di sana. Namun yang menarik perhatian kami adalah  ‘Embung’ atau semacam telaga buatan manusia.

Embung Nglanggeran disebut-sebut sebagai salah satu tempat terbaik untuk menyaksikan sunset di langit Yogyakarta, kota budaya itu. Permukaan airnya biru kehijauan, gugusan gunung api purba di sisinya menambah elok ukiran alam di sana. Sayang rombongan tidak sempat melihat sunset, karena harus melanjutkan perjalanan.

Embung Nglanggeran sendiri letaknya sekitar 1,5 km dari jajaran Gunung Api Purba Nglanggeran yang sudah banyak dikenal. Embung Nglanggeran terletak di puncak bukit, harus mendaki puluhan anak tangga yang berkelak-kelok, dihasi berbagai tulisan di plang-plang kecil, ada yang bertuliskan ‘dilarang melempar’ dan sebagainya.

Menurut Sekretaris Sadar Wisata Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba Nglanggeran, Sugeng Handoko, yang menjadi pemandu rombongan BI Sulteng dan wartawan tersebut, sebelum dibangun menjadi embung dan diresmikan oleh Sultan Hamengkubuwono X sekitar 2013 lalu, tempat ini dulunya adalah sebuah bukit bernama Gunung Gandu.

Embung tersebut dibuat untuk dijadikan telaga tadah hujan agar bisa mengairi kebun buah rakyat di sekitarnya. Selain berasal dari air hujan, embung ini juga menampung air dari sumber Gunung Nglanggeran.

“Ya, Embung ini untuk mengairi, karena kita tengah membudidayakan duren dan beberapa tanaman lainnya di sini,” ungkap pria asli Nglanggeran itu.

Ada banyak pohon buah yang ditanam di sekitar embung, mulai pohon durian, mangga, rambutan, dan pohon-pohon lainnya. Namun saat ini pohon-pohon tersebut baru berusia 3 sampai 4 tahun.

Ya, selain menarik minat kunjungan wisata dengan menjual keindahan alamnya, pihak pengelola objek wisata tersebut juga berusaha mengangkat objek wisata melalui industri lokal dengan memanfaatkan hasil buminya, termasuk melalui durian dan buah-buah lainnya yang mulai diberdayakan di sana.

Yang sudah mulai berjalan saat ini misalnya, di sana telah diterapkan pengelolaan kakao. Dimana hasil bumi tersebut dikelola oleh masyarakatnya sendiri menjadi produk jadi.

Memang, salah satu produk unggulan daerah yang sedang popular saat ini di Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta tersebut adalah komoditas kakao atau dikenal dengan istilah cokelat, Gunungkidul merupakan sumber penghasil kakao ke-2 di DIY, yang memiliki luas tanaman kakao sebesar 902 hektare, dan menyebar di 5 kecamatan, Patuk, Karangmojo, Gedangsari, Ponjong  dan  Nglipar.

Menurut pihak BI Yokyakarta Mahmudi yang mendampingi kami saat itu, Kakao merupakan salah satu komoditas perkebunan yang mempunyai peranan cukup penting dalam perekonomian Gunungkidul, khususnya sebagai penyedia lapangan kerja, sumber pendapatan daerah.

“Saat ini luas areal tanaman kakao di Gunung Kidul mencapai 1.116,7 hektare dengan produksi rata-rata 0,75 ton per hektare dengan melibatkan 8.752 kepala keluarga tani,” katanya.

Olehnya, pihak pengelola wisata di sana pun memanfaatkan hal tersebut, selain menyiapkan lokasi wisata alam, wisata industri pun diperkenalkan ke para pelancong.

Untuk mendukung hal tersebut, Bank Indonesia sendiri telah memfasilitasi petani kakao dan salah satu gapoktan, Kumpul Makaryo Desa Nglanggeran, agar dapat meningkatkan produksi dan diversifikasinya, baik dalam bentuk bantuan teknis maupun bantuan fisik pendukung.

Bantuan Rumah prduksi dan pemasaran sekaligus sebagai kantor sudah dibangun di Desa Nglanggeran yang dapat dikelola secara profesional.Pembangunan tersebut untuk mendorong peningkatan produksi dan olahan kakao, baik dari sisi kuantitas maupun kualitasnya serta kapasitas penjualannya.

“Nglanggeran merupakan salah satu wilayah sumber penghasil kakao terbesar di Kabupaten Gunung Kidul sedang digalakkan dengan berkolaborasi optimalisasi situs wisata Gunung Purba Nglanggeran yang ada di wilayah Kecamatan Patuk sebagai kawasan wisata terpadu. Upaya ini sebagai bentuk perpaduan potensi sektor agro dengan berbagai komoditas termasuk kakao dengan pengembangan situs untuk mendukung pariwisata yang dikemas dalam pola agrowisata dan technopark oleh BPTP DIY dengan anggaran APBN,” ujarnya.

Pencapaian usaha coklat tiap bulan mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Hal ini didukung oleh pemasaran produk coklat yang ditujukan bagi para pengunjung parisiwata Gunung purba dan Embung Nglanggeran yang tentunya tidak meninggalkan akses pasar lainnya.

Prestasi lainnya, saat ini bersama dengan pengurus desa wisata Nglanggeran mendapatkan penghargaan sebagai desa wisata se Asean di Singapura dan telah menjadi tujuan studi banding daerah lain yang akan mengembangkan komoditas coklat daerahnya masing-masing.

“Kemajuan dan Keberhasilan klaster tersebut dulunya tidak sebanding seperti sekarang ini yang sudah profesional, pada saat itu banyak ditemukan kendala-kendala yang dihadapi mulai perilaku SDM yang masih kurang mendukung usaha kakao, manajemen kelembagaan belum tertata, sarana prasarana pendukung belum memadai, produk yang dihasilkan petani belum diolah sendiri, teknologi belum tersentuh dan jaringan pemasaran terbatas,” katanya.

Dengan latar belakang tersebut, Kantor Perwakilan Bank Indonesia DIY terdorong untuk membantu dan memfasilitasi kendala-kendala yang dihadapi tersebut. Didasari filosofi dari, untuk dan oleh masyarakat Nglanggeran upaya yang dilakukan untuk meningkatkan daya saing produk dan daya tawar petani adalah penguatan kelembagaan petani dengan pendekatan integrasi hulu hilir produksi kakao/coklat dengan melibatkan suluruh unsur maysarakat dari petani, kelompok hingga gapoktan dengan penjualan satu pintu melalui manajemen griya cokelat

Komoditas kakao/coklat telah dikelola oleh salah satu komunitas usaha berbasis masyarakat yang bernama manajemen griya cokelat yang dibentuk olah gapoktan Kumpul Makaryo yang memiliki 645 anggota anggota petani, 5 kelompok tani, dengan luas lahan yang digarap 40 hektare.

Menurut Sugeng yang juga koordinator manajemen Griya Cokelat (tempat olahan dan penjualan produk kakao di sana), model usaha Griya Cokelat telah menghidupkan tataniaga yang berpihak kepada masyarakat lokal.

Implementasi inovasi teknologi pengolahan dilakukan dengan menggandeng LIPI Yogyakarta yang memiliki kompetensi teknologi olahan kakao menjadi berbagai jenis produk olahan.

“Di Griya Cokelat bajetnya bisa mencapai Rp 25 juta perbulan,” katanya.

“Dulu daerah ini sangat tertinggal, masyarakatnya rata-rata hanya bertani dan mencari kayu arang. Namun sepuluh tahun terakhir semuanya perlahan berubah. Diawali dari kemauan masyarakat di sini untuk mengelola menjadio tujuan wisata, kemudian akhirnya di dukung oleh pemerintah,” jelas Sugeng.

Menurut ketua Gapoktan, Hadi Purwanto dulunya petani hanya menjual biji kakao, saat ini telah dikembangkan berbagai varian produk olahan kakao yang bernilai ekonomi tinggi dibanding menjual biji kakao.

“Saat ini terdapat berbagai macam olahan produk kakao yang telah dijual antara lain produk chocomic coffee, chocomix ice, chocomix clasic, dodol,” imbuh Hadi Purwanto.

Sebelum program dilaksanakan, KPw Bank Indonesia DIY mengajak Pemerintah daerah Gunungkidul dan Lembaga Ilm Pengetahuan (LIPI) melakukan pendataan permasalahan yang ada dari hulu hingga hilir (rantai nilai). Permasalahan yang teridentifikasi antara lain di level petani, masalah yang teridentifikasi adalah budidaya kakao yang masih dianggap kegiatan sampingan dan dijual dalam bentuk biji.

Di level Gapoktan, masalah yang dihadapi adalah terbatasnya kemampuan advokasi terhadap kebutuhan petani. Sementara di bidang pemasaran, masalah yang dihadapi adalah harga biji yang belum kompetitif dan rendah.

Kemudian masih rawannya komitment dari semua pihak untuk maju bersama, baik dari level petani sampai manajemen gapoktan.

“Dari sisi lainnya kami juga dorong inovasi produk olahan-nya. Tentunya untuk menjaga dan meningkatkan nilai ekonomis produk kakao”, ungkap Kepala Bank Indonesia DIY Arief Budi Santoso.

“Kami juga memfasilitasi alat produksi, pengelolaan yang higienis dan lain sebagainya,” jelasnya.

Ada beberapa aspek yang ditekankan oleh Bank Indonesia untuk mendorong komoditas kakao ini, antara lain dari aspek produksi, pemasaran dan kelembagaannya.

“Agar petani kakao optimal dalam menikmati hasil usahanya, kami dorong penguatan manajemen kelembagaan yang diberi nama menejemen Griya Cokelat dan peningkatan kompetensi SDM agar komoditas ini dapat dikelola secara professional yan berorientasi jangka panjang dan berkelanjutan,” Imbuh Arief.

Dengan pendampingan yang dilakukan oleh berbagai stakeholders, maka ke depan diharapkan kegiatan usaha kakao semakin besar dan kuat, tumbuh serta berkembang hingga mandiri. Tujuannya adalah agar kesejahteraan petani kakao meningkat melalui kemandirian usaha dan peningkatan produksi, kualitas olahan, pemasaran dan penguatan kelembagaan tercapai.

Produk olahan kakao masyarakat di sana mudah terjual, pasalnya produknya dijual ke pengunjung wisata, karena letak Gryia Cokelat atau semacam Rumah Cokelat di Palu itu, letaknyapun masih di daerah tujuan utama wisman di Gunungkidul, selain itu mereka juga menjualnya ke luar daerah.

Selain mengunjungi daerah tersebut, rombongan juga mengunjungi daerah wisata kreatif. Kami mengunjungi binaan BI yang bergerak di bidang industri kreatif pengrajin tenun bukan mesin di Desa Sumberrahayu, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Tepatnya di Dusun Gamplong, daerah ini pun menjadi tujuan wisata, khususnya wisata kreatif. Tidak sedikit pelancon datang ke sini untuk melihat, membeli maupun belajar langsung cara pembuatan kain tenun, baik yang sudah jadi maupun olahan dasarnya.

Berbagai hasil kerajinan tangan bisa ditemui di Showroom Bersama milk binaan BI tersebut, seperti tas hingga hiasan rumah hasil tenun masyarakat lokal. Penjualanya tidak hanya di daerah sekitar, bahkan telah diekspor hingga ke berbagai negara.

Agar Sulawesi Tengah bisa mengembangkan daerah ini melalui kearifan lokal, hasil bumi dan kekayaan alamnya, sepertinya sangat perlu belajar dari daerah ini.

“Dulunya daerah kami dikenal sebagai salah satu daerah yang sangat tertinggal, dan kehidupan masyarakatnya sangat sulit, namun saat ini semuanya telah berubah,” kata Sugeng. (*)


Editor : Udin Salim

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.